oleh. Dr. Leila Mona Ganiem
Kalian telah diciptakan berpasang-pasangan... Bernyanyi dan menarilah bersama dalam segala suka dan duka, dan sisakan ruangan bagi masing-masing
untuk menghayati ketunggalannya.
Dawai-dawai kecapi punya kehidupan sendiri-sendiri,
meskipun digetarkan oleh petikan tangan yang sama.
Sang Nabi
Kahlil Gibran
Orang ini bernama Hofstede. Dia sungguh menawan. Selama lebih dari 20 tahun (1980-2002) dia mengutak-atik konsep yang menurutnya dapat menjelaskan sebagian penting dari perangkat lunak isi kepala orang. Dia sebut Software of the Mind, yaitu budaya. Meski dia bukanlah satu-satunya ilmuwan dibidang itu, namun keseriusan upayanya mencerahkan banyak orang. Termasuk menggairahkan riset-riset lainnya.
Hofstede menjelaskan ada empat konsep utama dalam budaya. Menurutnya, orang diberbagai negara dapat dibedakan dengan dimensi: individualis-kolektifis, jarak kekuasaan tinggi-jarak kekuasaan rendah, maskulin-feminin, penghindaran ketidakpastian tinggi dan penghindaran ketidakpastian rendah.
Semua konsep ini indah. Saya bahkan sangat kecanduan menggali dimensi-dimensi tersebut dalam kehidupan praktis. Namun perlu penjabaran yang cukup untuk memahami maknanya secara komprehensif. Kali ini saya akan mengajak untuk menikmati salah satu dimensi saja, yaitu individualis-kolektifis. Keduanya menarik untuk mengupas keberagaman fenomena perkawinan campuran.
Mengapa orang Amerika, Australia, Inggris, Kanada, New Zealand, cenderung beda dengan orang Indonesia, Pakistan, Korea, Thailand? Tentu saja jawabannya bisa sangat luas. Tapi saya akan mengarahkan pandangan kita pada konsep tadi. Kumpulan negara yang pertama disebut adalah kumpulan negara yang cenderung individualis. Sementara kumpulan yang disebut belakangan adalah kolektifis.
Seperti yang kita tahu, tiap orang membawa beberapa tingkat ‘pemrograman’ budaya. Dasar nilai-nilai apa yang baik dan buruk, benar dan salah, logis dan tidak logis, cantik dan jelek, kita pelajari sejak kecil. Kebudayaan memberi dasar fundamental dari apa itu menjadi manusia dan bagaimana seharusnya berinteraksi dengan orang lain.
Pada usia 0 hingga 5 tahun, nilai-nilai yang ditanamkan dikeluarga cenderung dominan. Semakin tinggi usia seseorang, semakin berkurang pengaruh keluarga. Asumsi-asumsi dasar serta nilai-nilai agama cenderung kuat diterapkan pada seseorang melalui komunikasi dalam keluarga. Banyak ahli menyimpulkan, dua tahun pertama, adalah masa keemasan perkembangan otak anak. Melalui keluarga, anak juga belajar nilai-nilai bersih-kotor, baik-buruk, berbahaya-aman, dilarang-diperbolehkan, moral-tidak bermoral, masuk akal-tidak masuk akal dan lain-lain.
Selain itu aturan-aturan lain mengenai aturan tubuh - seperti tangan boleh dilipat, kapan boleh tertawa, dimana meludah, makan dengan tangan, cara duduk dan berdiri. Hal lain seperti kapan berinisiatif, seberapa buruk bila melanggar aturan, seberapa dekat seseorang seharusnya dengan orang lain, apakah dirinya laki-laki atau perempuan, apa implikasinya menjadi perempuan atau laki-laki-, serta masih banyak hal lain yang juga sangat dipengaruhi oleh pola keluarga. Tahun-tahun selanjutnya, guru, teman sekolah, aktivitas olah raga, televisi, pahlawan nasional, figur tokoh agama, hingga dunia kerja memberi warna pada mereka. Namun demikian, fokus kita diusia lebih tinggi adalah lebih pada kegiatan praktis, dibandingkan penanaman nilai-nilai.
Dapat dilihat bahwa pola pikir pada pasangan suami isteri perkawinan campuran akan dipengaruhi oleh budaya masing-masing. Cara mereka berkomunikasi, memerankan diri, melakukan sesuatu, mengatur rumah, memilih makanan, membesarkan anak, mengatur keuangan, memperlakukan mertua dan orang tua, menghendaki pasangannya berperilaku sesuatu, pola konsumsi keluarga, apa arti aib dan kebanggaan keluarga, bagaimana membagi sumber daya dalam keluarga, kemandirian atau ketergantungan diantara pasangan yang diharapkan, sejauh mana kebebasan suami isteri, apa yang dimaksud dengan hormat atau tidak hormat, dan lain-lain juga dilandasi oleh aturan-aturan budaya yang diyakininya. Pada pasangan perkawinan campuran, perpaduan budaya tersebut akan menjadi problematik apabila perbedaan budayanya sangat tinggi.
Masyarakat suatu negara dapat dibedakan antara individualis dan kolektifis. Meskipun semuanya tidaklah pasti pada salah satu sisi ekstrim. Ada negara yang berada diantara keduanya (Jamaika, Rusia, Arab, Brazil, Turki, Yunani dll). Selain itu negara yang individualis, misalnya, masyarakatnya belum tentu semua individualis. Sebagian ada yang abu-abu, sebagian kental kekolektifitasannya. Demikian juga pada kolektifis. Yang menjadi bagian penting adalah adanya kecenderungan besar pada masyarakat suatu negara untuk menjadi individualis atau kolektifis.
Kebanyakan orang di dunia ini hidup di dalam masyarakat yang kepentingan kelompoknya lebih mengemuka dibandingkan pada kepentingan individunya. Mereka dapat dikategorikan kolektifis. Bagi mereka, kelompok adalah sumber utama dari identitas diri. Kekuasaan yang ada bukanlah kekuasaan individu namun kekuasaan kelompok.
Pada kebanyakan kelompok kolektifis, ‘keluarga’ dimana anak dibesarkan terdiri dari sejumlah orang yang tinggal bersama, bukan hanya orang tua dan anak-anaknya, namun juga nenek kakek, paman, bibi, pembantu dan saudara lainnya. Anak dari keluarga kolektifis jarang berada sendirian baik pagi maupun malam. Ketika anak dewasa, mereka belajar untuk berfikir bahwa mereka adalah bagian dari kelompok ‘kita’. Antara orang dengan kelompoknya ada ketergantungan mutual yang berkembang pada tataran praktis dan psikologis.
Kontak sosial dilakukan berkesinambungan. Keharmonisan menjadi hal penting dalam keluarga. Konfrontasi langsung pada orang lain dianggap kasar dan tidak disukai. Pada kelompok kolektifis, pendapat pribadi cenderung tidak ada, yang mendapat tempat adalah pendapat kelompok.
Keloyalan merupakan elemen penting bagi kelompok kolektifis. Jika satu anggota keluarga dari keluarga besar memiliki pekerjaan sementara yang lainnya tidak, orang yang memiliki pekerjaan diharapkan berbagi pendapatannya untuk membantu menghidupi keluarganya. Keharusan pada keluarga kolektifis bukan hanya secara material namun juga secara ritual. Acara keluarga seperti pengajian, sunatan, perkawinan, pemakaman dll adalah penting dan seharusnya tidak dilewatkan.
Itulah sebabnya keluarga sangat penting di kelompok kolektifis. Penyeleksian pasangan hidup dilakukan dengan hati-hati. Tidak hanya pada pasangan tapi juga pada kedua keluarganya. Perkawinan adalah kontrak antar keluarga daripada antar individu.
Pada kelompok individualis, orang cenderung memperhatikan pada diri sendiri dibandingkan pada masyarakat dimana orang tersebut berada. Kebanyakan anak lahir dari keluarga yang terdiri dari orang tuanya, dan mungkin anak lainnya. Dalam masyarakat tertentu malah semakin banyak terdapat keluarga dengan satu orang tua (ibu atau ayah saja). Keluarga lainnya jarang terlihat. Tipe ini disebut keluarga inti atau nuclear family. Anak dari keluarga seperti ini, ketika tumbuh, segera belajar untuk melihat dirinya sebagai ‘saya’.
Tujuan pendidikan adalah untuk membuat anak menjadi mandiri atau berdiri di atas kakinya sendiri. Anak diharapkan meninggalkan rumah orang tuanya segera setelah mereka mampu. Tidak jarang, anak-anak setelah meninggalkan rumah, mengurangi hubungan dengan orang tuanya sampai pada tahap tertentu atau bahkan malah tidak berhubungan sama sekali. Secara praktis maupun psikologis, seorang yang sehat dalam tipe ini diharapkan menjadi orang mandiri dalam suatu kelompok.
Pada keluarga individualis, berbicara tentang pikirannya dianggap baik. Menyatakan hal yang sebenarnya tentang bagaimana perasaannya adalah karakteristik orang yang tulus dan jujur. Konfrontasi dianggap baik, perselisihan pendapat dipercaya sebagai arahan untuk mencapai kebenaran yang lebih tinggi. Berhadapan dengan konflik adalah bagian yang normal dalam kehidupan bersama dalam keluarga.
Secara aplikatif, dalam acara perkawinan, bila anda merasa perlu mengundang ratusan bahkan ribuan orang, anda masuk kategori kolektifis. Orang individualis, akan nyaman-nyaman saja mengundang 10-20 orang.
Orang tua kolektifis akan mempersiapkan anak untuk mandiri, tapi cenderung akan merasa sampai kapanpun anak adalah anak. Bahkan ketika memiliki cucu, dia masih akan terus merasa bertanggung jawab untuk membantu mengurusnya. Orang tua individualis, akan mengantarkan anaknya segera menjadi mandiri, membiarkan mereka membuat keputusan sendiri tentang pilihan hidupnya. Suatu ketika orang tua sudah tua, anak dan orang tua sama-sama sepakat untuk mengirimkan sang orang tua tersebut kerumah jompo.
Contoh lain, bila ada anggota keluarga melakukan kesalahan dan harus berhubungan dengan institusi hukum, anggota kolekfitis cenderung merasa sedih dan sangat malu pada lingkungan. Perasaan malu atau merasa hal itu sebagai aib cenderung lebih besar dan mengganggu. Sementara kelompok individualis, akan merasa sedih, tentu saja, tapi tidak terlalu terbebani oleh pendapat orang lain. Bilapun ada, cenderung tidak sebesar kelompok kolektifis.
Kelompok seperti KPC ini dapat dimaknai berbeda bagi kelompok individualis dan kolektifis. Keterlibatan komunitas seideologi atau sevisi memang hal yang lumrah bagi kelompok individualis. Bagi kelompok kolektifis, artinya bisa jadi dua. Selain tempat berbagi dalam kaitan komunitas yang memiliki visi sama, tapi juga kebutuhan dasar dari kelompok kolektifis untuk mengelompok.
Jadi bila pertanyaan yang muncul adalah mana yang lebih baik, antara indivdualis atau kolektifis? Saya speechless. Tak punya pilihan tegas. Alasannya adalah karena semuanya indah. Semuanya memiliki nilai-nilai filosofis yang tinggi.
Tapi begini, bila kita ada diantara keduanya, bagaimana bila kita tak henti-hentinya mengeksplorasi keduanya. Memilih yang tepat untuk diri kita. Dengan kesadaran penuh memilih terbuka pada keberagaman perspektif. Tidak perlu mengingkari keaslian kita, karena budaya telah cenderung tertanam dalam sistem syaraf. Keterbukaan menerima pasangan berbeda perspektif juga sebuah keindahan. Dengan eksplorasi tadi, kita dapat menerima pasangan dengan hati lapang. Kebesaran hati menerima keberagaman adalah hal indah. Itulah yang kita mau.
Penulis adalah Peneliti Komunikasi Antarbudaya
Labels: budaya, perkawinan