Leila Mona Ganiem

My Writings, Dreams, Thought and Love

Monday, November 26, 2007

Guru, anda adalah cahaya dunia

Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem

Manusia indah itu bernama Pak Danu. Dia Guru, profesi sampingan, tukang ojek. Menarik penumpang usai mengajar. Pendapatan mengojek ’lebih besar sedikit’ dari mengajar. Tapi komitmennya yang tinggi, tidak membuat dia mengkonsentrasikan seluruh waktunya buat mengojek. Karir yang dicintainya adalah menjadi guru. Perasaannya sangat peka pada perkembangan anak-anak didiknya. Saya berkaca-kaca mendengarkan gagasan besarnya. Pak Danu bilang, ”Murid di sekolah itu bagai berkah bagi saya untuk menabung amal. Saya ingin mereka semua jadi orang. Boleh jadi dokter, pejabat, pengusaha, dosen, apa saja. Tapi, sebaiknya tidak tukang ojek. Kalau mereka jadi ’Seseorang’, saya sangat luarbiasa bangga. Meski tidak perlu dia mengaku saya pernah berjasa baginya. Bagi saya cukup, Allah yang membalas.”

Oh Guru, begitu besar jasamu. Hampir dapat dikatakan, di alam modern ini, tidak ada orangpun yang tidak tersentuh oleh keindahan jasa Guru. Manusia hebat ini menyatu dalam keseharian kita. Memiliki ruang penting dalam kehidupan kita. Bersama menemani proses perkembangan kita sebagai manusia dewasa.

Waktunya mungkin beragam. Tiga tahun, hingga lebih dari dua puluh tahun kita mendapat bimbingan guru. Dalam kurun waktu itu, guru menyemaikan nilai-nilai hidup. Dengan penuh cinta. Tampaknya tanpa cinta, tidak banyak orang memilih karir sebagai guru. Karena umumnya ketika seseorang membuat keputusan karir, mereka telah memikirkan konsekuensi yang melekat dengan peran yang diambilnya. Mari kita simak kata-kata Kahlil Gibran:”Bekerja dengan cinta, berarti menyatukan diri dengan dirimu sendiri, dirimu dengan orang lain dan dirimu dengan Tuhan. Bekerja dengan cinta, bagaikan menenun kain, dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak’. Renungkan lagi ungkapan tulus Pak Danu, tidakkah semua itu ada disana?

Guru memiliki andil besar dalam pembentukan watak suatu bangsa. Kata Guru sendiri yang oleh orang Jawa diartikan digugu lan ditiru, adalah suatu pernyataan penghormatan besar pada jasa guru. Jiwa itulah yang mungkin mengisi filosofi pemikiran pembentukan kata ’guru’. Barangkali betul kata-kata bijak ini, ’dari sejarah kita tahu bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah’. Dari sejarah kita tahu bahwa guru memiliki andil besar pada ayah ibu kita, dokter, ahli komputer, gubernur, presiden, kenyamanan teknologi dan kemudahan yang kita nikmati ini. Konstribusi dan integritas penuh orang-orang seperti Pak Danu inilah yang kita rasakan. Tanyalah pada diri kita, seperti apa penghargaan kita pada mereka? Di mana tempat mereka di hati kita. Adakah kita atau anak-anak kita mengolok-olok guru sebagai bahan menarik untuk dikritik atau ditertawakan? Adakah kita memberi waktu sekedar menyapa dan berminat mendengarkan dia bicara? Adakah kita menyisakan rezeki kita untuk sekedar membuat dia merasa mendapat tempat di hati kita?

Coba bayangkan, bila guru sepenuhnya digantikan dengan teknologi. Internet atau world wide web memiliki kecanggihan dalam menyajikan informasi yang kita butuhkan, bahkan lebih beragam dan komprehensif datanya. Namun sejujurnya bersediakah bila teknologi tersebut sepenuhnya ada dalam ruang belajar anak-anak kita? Tidak ada kata-kata mengingatkan dan bimbingan personal lainnya seperti yang bisa kita dapat dari guru? Pada pendidikan orang dewasa, hal ini memungkinkan, setelah mereka cukup menerima sentuhan personal dan profesional guru. Tidak demikian pada masa perkembangan mereka. Kehadiran guru tetap dibutuhkan.

Tulisan singkat ini adalah untuk menyatakan betapa bangsa ini berhutang pada guru.. Sudah selayaknya guru mendapat tempat lebih terhormat di masyarakat, di keluarga kita, di hati kita. Guru telah banyak meluangkan waktu untuk menginspirasi kita. Kitapun banyak terinspirasi oleh karyanya. Berilah tempat, waktu atau hati, untuk menghargai mereka. Guru-guru kita, guru-guru anak kita. Dengan cara apapun yang kita bisa.

Guru, Anda adalah cahaya dunia. Teruslah memancarkan sinarmu.


Labels: ,

Menyelesaikan konflik pasangan perkawinan campuran

“Kutu buku merenung

mengapa para penulis tidak memakan bukunya saja.”

Penyair Bengali, Rabindranath Tagore

Saya terpikat oleh syair diatas. Begitu inspiratif. Jadi, bagi kutu buku, buku adalah menu lezat, dan bodoh sekali penulis yang sudah habiskan waktu menulis bagus, tapi tidak menyantapnya. Itulah perspektif. Cara pandang seseorang akan kebenaran dan ketidakbenaran. Coba lihat contoh ini, bagi orang individualis, bila ada masalah, datang saja ke pengacara atau psikolog. Sangatlah logis karena mereka ahli dibidang itu. Bagi orang kolektifis, bila ada masalah, hubungi orang tua atau yang dituakan, karena mereka sumber kebijaksanaan. Yang mana yang benar? Jawabannya, lihatlah syair diatas.

Tulisan ini sesungguhnya dapat lebih bermakna bila anda telah membaca tulisan saya sebelumnya, yaitu ”Perkawinan Campuran Indivualis-Kolektifis”. Namun sekilas, saya urai lagi apa itu individualis dan kolektifis. Orang individualis adalah orang yang cenderung memperhatikan diri sendiri dibandingkan masyarakat dimana dia berada. Jika anda tidak merasa perlu mengundang banyak orang ketika perkawinan (bukan karena faktor legal atau menghindari aib), anda individualis. Jika dari kecil anda jarang berhubungan dengan kakek, nenek, paman, bibi, sepupu (hanya acara tertentu dan sesekali saja), anda berasal dari keluarga individualis. Jika ketika anda memilih pasangan hidup, anda tidak merasa perlu saran orang tua, anda individualis.

Orang kolektifis, adalah orang yang hidup di dalam masyarakat yang kepentingan kelompoknya lebih mengemuka dibandingkan pada kepentingan individunya. Bagi mereka, kelompok adalah sumber utama dari identitas diri. Jika ketika kecil anda cenderung tinggal dengan nenek kakek, paman, bibi, pembantu dan saudara lainnya, biasanya itu keluarga kolektifis. Jika anda merasa perlu berbagi pendapatan anda dengan keluarga besar, anda penganut kolektifis. Jika anda merasa perkawinan adalah kontrak dengan keluarga, bukan hanya dengan diri pasangan, anda kolektifis.

Dari beberapa riset kita temukan bahwa perkawinan campuran cenderung lebih berpotensi menimbulkan konflik dibandingkan perkawinan dalam budaya sama. Kita berbagi hidup dengan pasangan. Setiap tindakan kerap diilhami oleh subjektifitas diri. Tapi karena hidup ini berbagi, banyak kegiatan dilakukan atau melibatkan kesadaran bersama. Apa yang dianggap normal oleh satu pihak, mungkin tidak normal bagi pihak lain. Bagi seseorang, melalui hidup secara rutin dengan cara tertentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi bagi pasangan yang berbeda budaya, situasi tadi, jadi baru, dan melaluinya dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Komunikasi adalah media yang dapat menciptakan atau mengatur konflik. Melalui komunikasi jualah, kita membuat hubungan kita dengan pasangan menjadi konstruktif atau destruktif.

Untuk tulisan ini, saya mendata sumber konflik pada perkawinan campuran. Dari riset-riset terdahulu konflik yang timbul seputar: nilai-nilai; makanan & minuman atau perbedaan kebiasaan makan; perbedaan persepsi antara peran pria dan wanita; waktu misalnya persepsi akan waktu luang; penggunaan bahasa, tempat tinggal; politik; kelas sosial; agama; cara membesarkan anak; etnosentrisme; keluarga dan lingkungan seperti ipar, mertua, teman; realitas kehidupan sehari-hari; prasangka; stereotype, dll.

Beberapa contoh semoga dapat menjelaskan lebih praktis. Bila diundang keacara keluarga kolektifis, pasangan individualis yang merasa punya pekerjaan lain, akan dengan jelas mengatakan ’tidak bisa’. Anggota kolektifis, bisa jadi merasa bahwa ketidakhadirannya keacara keluarganya, bisa beresiko menjadi bahan perbincangan bersama. Situasi ini dapat menimbulkan konflik diantara mereka. Contoh lain, seorang teman, Retno, bercerita bahwa pacarnya, John, memanggil ibu Retno, langsung pada nama, Hasanah. Semua kaget. Keluarga Retno bahkan sempat menyimpulkan John tidak beretika dan tidak layak menjadi menantu. Ajaran orang tua John sejak kecil, mengatakan hal itu sah-sah saja. Awalnya Retno bingung, diam, dan merasa risih membicarakan hal itu. Lambat-laun dijelaskannya pada John mengenai masalah ini. John, akhirnya memilih memanggil ’Ibu Hasanah’, meski merasa canggung dan geli.

Pertanyaan berikutnya adalah, adakah perbedaan antara orang individualis dan kolektifis, bila mereka menghadapi masalah? Menurut Ting Toomey (1985), anggota dari budaya individualis lebih melihat konflik sebagai alat untuk menyatakan sesuatu dari pada ekspresi. Sebaliknya pada budaya kolektifis memandang konflik sebagai suatu ekspresif daripada alat. Ada kecenderungan tingkah laku dalam menghadapi konflik bervariasi antarbudaya. Orang dalam budaya individualis lebih tampak konfrontatif dan langsung. Anggota budaya kolektifis lebih memilih untuk tidak langsung dan kurang konfrontatif. Anggota kelompok individualis cenderung melihat konflik sebagai masalah jangka pendek dan kelompok kolektifis melihat konflik sebagai hal yang jangka panjang.

Pasangan Purnomo dan Joan, memiliki masalah dalam membesarkan anak. Joan mengingatkan anaknya agar berhati-hati ketika berpacaran, jangan sampai hamil, karena anaknya belum cukup umur dan akan merepotkan nantinya. Purnomo tidak sekedar melihat masalah pada konteks hamil atau tidak, namun lebih dari itu, yaitu pada aib keluarga, termasuk keluarga besarnya yang memang kurang setuju dia kawin dengan bule. Perdebatan terjadi diantara mereka. Joan bahkan menyarankan pengunaan alat kontrasepsi pada anaknya bila akan kencan dengan temannya. Purnomo menganggap hal itu sudah sangat ekstrim. Perbedaan cara pandang diantara mereka tidak mudah diselesaikan. Alternatifnya kedua pihak bersedia menganalisa masalah hingga keprinsip mendasar, budaya (agama dapat dikategorikan sebagai budaya).

Ting-Toomey (1994) menawarkan strategi menarik dalam beradaptasi dengan pasangan beda budaya. Jika kita kolektifis, memiliki pasangan individualis, maka kita dapat mengasah kepekaan terhadap pasangan dengan cara sebagai berikut. Pertama, kita perlu mengenali bahwa individualis sering membedakan konflik dari orang ketika mereka menghadapi konflik. Baginya, kesal pada pasangan, adalah pada perilakunya, bukan orangnya.

Kedua, orang kolektifis perlu lebih memfokuskan pada isu utama dari konflik, dibandingkan pada perasaan. Ketiga, kolektifis sebaiknya berbicara dengan gaya tegas, dan langsung, tidak berputar-putar, ketika berhadapan dengan konflik. Sebaiknya gunakan "pesan saya" untuk menyatakan pendapat dan perasaan anda.

Keempat, kolektifis ketika merespon pasangan, sebaiknya mempersiapkan pesan dalam kata-kata daripada sikap seperti diam, kesan muka tidak senang, dll. Hal ini karena orang individualis tidak terlalu menganggap diam atau hening dalam komunikasi mereka. Kelima, kolektifis sebaiknya menghadapi konflik bilamana ada daripada menghindarinya.

Jika kita individualis, memiliki pasangan kolektifis, ada beberapa saran yang dapat diterapkan. Pertama, individualis perlu untuk mengingat bahwa kolektivis melihat dirinya saling bergantung dengan orang lain, bukan individu yang individualis. Sebaiknya ketika membuat keputusan, pikirkan dampak sosial dari pasangan.

Kedua, individualis sebaiknya mencoba untuk menghadapi konflik ketika hal itu konflik masih kecil daripada menunggu hingga menjadi isu yang besar. Dan memahami bahwa kelompok kolektifis mungkin ingin menggunakan pihak ketiga sebagai penengah konflik. Misalnya mereka akan lebih membutuhkan orang tua atau kerabat, dalam menengahi masalah, dibandingkan menuju ke pengacara atau institusi hukum.

Ketiga, individualis sebaiknya membantu kolektifis untuk menjaga muka ketika sedang berkonflik dengan tidak menghina atau mempermalukan di depan publik. Ini penting sekali bagi kolektifis. Keempat, sebaiknya individualis lebih peduli pada sikap tubuh, ekspresi, penjagaan jarak, dll dari kelompok kolektifis. Umumnya mereka tidak mengekspresikan pendapatnya seara terbuka.

Kelima, individualis perlu mendengarkan ketika kolektifis berbicara. Keenam, individualis perlu menggunakan pesan tidak langsung lebih banyak dari yang biasa mereka lakukan misalnya seperti pengguanaan kata "mungkin" atau "barangkali" daripada secara jelas mengatakan "tidak". Ketujuh, individualis sebaiknya membiarkan konflik begitu saja ketika kolektifis tidak ingin membahasnya (misalnya ketika pasangannya memilih strategi penghindaran).

Kesediaan untuk mengatur yang konstruktif dapat membantu mempertahankan dan meningkatkan kualitas hubungan kita dengan pasangan. Namun demikian bila konflik tidak dikelola dengan baik, dapat merusak hubungan. Beberapa saran berikut ini saya cuplik dari Gibb (1961), semoga dapat mencairkan konflik tersebut.

Pertama, ketika menghadapi konflik, sebaiknya kedua pihak lebih deskriptif dalam menyatakan permasalahan, dibandingkan memberi pernilaian. Kedua, berorientasi pada masalah dan menunjukkan keinginan untuk mencari solusi. Ketiga, spontan, daripada terkesan berstrategi atau menutup-nutupi sesuatu. Keempat, menunjukkan empati. Kelima, merasa sejajar. Keenam, terbuka pada pandangan orang lain dan bersedia melakukan eksperimen pada pandangan yang diperlukan.

Kesan yang indah meski ketika berkonflik akan membawa berkah bagi hubungan. Sikap pada pasangan yang mencerminkan "bagiku, kamu ada", "kita berkaitan", "bagiku, kamu penting" dan "cara kamu menjalani hidup itu layak". Sebaliknya sikap pesan yang akan mengganggu hubungan adalah "bagiku, kamu tak ada", "kita tidak ada kaitan", "bagiku, kamu tidak penting" dan "cara kamu menjalani hidup tidak layak".

Hidup adalah pilihan. Kita memilih untuk mengawini pasangan kita. Konflik jelas akan terjadi terutama karena cara pandang yang berbeda. Memaknai konflik secara positif lebih memberi peluang pada kita untuk berkembang dan menjadi bijaksana. Kodrat universal manusia adalah dihargai. Cara seseorang merasa dihargai kerap berbeda antara budaya satu dengan lainnya.

Saya terpesona oleh konsep ”iceberg’ yang menyatakan bahwa manusia baru mengoptimalkan 10%-20% saja dari potensinya. Bahkan ada yang percaya ada sekitar 3% saja potensi yang tergali. Yang saya ingin berbagi disini adalah bahwa numerik itu pantas untuk kita syukuri. Artinya, kita masih bisa mengembangkan diri lebih lebih lebih banyak lagi. Salah satunya dengan membuka cakrawala berfikir dan berkomunikasi dengan baik, termasuk mempelajari budaya kita dan pasangan.


(Dimuat di KPC Melati Melalui Tangan Ibu: http://www.kpcmelaticenter.com/?pilih=lihat&id=42)

Labels: ,

Pola pengasuhan anak pada perkawinan campuran

“Awalnya perbedaan itu seksi. Sumber kenyamanan. Saya dan pasangan merasa bahagia karena kami adalah orang yang berfikiran terbuka. Tidak seperti kebanyakan. Kini perbedaan itu menjadi sumber stress. Anak kami bertanya tentang banyak hal. Kami berdua berminat untuk menorehkan pemahaman yang “benar” dalam syarafnya” Demikian kata seorang teman.

Fenomena itu ada. Kawin campur terlebih, berbeda agama, memerlukan kebesaran hati yang luar biasa. Hal yang tersulit untuk diubah, adalah ketika berkaitan dengan kepercayaan, baik tradisi yang diajarkan sejak kecil, maupun agama (Mona, 2007).

Berkaitan dengan tradisi, ada sebuah contoh menarik. Sebuah kerumitan muncul ketika orang tua kedua pasangan yang merasa peduli pada cucu mereka. Seorang teman, Nila, bercerita bahwa orang tua mereka memiliki perbedaan budaya mengenai calon cucu. Ibu suaminya merasa perlu mempersiapkan segala sesuatu untuk sang bayi sebelum lahir. Sementara ibu Nila menyarankan untuk tidak membeli apapun sebelum bayi lahir. Menurut keyakinan Ibu Nila, persiapan seperti itu akan menimbulkan kesialan pada cucunya. Tampak benar keduanya memiliki kecintaan yang besar akan cucu. Hanya cara pandang budaya yang berbeda, membuat hal ini menjadi problematik.

Banyak pasangan kawin campur menyadari pentingnya kesepakatan pranikah Dan mereka telah membahasnya dengan matang. Tapi bagaimana bila satu pihak berubah pikiran? Keyakinan agama bisa jadi tidak terlalu penting sebelum memiliki anak. Setelah anak lahir, hal itu menjadi penting.

Seorang teman, Tom, memilih merelakan anaknya dididik seperti keyakinan ibunya. Alasan logisnya karena ibu akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anaknya. Sehingga transfer kepercayaan akan lebih mudah disampaikan pada keyakinan yang diketahui oleh isterinya dibandingkan isterinya mengajarkan keyakinan yang tidak dipahaminya. Selain itu isterinya lebih tekun dalam pelaksanaan agamanya dibanding dirinya.

Awalnya semuanya lancar, hingga orang tua Tom ke Indonesia selama sebulan. Mereka tidak nyaman melihat cucunya “menjadi Islam”. Meski orang Barat dianggap bebas dalam menentukan pilihan, namun pada hal yang satu ini tampaknya tidak selalu mulus. Penyelesaian hingga kini belum tampak ada menunjukkan keputusan yang menyamankan kedua pihak. Ada banyak pertimbangan melandasi keputusan besar tadi. Mana yang tepat, terkadang tak terjawab, dan sulit menjawabnya.

Dalam agama Islam, ada aturan bahwa perempuan sebaiknya tidak menikah dengan nonmuslim. Budaya patriarki Islam menekankan keharusan isteri untuk patuh pada suami. Selain itu penempatan suami sebagai kepala keluarga sedikit banyak menentukan berbagai aturan yang dibentuk dirumah. Dalam hukum agama Katolik, bila diperlukan, diperbolehkan untuk menikah dengan pasangan berbeda agama. Namun anak-anak yang dilahirkan harus dididik dengan cara Katolik. Semua patokan itu wajar saja adanya bagi institusi agama.

Ada sebuah riset menarik mengenai tipe pengasuhan anak dalam keluarga campuran orang Bali dan orang Asing mancanegara (Larantika,1998). Riset ini menyimpulkan bahwa pada pasangan laki-laki Bali dengan perempuan Barat, pengasuhan cenderung didominasi oleh isteri (perempuan Barat). Dominasi ini meliputi: bahasa, melatih anak untuk berfikir rasional, realistis, efisien dan mandiri.. Isteri menyekolahkan anak disekolah khusus sehingga anak bergaul dengan sesama anak dari keluarga campuran. Selain itu nama anak menggunakan nama Barat. Pada pasangan laki-laki Bali dan perempuan Jepang, pengasuhan didominasi oleh laki-laki Bali. Hal ini terjadi karena sifat pengabdian perempuan Jepang terhadap suami dan keluarga. Pengasuhan melihputi perasaan anak, identitas nama sebagai orang Bali, bahasa Bali dan sekolah. Pada pasangan laki-laki Barat dan perempuan Bali, pengasuhan didominasi oleh isteri (perempuan Bali). Dominasi dalam penggunaan bahasa Bali, upacara-upacara adat Bali, agama Hindu, memiliki pura dll. Biasanya ada kesepakatan untuk memberi yang terbaik untuk anak-anak termasuk pengetahuan budaya.

Banyak orang tidak menyadari banyaknya perbedaan budaya pada kawin campur. Mereka pikir, cinta menyelesaikan segalanya. Karena cemas akan bagaimana membesarkan anak nantinya, Tiara memilih untuk pindah agama mengikuti agama suaminya. Menurutnya hal itu mengurangi kepusingan. Mertua Tiara senang, Mereka merencanakan untuk mengadakan pembabtisan untuk cucunya kelak. Orang tua Tiara sangat sedih akan kepindahan agama puterinya. Tapi itu pilihan anaknya. Penderitaan batin berkaitan dengan kepercayaan merupakan hal yang kerap terus mengganggu.

Berkaitan dengan fenomena beragam diatas, ada beberapa tips yang dapat kita lakukan dalam menghadapi hal ini.

Pertama, pikirkan baik-baik sebelum melangsungkan perkawinan campuran, apalagi yang berbeda agama. Kemungkinan akan terjadi dua aspek perbedaan yang timbul, yaitu budaya dan agama. Karena itu, masing-masing pihak sebaiknya mempelajari dan memahami budaya dan agama masing-masing. Apa yang terpenting dari tradisi atau agama pasangan. Pikirkan dan rasakan bagaimana anda dapat menerima keberagaman itu.

Kedua, persiapkan kesepakatan yang dapat diterima keduanya. Salah satu mungkin perlu mengalah seperti contoh teman diatas. Atau tetap memiliki dua warna. Tentunya dengan segala pertimbangan. Pilihan merefleksikan apa yang paling penting bagi anda ketika kecil, bagi anda saat ini dan masa depan keluarga.

Ketiga, rumuskan kesepakatan pilihan terbaik tadi. Buat secara tertulis. Bila perlu ada pihak ketiga yang dapat menjadi saksi. Kedua pihak perlu sepakat akan identitas tertentu termasuk rangkaian upacara dan pelaksanaan symbol yang terangkum dalam budaya atau agama yang disepakati. Hal ini sebaiknya jelas sehingga mudah-mudahan tidak menjadi tarik menarik dikemudian hari.

Keempat. Hargai budaya pasangan. Meskipun mungkin anda akhirnya memilih agama yang sama atau pelaksanaan suatu tradisi yang sama. Nostalgia akan tradisinya sendiri cukup penting untuk kesehatan jiwa seseorang. Bila masing-masing memilih tetap berbeda, terimalah dengan baik. Tidak perlu ada kebohongan atau upaya menutup-nutupi. Hal itu tidak nyaman bagi keduanya. Ingat, andalah yang memilih keberagaman ini.

Kelima. Pikirkan untuk membuat tradisi baru bagi keluarga yang mungkin berbeda dengan tradisi budaya anda berdua.

Keenam, jelaskan dengan baik pada anak-anak. Siapa mereka, apa yang perlu mereka lakukan dan alasannya.

Ketujuh, sampaikan dengan baik pada keluarga besar, termasuk alasannya. Mereka mungkin tidak nyaman dengan keputusan anda, mintalah maaf. Berempatilah pada perasaan mereka. Sampaikan bahwa anda mencintai mereka. Tapi sebagai manusia dewasa, tiap orang layak memilih apa yang dianggapnya baik. Termasuk andapun perlu siap dengan resikonya.

Kawin campur sangat menarik. Namun demikian perlu dipikirkan dengan cermat akan konsekuensi yang mengiringinya. Anak-anak adalah berkah terindah yang perlu disyukuri, dirawat, dikasihi dan dibantu menjadi pribadi mandiri. Dengan memilih menjadi pelaku perkawinan campuran, anda berkesempatan menjadi pribadi yang luar biasa. Selain itu berpeluang menjadi pembuka peradaban yang lebih baik.

Labels: ,

Berkah perkawinan campuran

All relationships can be defined by a series of opposites. (J. DeVito)

Bersyukur suatu perkawinan campuran dilaksanakan. Perbedaan latarbelakang budaya, cara pandang akan peran jender, nilai-nilai, keterbukaan, norma, tradisi dan banyak aspek lainnya akan timbul kepermukaan. Hal ini akan memperkaya wacana berfikir dan pengalaman batin individu pelaku perkawinan campuran.

Anak-anak hasil kawin campur mewarisi sekurang-kurangnya dua perspektif dan kebudayaan berbeda. Anak-anak berkesempatan memperoleh pencerahan melihat dunia tidak dari satu dimensi. Mereka juga berpotensi memiliki konsep mental, emosional, atau intelektual lebih baik akibat percampuran ini.

Semua kesempatan emas itu, bergandengan dengan upaya terus menerus mengeksplorasi diri. Salah satu masalah dalam perkawinan campuran adalah karena kerap, individu tidak siap untuk mengenali perbedaan.

Berbagai riset mengkonfirmasi bahwa kawin campur tidak mudah, dan lebih banyak berpotensi konflik dibandingkan perkawinan pada budaya sama. Hal ini karena pasangan kawin campur kerap bereaksi berdasarkan latar belakang budayanya dan tidak menerima bila pasangannya bereaksi menggunakan standar budaya berbeda.

Mengapa hal ini terjadi? Jawaban sederhananya adalah karena seseorang cenderung termapankan logikanya dalam suatu budaya. Tak peduli seberapa besar upaya seseorang mencoba melepaskan diri dari budayanya, hal itu sangat sulit sekali, karena budaya tersebut telah terserap akarnya, dalam sistem syarafnya, dan menentukan bagaimana dia seharusnya memahami dunia.

Individu yang berbeda budaya dan berusaha memahami budaya pasangannya, adalah individu yang sangat ideal. Namun demikian, perlu disadari pula adanya asumsi-asumsi budaya tersembunyi atau harapan-harapan yang tidak diucapkan dan mereka anggap ’wajar’, merupakan hal yang sulit untuk diketahui atau bahkan dipahami. Misalnya, dalam beberapa daerah di Indonesia, senioritas masih cukup kuat. Keputusan kerap diatur berdasarkan struktur kekerabatan atau usia. Sangatlah wajar bila pihak yang berada di usia lebih muda atau posisi sebagai anak, akan memberi ruang lebih dahulu pada orang yang dituakan. Pasangan kawin campur Solo-Belanda, mungkin mengalami kesulitan dari pihak Belanda dalam memahami perbedaan ini. Posisi egaliter menjadi norma penting dalam komunikasi dikeluarga Belanda.

Hal lain yang tampak sederhana yaitu kunjungan ke makam dalam rangka nyekar ketika akan menghadapi bulan puasa. Hal ini menjadi penting bagi sementara orang. Bila dia mengajak pasangannya berkunjung kemakam, mungkin saja hal itu tidak dapat dipahami dengan mudah. Atau bilapun pasangan yang tidak mempercayai budaya nyekar namun bersedia ikut dalam kegiatan nyekar, perasaan serta nilai-nilai yang dimilikinya akan sangat mungkin berbeda. Itulah artinya asumsi-asumsi budaya tersembunyi yang melapisi suatu tradisi atau nilai-nilai budaya tertentu, tidak dengan mudahnya dibagikan pada pemikiran orang lain.

Sebuah contoh lain yang menarik dari hasil riset saya mengenai perkawinan campuran adalah tentang seorang isteri yang memiliki keyakinan bahwa ketika hamil, dia perlu membawa gunting atau benda tajam tertentu dalam kesehariannya. Hal ini ditujukan untuk menjaga dirinya dan sang jabang bayi agar terhindar dari gangguan makhluk halus. Keyakinan yang telah ditanamkan sejak kecil, atau berkaitan dengan kepercayaan, sangat sulit untuk tidak dilaksanakan. Karena yang bersangkutan merasa takut akan resiko yang akan dihadapi bila meninggalkan aturan tersebut. Pasangan yang tidak dilatarbelakangi oleh tradisi tersebut, merasa hal itu adalah syirik, menyekutukan Tuhan, mempercayai hal-hal gaib yang tidak logis. Kepekaan akan budaya berbeda tidaklah semudah menjelaskan dengan verbal yang tertata baik.

Hal-hal tersebut adalah sekelumit kecil dari perbedaan budaya yang terjadi dalam perkawinan campuran. Sebuah fenomena yang mengganggu diantaranya adalah ketika seseorang bertemu dengan orang berbeda budaya, bisa jadi kecintaan akan budayanya makin tinggi. Ketika hal itu berimplikasi pada chauvinistik atau sikap egosentris, tentunya akan menimbulkan kesulitan dalam penyesuaian.

Kesiapan untuk menerima keunikan dan keberagaman merupakan hal imperatif pada keduanya. Perkawinan dengan orang asing memerlukan komitmen seumur hidup untuk tinggal dengan orang yang berbeda budaya. Sementara setiap perkawinan memerlukan penyesuaian, namun perkawinan dengan orang asing biasanya lebih membutuhkan penyesuaian pada kedua belah pihak daripada dengan orang yang dikenal.

Sebuah riset dari Tseng (1977) secara spesifik memberikan model yang kreatif pada penyelesaikan konflik pada perkawinan antarbudaya. Lima pola umum penyesuaian dalam perkawinan pasangan yang berbeda budaya menurutnya adalah: pertama, penyesuaian satu arah. Hal ini terjadi ketika satu pihak secara menyeluruh mengadopsi pola budaya pasangannya. Penyesuaian seperti ini berkaitan dengan satu aspek khusus dari kebudayaan ( misal: agama, makanan atau bahasa) atau seluruh kumpulan dari perilaku kebudayaan. Pola penyesuaian ini umum ketika satu budaya sangat dominan, juga hal itu kerap dipilih karena kepraktisan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, penyesuaian alternatif, terjadi ketika kedua pasangan berkeras bahwa pola kebudayaan mereka diikuti dan tidak mungkin bagi salah satunya untuk mencampur atau menyerah untuk tidak menggunakannya. Pola ini mungkin melibatkan hanya satu aspek dari budaya atau kedua budaya secara keseluruhan. Misalnya satu orang dari pasangan (satu Katolik, satu Budha) yang memutuskan untuk melakukan dua upacara perkawinan untuk memenuhi kebutuhan dari kedua budaya.

Ketiga, kompromi jalan tengah, hal ini terjadi ketika pasangan mengkompromikan atau bertemu di tengah. Tseng (1977) mencontohkan pasangan yang suaminya berasal dari Cina dan isterinya dari Amerika. Suaminya merasa harus untuk mengirim keluarganya di Cina $100 perbulan (keluarga besar bagi orang Cina sangat penting), namun isterinya menolak karena dia berfikir mereka tidak menghemat penggunaan uang (keluarga inti itu paling penting). Agar dapat memenuhi kedua kebutuhan tersebut, mereka mengkompromikan jalan tengah, suaminya mengirim keluarganya $50 perbulan bukannya $100 seperti yang direncanakan semula.

Keempat, campuran budaya dapat pula dilakukan dalam perkawinan antarbudaya. Percampuran ini mungkin acak dan aneh, atau seimbang dan harmoni. Percampuran ini biasanya dalam masalah konkrit (seperti furnish rumah, pola makan, perilaku keagamaan), mungkin juga melibatkan konsep dan gagasan. Pasangannya dapat mengembangkan nilai mereka sendiri, norma, dan aturan pada perilaku yang dicampur pada budaya asli mereka.

Kelima, penyesuaian kreatif, terjadi ketika pasangan tidak menggunakan budaya aslinya lagi, dan memutuskan untuk menemukan perilaku baru dari perkawinan mereka. Pola penyesuaian mungkin perlu karena konflik di antara budaya keduanya (misalnya: pola makan tradisional dari Amerika dan budaya Timur tidak saling menggantikan) atau mungkin karena kedua pasangan sama-sama tidak puas dengan budaya mereka sendiri.

Penyesuaian diatas hanyalah suatu cara menyelesaikan masalah. Hal yang lebih urgen adalah bagaimana pelaku perkawinan campuran berkenan membuka diri dan memahami pasangan apa adanya. Selanjutnya memilih solusi terbaik. Solusi ini belum tentu tercerdas atau teradil.

Syukur berikutnya adalah adanya komunitas seperti KPC Melati ini. Komunitas ini sangat berharga bagi pelaku perkawinan campuran untuk berbagi rasa dan pemikiran pada masalah yang terjadi diantara mereka. Satu hal yang layak dinikmati adalah, bahwa puncak-puncak peradaban banyak terjadi akibat perkawinan campuran.

Labels: ,

Perkawinan campuran individualis – kolektifis

oleh. Dr. Leila Mona Ganiem


Kalian telah diciptakan berpasang-pasangan... Bernyanyi dan menarilah bersama dalam segala suka dan duka, dan sisakan ruangan bagi masing-masing

untuk menghayati ketunggalannya.

Dawai-dawai kecapi punya kehidupan sendiri-sendiri,

meskipun digetarkan oleh petikan tangan yang sama.
Sang Nabi

Kahlil Gibran

Orang ini bernama Hofstede. Dia sungguh menawan. Selama lebih dari 20 tahun (1980-2002) dia mengutak-atik konsep yang menurutnya dapat menjelaskan sebagian penting dari perangkat lunak isi kepala orang. Dia sebut Software of the Mind, yaitu budaya. Meski dia bukanlah satu-satunya ilmuwan dibidang itu, namun keseriusan upayanya mencerahkan banyak orang. Termasuk menggairahkan riset-riset lainnya.

Hofstede menjelaskan ada empat konsep utama dalam budaya. Menurutnya, orang diberbagai negara dapat dibedakan dengan dimensi: individualis-kolektifis, jarak kekuasaan tinggi-jarak kekuasaan rendah, maskulin-feminin, penghindaran ketidakpastian tinggi dan penghindaran ketidakpastian rendah.

Semua konsep ini indah. Saya bahkan sangat kecanduan menggali dimensi-dimensi tersebut dalam kehidupan praktis. Namun perlu penjabaran yang cukup untuk memahami maknanya secara komprehensif. Kali ini saya akan mengajak untuk menikmati salah satu dimensi saja, yaitu individualis-kolektifis. Keduanya menarik untuk mengupas keberagaman fenomena perkawinan campuran.

Mengapa orang Amerika, Australia, Inggris, Kanada, New Zealand, cenderung beda dengan orang Indonesia, Pakistan, Korea, Thailand? Tentu saja jawabannya bisa sangat luas. Tapi saya akan mengarahkan pandangan kita pada konsep tadi. Kumpulan negara yang pertama disebut adalah kumpulan negara yang cenderung individualis. Sementara kumpulan yang disebut belakangan adalah kolektifis.

Seperti yang kita tahu, tiap orang membawa beberapa tingkat ‘pemrograman’ budaya. Dasar nilai-nilai apa yang baik dan buruk, benar dan salah, logis dan tidak logis, cantik dan jelek, kita pelajari sejak kecil. Kebudayaan memberi dasar fundamental dari apa itu menjadi manusia dan bagaimana seharusnya berinteraksi dengan orang lain.

Pada usia 0 hingga 5 tahun, nilai-nilai yang ditanamkan dikeluarga cenderung dominan. Semakin tinggi usia seseorang, semakin berkurang pengaruh keluarga. Asumsi-asumsi dasar serta nilai-nilai agama cenderung kuat diterapkan pada seseorang melalui komunikasi dalam keluarga. Banyak ahli menyimpulkan, dua tahun pertama, adalah masa keemasan perkembangan otak anak. Melalui keluarga, anak juga belajar nilai-nilai bersih-kotor, baik-buruk, berbahaya-aman, dilarang-diperbolehkan, moral-tidak bermoral, masuk akal-tidak masuk akal dan lain-lain.

Selain itu aturan-aturan lain mengenai aturan tubuh - seperti tangan boleh dilipat, kapan boleh tertawa, dimana meludah, makan dengan tangan, cara duduk dan berdiri. Hal lain seperti kapan berinisiatif, seberapa buruk bila melanggar aturan, seberapa dekat seseorang seharusnya dengan orang lain, apakah dirinya laki-laki atau perempuan, apa implikasinya menjadi perempuan atau laki-laki-, serta masih banyak hal lain yang juga sangat dipengaruhi oleh pola keluarga. Tahun-tahun selanjutnya, guru, teman sekolah, aktivitas olah raga, televisi, pahlawan nasional, figur tokoh agama, hingga dunia kerja memberi warna pada mereka. Namun demikian, fokus kita diusia lebih tinggi adalah lebih pada kegiatan praktis, dibandingkan penanaman nilai-nilai.

Dapat dilihat bahwa pola pikir pada pasangan suami isteri perkawinan campuran akan dipengaruhi oleh budaya masing-masing. Cara mereka berkomunikasi, memerankan diri, melakukan sesuatu, mengatur rumah, memilih makanan, membesarkan anak, mengatur keuangan, memperlakukan mertua dan orang tua, menghendaki pasangannya berperilaku sesuatu, pola konsumsi keluarga, apa arti aib dan kebanggaan keluarga, bagaimana membagi sumber daya dalam keluarga, kemandirian atau ketergantungan diantara pasangan yang diharapkan, sejauh mana kebebasan suami isteri, apa yang dimaksud dengan hormat atau tidak hormat, dan lain-lain juga dilandasi oleh aturan-aturan budaya yang diyakininya. Pada pasangan perkawinan campuran, perpaduan budaya tersebut akan menjadi problematik apabila perbedaan budayanya sangat tinggi.

Masyarakat suatu negara dapat dibedakan antara individualis dan kolektifis. Meskipun semuanya tidaklah pasti pada salah satu sisi ekstrim. Ada negara yang berada diantara keduanya (Jamaika, Rusia, Arab, Brazil, Turki, Yunani dll). Selain itu negara yang individualis, misalnya, masyarakatnya belum tentu semua individualis. Sebagian ada yang abu-abu, sebagian kental kekolektifitasannya. Demikian juga pada kolektifis. Yang menjadi bagian penting adalah adanya kecenderungan besar pada masyarakat suatu negara untuk menjadi individualis atau kolektifis.

Kebanyakan orang di dunia ini hidup di dalam masyarakat yang kepentingan kelompoknya lebih mengemuka dibandingkan pada kepentingan individunya. Mereka dapat dikategorikan kolektifis. Bagi mereka, kelompok adalah sumber utama dari identitas diri. Kekuasaan yang ada bukanlah kekuasaan individu namun kekuasaan kelompok.

Pada kebanyakan kelompok kolektifis, ‘keluarga’ dimana anak dibesarkan terdiri dari sejumlah orang yang tinggal bersama, bukan hanya orang tua dan anak-anaknya, namun juga nenek kakek, paman, bibi, pembantu dan saudara lainnya. Anak dari keluarga kolektifis jarang berada sendirian baik pagi maupun malam. Ketika anak dewasa, mereka belajar untuk berfikir bahwa mereka adalah bagian dari kelompok ‘kita’. Antara orang dengan kelompoknya ada ketergantungan mutual yang berkembang pada tataran praktis dan psikologis.

Kontak sosial dilakukan berkesinambungan. Keharmonisan menjadi hal penting dalam keluarga. Konfrontasi langsung pada orang lain dianggap kasar dan tidak disukai. Pada kelompok kolektifis, pendapat pribadi cenderung tidak ada, yang mendapat tempat adalah pendapat kelompok.

Keloyalan merupakan elemen penting bagi kelompok kolektifis. Jika satu anggota keluarga dari keluarga besar memiliki pekerjaan sementara yang lainnya tidak, orang yang memiliki pekerjaan diharapkan berbagi pendapatannya untuk membantu menghidupi keluarganya. Keharusan pada keluarga kolektifis bukan hanya secara material namun juga secara ritual. Acara keluarga seperti pengajian, sunatan, perkawinan, pemakaman dll adalah penting dan seharusnya tidak dilewatkan.

Itulah sebabnya keluarga sangat penting di kelompok kolektifis. Penyeleksian pasangan hidup dilakukan dengan hati-hati. Tidak hanya pada pasangan tapi juga pada kedua keluarganya. Perkawinan adalah kontrak antar keluarga daripada antar individu.

Pada kelompok individualis, orang cenderung memperhatikan pada diri sendiri dibandingkan pada masyarakat dimana orang tersebut berada. Kebanyakan anak lahir dari keluarga yang terdiri dari orang tuanya, dan mungkin anak lainnya. Dalam masyarakat tertentu malah semakin banyak terdapat keluarga dengan satu orang tua (ibu atau ayah saja). Keluarga lainnya jarang terlihat. Tipe ini disebut keluarga inti atau nuclear family. Anak dari keluarga seperti ini, ketika tumbuh, segera belajar untuk melihat dirinya sebagai ‘saya’.

Tujuan pendidikan adalah untuk membuat anak menjadi mandiri atau berdiri di atas kakinya sendiri. Anak diharapkan meninggalkan rumah orang tuanya segera setelah mereka mampu. Tidak jarang, anak-anak setelah meninggalkan rumah, mengurangi hubungan dengan orang tuanya sampai pada tahap tertentu atau bahkan malah tidak berhubungan sama sekali. Secara praktis maupun psikologis, seorang yang sehat dalam tipe ini diharapkan menjadi orang mandiri dalam suatu kelompok.

Pada keluarga individualis, berbicara tentang pikirannya dianggap baik. Menyatakan hal yang sebenarnya tentang bagaimana perasaannya adalah karakteristik orang yang tulus dan jujur. Konfrontasi dianggap baik, perselisihan pendapat dipercaya sebagai arahan untuk mencapai kebenaran yang lebih tinggi. Berhadapan dengan konflik adalah bagian yang normal dalam kehidupan bersama dalam keluarga.

Secara aplikatif, dalam acara perkawinan, bila anda merasa perlu mengundang ratusan bahkan ribuan orang, anda masuk kategori kolektifis. Orang individualis, akan nyaman-nyaman saja mengundang 10-20 orang.

Orang tua kolektifis akan mempersiapkan anak untuk mandiri, tapi cenderung akan merasa sampai kapanpun anak adalah anak. Bahkan ketika memiliki cucu, dia masih akan terus merasa bertanggung jawab untuk membantu mengurusnya. Orang tua individualis, akan mengantarkan anaknya segera menjadi mandiri, membiarkan mereka membuat keputusan sendiri tentang pilihan hidupnya. Suatu ketika orang tua sudah tua, anak dan orang tua sama-sama sepakat untuk mengirimkan sang orang tua tersebut kerumah jompo.

Contoh lain, bila ada anggota keluarga melakukan kesalahan dan harus berhubungan dengan institusi hukum, anggota kolekfitis cenderung merasa sedih dan sangat malu pada lingkungan. Perasaan malu atau merasa hal itu sebagai aib cenderung lebih besar dan mengganggu. Sementara kelompok individualis, akan merasa sedih, tentu saja, tapi tidak terlalu terbebani oleh pendapat orang lain. Bilapun ada, cenderung tidak sebesar kelompok kolektifis.

Kelompok seperti KPC ini dapat dimaknai berbeda bagi kelompok individualis dan kolektifis. Keterlibatan komunitas seideologi atau sevisi memang hal yang lumrah bagi kelompok individualis. Bagi kelompok kolektifis, artinya bisa jadi dua. Selain tempat berbagi dalam kaitan komunitas yang memiliki visi sama, tapi juga kebutuhan dasar dari kelompok kolektifis untuk mengelompok.

Jadi bila pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik, antara indivdualis atau kolektifis? Saya speechless. Tak punya pilihan tegas. Alasannya adalah karena semuanya indah. Semuanya memiliki nilai-nilai filosofis yang tinggi.

Tapi begini, bila kita ada diantara keduanya, bagaimana bila kita tak henti-hentinya mengeksplorasi keduanya. Memilih yang tepat untuk diri kita. Dengan kesadaran penuh memilih terbuka pada keberagaman perspektif. Tidak perlu mengingkari keaslian kita, karena budaya telah cenderung tertanam dalam sistem syaraf. Keterbukaan menerima pasangan berbeda perspektif juga sebuah keindahan. Dengan eksplorasi tadi, kita dapat menerima pasangan dengan hati lapang. Kebesaran hati menerima keberagaman adalah hal indah. Itulah yang kita mau.


Penulis adalah Peneliti Komunikasi Antarbudaya

Labels: ,

Pandangan mata sangat berpengaruh

Mata adalah elemen yang paling penting dalam membentuk kesan. Mata merupakan satu-satunya bagian sistem pusat saraf yang langsung berhubungan dengan orang lain. Pancaran mata berdaya kekuatan luar biasa, yaitu kekuatan “menginformasikan” sesuatu apa adanya. Kontak mata mempengaruhi perilaku dan kepercayaan komunikasi. Sejak kontak mata dilakukan, orang lain dapat mengukur sejauhmana kemampuan anda dalam berkomunikasi. Bila kita berbicara kepada seseorang tanpa kontak mata, sulit untuk mengetahui perasaan orang tersebut sesungguhnya. Dengan adanya kontak mata, kita dapat merasakan sesuatu tentang orang tersebut.

Berbagai studi menunjukkan bahwa lama orang memandang orang lain disaat percakapan sekitar 50-60%. Pembicara menggunakan sekitar 40% dan pendengar menggunakan mata sekitar 70%. Cara menatap perlu mendapat perhatian tersendiri, dalam bisnis (maupun dalam kehidupan sehari-hari) lebih dari 90 % komunikasinya menghendaki adanya cara menatap yang mengesankan keterlibatan. Budaya juga menentukan cara seseorang memandang, belum tentu cara seseorang memandang dengan gaya tertentu dipersepsi positif oleh orang berbudaya berbeda.

Kontak mata dapat diartikan berbeda-beda seperti pernyataan penghormatan, kepercayaan diri, minat dengan isi pembicaraan, keyakinan, kebosanan, malu, rasa bersalah, hinaan, sanjungan, rangsangan seksual dll. Misalnya seseorang yang marah, pancaran matanya seperti mengeluarkan bara api; pada saat sedih, matanya terlihat dingin dan redup; saat berbohong orang cenderung berusaha memalingkan wajahnya agar pandangan matanya tidak tertangkap lawan bicara; mengalihkan tatapan mata juga dapat dianggap kebosanan; menghindari tatapan mata mengesankan kurang perhatian, kurang tertarik atau menjaga jarak; pandangan mata singkat (sekitar 1,5 detik) tidak dirasa oleh pendengarnya bahwa dia sedang berbicara langsung kepada mereka dll.

Bila tatapan mata merupakan hal yang penting dan berpengaruh baik dalam kehidupan sosial maupun bisnis, seberapa besar keperdulian anda pada cara anda menatap? tahukah anda kemana melihat ketika berbicara atau mendengarkan orang lain? tahukah anda berapa lama harus mempertahankan komunikasi dengan mata pada orang lain ketika komunikasi perorangan maupun ketika memberikan presentasi? Berikut ini beberapa tips cara menatap yang mudah-mudahan dapat membantu kita mengefektifkan komunikasi.

· Kontak mata terang-terangan dipersepsi positif, karena itu sebaiknya gunakan kontak mata langsung daripada melirik atau mencuri-curi pandang. Bila kita mengarahkan pandangan pada benda atau hal lainnya, lawan bicarapun dapat mengetahui arah perhatian kita.

· Dalam komunikasi perorangan, komunikasi dengan mata yang normal sebaiknya selama 5 sampai 15 detik. Tatapan 5 detik sesungguhnya cukup membuat orang lain nyaman. Pandangan terpaku terus pada seseorang dalam waktu yang lama, membuat orang terganggu, karena itu beri privasi pada orang lain.

· Ada tiga tipe tatapan: hanya menatap, intimidasi dan keterlibatan. Sebaiknya dalam bisnis dan sosial kita menggunakan tipe keterlibatan. Ketika melihat orang yang tidak kita kenal dapat dilakukan dengan hanya menatap namun bila ingin memberikan kesan positif, gunakan keterlibatan. Hindari cara menatap mengintimidasi.

· Dilingkungan bisnis, tatapan sebaiknya pada areal sekitar mata – dahinya, pandangan dari mata sampai ke daerah mulut, memperlihatkan minat membahas hal-hal diluar lingkungan kerja. Pada hubungan akrab (personal) pandangan bisa berkisar pada mata hingga ke dada.

· Dalam negosiasi, saat mengemukakan penawaran, tatap lawan anda ketika mengusulkan sesuatu sehingga lebih meyakinkan.

· Orang yang memiliki ketinggian mata paling tinggi biasanya dianggap sebagai pemimpin. Dalam suatu rapat internal organisasi, wajar bila pemimpin duduk lebih tinggi, namun ketika pertemuan dengan klien, hindari posisi mata lebih tinggi, karena bisa jadi dianggap oleh klien sebagai ‘mendominasi’.

· Saat wawancara kerja, pewawancara biasanya mengamati (menyelidiki) calon karyawan dengan menatapnya secara seksama, sebaiknya jangan grogi atau bersikap seolah-olah menantang pewawancara tsb. Pandanglah pewawancara secara wajar dan perlihatkan kepercayaan diri yang baik.

· Saat presentasi, bila anda tidak nyaman ditatap oleh orang banyak, anda sesekali dapat mengendalikan tatapan mata dengan mengarahkan perhatian pada alat-alat bantu, atau menerangkan maksud anda dengan alat bantu tersebut, mata rekan/klien akan mengikuti apa yang anda tunjuk. Namun demikian perlu diupayakan terus untuk menguasai publik dengan menatap mereka secara terlibat pada beberapa orang bagian kanan, tengah, kiri secara selektif.

Demikian tips ringan mengefektifkan komunikasi dengan mata. Gunakan mata anda dengan efektif, karena mata adalah harta potensial yang luar biasa yang diberikan oleh Tuhan pada kita secara cuma-cuma.


(Dimuat di harian Media Indonesia)

Labels:

Perkenalan bisnis yang efektif

Banyak bisnis dimulai dari perkenalan, berlanjut pada presentasi, negosiasi, bila disepakati bersama, jadilah deal, dan berikutnya follow up. Hubungan personal kerap menjadi modal penting dalam bisnis. Hubungan personal yang baik antara klien berpengaruh lebih dari 70% dalam peningkatan sales. Data dari Mellon Foundation menunjukkan bahwa komunikasi berdampak 85 % terhadap keberhasilan seseorang, sementara kemampuan teknis berdampak 15% saja. Sebuah riset selama 20 tahun yang dilakukan oleh Prof Thomas Harrel dari Stamford Graduate School of Business tentang kualitas pribadi yang berdampak positif pada karir menunjukkan bahwa orang yang ramah, mau bekerja sama dengan orang lain dan ada motivasi berkuasa merupakan tiga hal penting dari kepribadian yang berimplikasi pada bisnis.

"Every action done in company ought to be with some sign of respect, to those that are present." -- George Washington. Cara kita bertemu dan menyapa orang lain berpengaruh dalam bisnis. Namun demikian, Banyak sekali orang mempunyai masalah ketika berkenalan dengan orang lain. Bagaimana memulai perkenalan, cara memperkenalkan diri, apa yang dikatakan pertama kali ketika berkenalan, apa yang dikatakan selanjutnya setelah mulai kenalan, bagaimana mempertahankan minat orang lain agar tetap tertarik pada kita, selanjutnya bagaimana membina perkenalan tersebut menjadi hubungan bisnis. Ada beberapa tips yang dapat digunakan agar komunikasi kita menjadi lancar dan menyenangkan.

Perkenalan bisnis anda harus mengesankan, karenanya anda perlu memperhatikan etika dengan benar. Dalam bisnis, perkenalan didasarkan pada jabatan atau hirarki. Secara sederhana, orang yang memiliki jabatan lebih rendah akan diperkenalkan pada orang yang memiliki jabatan lebih tinggi. Gender tidak berpengaruh dalam hal ini. Misalnya, anda mengatakan, “Bapak/Ibu (jabatan lebih tinggi) saya ingin memperkenalkan anda dengan Bapak/Ibu (jabatan lebih rendah)”. Bila anda memperkenalkan diri, sebutkan nama dan posisi anda. Berkaitan dengan gelar, sebaiknya anda melupakan gelar sendiri, artinya tidak usah disebut sebagai Ir. Toni atau Bapak Toni, namun sebut saja Toni. Sebaiknya kerap sebut nama klien anda, misal: “Senang bertemu Anda, Ibu Putri”. Bila nama klien kurang jelas bagi anda, minta penegasan sekali lagi. Ketika orang tersebut memberi kartu nama, minta nama dieja sehingga tidak keliru. Hal ini positif karena orang merasa terkesan karena kita berusaha semaksimal mungkin menyebut namanya.

Beri pujian, karena pujian itu indah bagi yang mendengarnya, tapi harus tulus, dan benar, bila tidak akan menjadi bumerang bagi anda karena klien anda akan curiga. Misalnya anda bisa memuji namanya dengan mengatakan namanya indah, jarang dimiliki orang atau amat pantas dengan pembawaannya. Selain membuat klien merasa tersanjung, selain itu juga mempermudah kita mengingat namanya. Referensi orang ketiga efektif dalam meningkatkan hubungan baik, misalnya, “Bp. Ari bilang anda jago sekali dalam bermain golf”.

Ketika berjabat tangan, bila duduk, berdirilah. Tunjukkan kesan respek, hangat, dan percaya diri. Gunakan kontak mata, senyuman yang percaya diri. Berlatihlah jabat tangan yang baik dan mengesankan. Hindari jabat tangan yang sangat kencang, atau jabat tangan dingin seperti ikan basah karena mengesankan 'saya tidak tertarik pada anda'.

Karena anda yang menginginkan klien baru tersebut mau membina hubungan dengan anda, fokuskan perhatian pada orang tersebut. Sebelum mulai berkenalan, ketahui apa yang membuat orang tersebut tertarik. Hal itu bisa dilakukan dengan cara mencari tahu dari kolega, teman, ataupun dari pandangan sekilas berkaitan dengan isi pembicaraan, penampilannya, gayanya, sikapnya, dll. Beberapa hal yang membuat orang tertarik untuk membahas diantaranya 1) berkaitan dengan kedekatan geografis. Semakin berdekatan orang secara geografis, semakin besar kecenderungan mereka untuk tertarik terhadap satu sama lain. Misalnya anda dan klien anda berasal dari Bandung, pembicaraan tentang jalan-jalan di Bandung, makanan, shopping dll akan cenderung menarik. 2) Orang tertarik pada orang yang mempunyai minat serupa. Anda dapat mengangkat hal-hal yang menjadi minat yang sama atau hal yang dia minati. Seorang teman sukses berbisnis ketika mengangkat pembahasan tentang bola pada saat kejuaraan internasional terjadi. 3) Tunjukkan rasa suka yang tulus pada orang tersebut karena orang yang anda disukai cenderung membalas dengan menyukai orang yang menyukainya.

Ketika perkenalan telah menjadi percakapan menarik, berhati-hatilah pada hal-hal berikut ini: Jadilah pendengar yang baik. Belajar untuk ingin mendengarkan kata-katanya karena tidak ada topik yang tidak menarik, kitanya saja yang tidak tertarik. Berempatilah pada isi ceritanya. Biarkan orang lain mengalahkan anda dalam permainan adu keunggulan, biarkan orang lain bicara hal yang menjadi minatnya daripada anda pada minat anda, beri kebanggaan padanya, dia akan memberi anda perhatian lebih. Disraeli menyatakan 'Seseorang yang menyenangkan adalah orang yang setuju dengan saya'.

Selain etika, perhatikan tutur kata, suara, ekspresi wajah dan pembawaan tubuh yang tepat. Tampillah sebagai pribadi yang menarik karena pribadi yang menyenangkan membuat orang lain senang berhubungan dengan orang tersebut. Jaga sikap tubuh anda. Kontak mata langsung sangatlah baik karena tatapan terang-terangan dipersepsi positif. Berlatihlah menatap langsung dengan ramah, respek, percaya diri dan meyakinkan. Tunjukkan minat tulus dan jujur melalui mata ketika berbicara. Hadapkan kepala anda pada orang yang diajak berbicara, jangan menatap orang dengan melirik, karena itu tidak mencerminkan ketulusan.

Buatlah pembicaraan yang menyenangkan pada pertemuan pertama sehingga menimbulkan kesan pribadi positif dan nyaman, setelah itu baru sekilas dapat dibahas mengenai bisnis. Secara lebih detil dapat dibahas pada pertemuan berikutnya, atau tergantung dari nilai rasa komunikasi anda dengan klien saat itu. Demikianlah tips ringan cara berkenalan, semoga perkenalan bisnis anda menjadi menyenangkan.


(Dimuat di harian Media Indonesia)

Labels:

Perlukah tubuh kita wangi?

Ketika kita bertemu dengan seseorang, aroma tubuh yang sedap bisa meningkatkan daya tarik, sebaliknya jika bau tidak sedap bisa menyebabkan seseorang tersisih dari pergaulannya. Sadar atau tidak, bau-bauan berpengaruh pada hubungan sosial kita. Penciuman adalah “the most experienced of senses”.

Dari indera kita, penglihatan baru berfungsi bila ada cahaya, telinga bisa mendengar tapi belum tentu mendengarkan, indera perasa seringkali tidak bekerja tapi indera penciuman bekerja setiap saat. Kita juga rasakan bahwa penampilan kita sehari-hari tidak hanya sebatas pada sesuatu yang dapat dilihat namun juga pada apa yang tercium. Hubungan sosial cenderung dipengaruhi oleh bau-bauan.

Berikut ini beberapa tips untuk meningkatkan rasa percaya diri berkaitan dengan bau-bauan:

1. Perhatikan kebersihan tubuh. Mandi dan bersihkan gigi serta bagian lain yang memungkinkan timbulnya bau-bauan, secara teratur. Bau yang keluar dari tubuh dapat terjadi ketika kita berkeringat, atau karena kelembaban tertentu yang terjadi pada bagian tubuh seperti pangkal paha, ketiak atau telapak kaki. Bau mulut juga dapat menimbulkan masalah. Stress, tingginya aktivitas fisik dan makanan tertentu yang kita konsumsi juga juga dapat berkonstribusi menyebabkan bau-bauan tertentu dari tubuh.

2. Jaga makanan anda. Hindari makan makanan yang menimbulkan bau-bauan yang tidak sedap terutama dalam situasi-situasi tertentu yang membutuhkan penampilan prima kita.

3. Pergunakanlah penawar bau atau bahkan gunakan parfum, pelembut raga atau body spray sebagai bantuan instant. Selain menimbulkan bau yang menyegarkan, wewangian dapat melengkapi penampilan, mood, serta kepribadian. Dalam suatu riset di Australia, dibuktikan bahwa orang yang setiap hari menggunakan wewangian, seperti parfum atau semacamnya merupakan orang yang punya lebih banyak sikap positif dalam pergaulan dibandingkan orang-orang yang tidak menyukainya.

Freud, ahli psikoanalisis, pernah menulis: Tidak ada manusia yang dapat menyimpan rahasia. Jika bibirnya diam, ia berceloteh dengan ujung jarinya. Rahasia membersit dari pori-pori kulitnya. Kipling, seorang penyair Inggris, juga menulis: “Bau-bauan lebih meyakinkan dalam membuat hati terkoyak daripada suara”.

Karena itu sebaiknya anda memperhatikan bau tubuh anda. Aroma tubuh yang sedap dapat meningkatkan daya tarik, karenanya cari tahu sendiri atau tanya pada orang-orang terdekat anda apakah tubuh anda menghasilkan bau tidak sedap? Bila semuanya baik-baik saja, syukurlah.


(Dimuat di tabloid NOVA)
Versi online-nya ada di sini: http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=1641

Labels:

Perlukah kita tersenyum?

Senyuman adalah perilaku yang sangat menyenangkan karena dalam senyuman terpancar perasaan dan perilaku positif, keramahan, kegembiraan, kesopanan, dan rasa hormat. Senyuman memiliki kekuatan luar biasa. Senyuman dapat membuat kita melihat dunia lebih indah. Senyum tulus dapat mencairkan hubungan yang beku, memberi semangat pada orang yang putus asa, membuat cerah suasana muram, obat penenang jiwa yang resah.

Ekspresi wajah yang luyu dan malas membuat orang lain malas berkomunikasi dengan kita, sebaliknya ekspresi wajah yang bergairah dan ramah meningkatkan hubungan baik. Hal ini terjadi karena ketika kita berbicara, orang melihat kemuka kita. Ciri yang paling menonjol adalah senyuman.

Banyak orang mengira dirinya cukup tersenyum. Dari suatu telaah disimpulkan bahwa hampir sepertiga dari orang-orang dalam bisnis memiliki muka-muka yang terbuka dan tersenyum secara alamiah. Hal ini baik karena orang yang dianggap terbuka dan bersahabat, akan lebih terbuka pada ide-ide anda. Sepertiga lainnya cenderung bermuka netral, dan mudah beralih dari senyum ke muka yang serius atau bersemangat. Orang seperti ini tampak luwes. Sepertiga lainnya bermuka yang serius. Mungkin tersenyum dalam hati, tapi ekspresi muka tidak menampakkan hal itu. Hal ini sangat merugikan karena orang bukan pembaca pikiran, persepsi adalah realitas yang terlihat secara kasat mata.

Wanita sering kali tersenyum untuk menentramkan pria. Menurut Nancy Henley, psikolog, senyum dapat membuat orang tampak ramah, menarik dan terbuka, tapi juga dapat dipandang sebagai undangan seksual. Dia menyarankan wanita untuk tidak tersenyum berlebihan. Dari suatu riset (Forgas, 1987) disimpulkan bahwa senyum yang tidak menarik dapat ditafsirkan sebagai tanda kurang percaya diri, sementara senyum yang menarik cenderung dipersepsikan sebagai keramahan dan percaya diri. Karenanya perhatikan cara anda tersenyum sesuaikan dengan situasi kegiatan atau peran anda. Tersenyum lebar saat kumpul santai dengan teman, ok, tapi jangan tersenyum sangat lebar ketika situasi sangat resmi.

Senyuman adalah pernyataan untuk membuka diri pada sekeliling kita. Menurut Dr. Paul Ekman, psikolog di University of California, San Franciso mengatakan ada 18 jenis senyuman. Tiap senyum menggunakan kombinasi otot yang sedikit berbeda dan menyampaikan pesan yang berbeda. Secara singkat, senyum sejati menurut Ekman adalah senyum yang menyebabkan kerut disekitar mata.

Jadi ada baiknya kita semakin menyadari bahwa senyuman yang kelihatannya hal sederhana, tapi berdampak luar biasa. Senyum adalah sesuatu yang dapat dilatih dengan kesadaran. Mulailah melatih otot senyum anda. Hati-hati senyuman palsu tidak mempan, tidak berumur panjang dan kelihatan palsu. Senyuman sejati berasal dari dalam. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi. Ingatlah bahwa senyum adalah cara termudah untuk menghadiahi seseorang, tanpa biaya, memperkaya yang menerima tanpa mempermiskin yang memberi; sekilas, namun bertahan lama; menciptakan kebahagiaan; sesuatu yang tidak berharga bagi seseorang kecuali diberikan.


(Dimuat di tabloid NOVA)
Versi online-nya ada di sini: http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=254

Labels:

Sunday, November 25, 2007

Tips berkenalan dan memperkenalkan diri

Banyak orang mempunyai masalah ketika berkenalan dengan orang lain. Bagaimana cara memperkenalkan diri, membuat orang lain merasa tertarik pada kita dan selanjutnya bersedia membina hubungan dengan kita. Ada beberapa tips yang dapat digunakan agar komunikasi kita menjadi lancar dan menyenangkan.

Ketika anda memutuskan untuk berkenalan dengan seseorang, sebaiknya konsentrasikan diri anda untuk menarik simpati orang tersebut dengan tutur kata dan suara yang baik, senyuman, bahasa tubuh, etika yang tepat dll. Tampillah sebagai pribadi yang menarik karena pribadi yang menyenangkan membuat orang lain senang berhubungan dengan orang tersebut.

Karena anda yang menginginkan orang tersebut mau berkenalan dengan anda, fokuskan perhatian pada orang tersebut. Sebelum mulai berkenalan, ketahui apa yang membuat orang tersebut tertarik. orang tersebut. Hal itu bisa dilakukan dengan cara mencari tahu dari teman, keluarga ataupun dari pandangan sekilas berkaitan dengan penampilannya, gayanya, sikapnya, dll. Bisa juga dilakukan dengan memperhatikan kajian komunikasi berikut ini.

· Biasanya orang tertarik karena adanya kedekatan geografis. Semakin berdekatan orang secara geografis, semakin besar kecenderungan mereka untuk tertarik terhadap satu sama lain. Misalnya bila orang tersebut dari Bandung dan anda dari Bandung, pembahasan tentang hal-hal di kota Bandung (tempat jalan-jalan, makanan, udara, produk dll) akan menyenangkan.

· Orang tertarik bila orang tersebut mempunyai minat serupa. Buss (1985) menemukan bukti kuat bahwa pemilihan pasangan hidup didasarkan atas kemiripan: usia, pendidikan, latar belakang etnik (ras, agama, sse). Ciri-ciri psikologis: kemiripan sikap, pendapat dan pandangan dunia. Hal yang juga berpengaruh adalah Kepribadian, gaya berbusana, tingkat sosio ekonomi, agama, usia, status dsb mempengaruhi perasaan seseorang terhadap orang lain.

· Tunjukkan rasa suka pada orang tersebut karena orang yang anda disukai cenderung membalas dengan menyukai orang yang menyukainya.

· Perubahan penghargaan diri: penelitian menunjukkan ketika penghargaan diri menurun, kebutuhan kita untuk berhubungan dengan orang lain meningkat, dan kita lebih menerima kasih sayang dari orang lain (meskipun sebelumnya tidak tertarik).

· Kondisi yang menimbulkan kecemasan tinggi menghasilkan keinginan yang jauh lebih besar untuk bergabung dengan orang lain daripada konsidi-kondisi yang menimbulkan kecemasan rendah. Misalnya dalam situasi menunggu kereta yang terlambat datang cukup lama, orang cenderung mau berbincang.

Setelah anda memutuskan topik yang anda akan angkat untuk memulai pembicaraan, putuskan juga kesan yang ingin anda buat. Dalam situasi bisnis ketika anda diharapkan tampak profesional namun anda terasa terlalu 'nyantai', akan dipersepsi negatif oleh lawan bicara anda. Orang lain tidak tahu yang ada dalam hati dan pikiran kita, orang hanya tahu tentang orang lain diantaranya dari apa yang dia lihat atau dengar. Jadi, berhati-hatilah dengan ekspresi anda, suara, gerak tubuh termasuk juga suara.

Jaga sikap tubuh anda. Kontak mata langsung sangatlah baik karena tatapan terang-terangan dipersepsi positif. Berlatihlah menatap langsung dengan ramah, respek, percaya diri dan meyakinkan. Tunjukkan minat tulus dan jujur melalui mata ketika berbicara. Hadapkan kepala anda pada orang yang diajak berbicara, jangan menatap orang dengan melirik, karena itu tidak mencerminkan ketulusan.

Ketika berjabat tangan, tunjukkan kesan respek, hangat, dan percaya diri. Berlatihlah jabat tangan yang baik dan mengesankan. Hindari jabat tangan yang sangat kencang, atau jabat tangan dingin seperti ikan basah karena mengesankan 'saya tidak tertarik pada anda'.

Pada perkenalan pihak ketiga, yang muda, diperkenalkan lebih dahulu pada yang lebih tua, yang lebih tinggi jabatannya atau pada wanita (dalam kehidupan sosial). Misal A mau memperkenalkan B (pegawai) pada C (boss). A akan memperkenalkan B dulu pada C, lalu baru C pada B.


Ketika perkenalan telah menjadi percakapan menarik, berhati-hatilah pada hal-hal berikut ini:

· Biarkan orang lain mengalahkan anda dalam permainan adu keunggulan.

· Biarkan orang lain bicara hal yang menjadi minatnya daripada anda pada minat anda

· Beri kebanggaan padanya, dia akan memberi anda perhatian lebih. Disraeli menyatakan 'Seseorang yang menyenangkan adalah orang yang setuju dengan saya'.

Jadilah pendengar yang baik. Belajar untuk ingin mendengarkan kata-katanya. Tidak ada topik yang tidak menarik, kitanya saja yang tidak tertarik. Berempatilah pada isi ceritanya.

Berkaitan dengan gelar, sebaiknya anda melupakan gelar sendiri, artinya tidak usah disebut sebagai Ir. Toni atau Bapak Toni, namun sebut saja Toni.

Penyebutan nama. Sebut nama orang tsb, lebih baik lagi pada awal perkenalan. Misal: “Senang bertemu Anda, Bu Novi”

· Bila nama orang tersebut kurang jelas bagi anda, minta penegasan sekali lagi. Ketika orang tersebut memberi kartu nama, minta nama dieja sehingga tidak keliru. Hal ini positif karena orang merasa terkesan karena kita berusaha semaksimal mungkin menyebut namanya

· Beri pujian atas namanya. Mengatakan namanya indah, jarang dimiliki orang atau amat pantas dengan pembawaannya. Hal ini membuat orang merasa tersanjung, selain itu juga mempermudah kita mengingat namanya.

· Buat asosiasi dengan sesuatu yang mudah bagi anda untuk mengingat. Misal: Mona dengan lukisan Monalisa, Hadi dengan hadiah.

· Sesering mungkin gunakan nama orang yang baru dikenal dalam percakapan anda atau tulis nama orang tersebut.

Demikianlah tips ringan cara berkenalan, semoga perkenalan anda menjadi menyenangkan. (Dimuat di tabloid NOVA)

Versi online-nya ada di sini: http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=5895

Labels: