Masih ingat ketika sekolah dulu, banyak guru-guru kita bak menara gading yang sulit teraih. Kita hormati namun segan untuk berbicara dengannya. Pada orang tua juga begitu. Rasanya segan bicara hal-hal sensitif pada orang tua. Memang, tidak semua keluarga demikian, tapi umumnya hubungan anak dengan orang tua berjarak, di Indonesia. Bila orang tua kita bisa bersikap sangat egaliter (selevel), mungkin itu adalah hasil rekayasa kreatif dirinya. Kakek nenek kita mungkin masih berjarak dengan orang tua kita.
Hasil riset Hofstede (2005) menggambarkan bahwa Indonesia berbudaya jarak kekuasaan tinggi. Jarak kekuasaan dapat didefinisikan sebagai tingkat dimana pihak yang kurang kekuasaannya menerima bahwa kekuasaan didistribusikan secara tidak sama. Negara seperti Malaysia, Philippines, Russia, Romania, Mexico, negara-negara Arab, China, Indonesia dll. cenderung berjarak kekuasaan tinggi. Sementara negara seperti Austria, Denmark, New Zealand, Jerman, Irlandia, Inggris, Australia, Belanda, USA, Canada, cenderung berjarak kekuasaan rendah.
Semua orang mulai menerima software mentalnya setelah dia lahir. Software tersebut diperoleh dari orang tua yang membesarkannya. Model perilaku tersebut biasanya menjadi contoh pola bagi dirinya kelak. Dapat dikatakan keluarga merupakan unit sosial utama yang membuat seseorang tergantung satu sama lain. Misalnya, anak tergantung tentang makanan, perhatian, pakaian dari orang tuanya. Anggota keluarga tergantung satu sama lain tentang pendapatan, transportasi, cinta, kasih sayang dan lain-lain. Karena ketergantungan ini, distribusi kekuasaan dalam keluarga tidak rata.
Faktor seperti kekuasaan yang diberikan masyarakat pada orang tua atas anaknya, kemampuan finansial orang tua yang secara otomatis mengontrol keuangan keluarga, kondisi fisik orang tua yang cenderung lebih besar dari anak mereka, juga turut berkonstribusi. Bahkan diantara anak-anak disebuah keluarga, juga ada hierarki. Anak yang lebih besar biasanya memiliki kekuasaan lebih besar pada adik-adiknya. Pola ini dilestarikan oleh keluarga, sekolah, tempat kerja dan masyarakat pada umumnya.
Bila dihubungkan dengan emosi, orang di budaya yang jarak kekuasaan tinggi cenderung menampakkan emosi yang menunjukkan perbedaan status. Sementara orang dalam jarak kekuasaan rendah akan menunjukkan emosi yang meminimalkan kebedaan status.
Pada keluarga yang berbudaya jarak kekuasaan rendah, anak kurang lebih diperlakukan sama segera setelah mereka dapat bersikap. Sejak kecil perilaku berbicara dengan kata diajarkan dengan serius. Verbal (pilihan kata) lebih berjaya dibandingkan nonverbal (sikap, gerak tubuh, suara, dll). Penyampaian argumen dianggap sebagai hal yang baik, bahkan diapresiasi. Mereka diajarkan mengatakan ’tidak’ dengan jelas. Pemanggilan nama pada orang tua juga bukan hal yang aneh, dan diterima dengan wajar. Cara orang tua memperlakukan ketika mandi, makan, atau berada dirumah cenderung mendorong kemandirian.
Tujuan dari pendidikan orang tua dari jarak kekuasaan rendah adalah untuk membuat anak mengambil kontrol pada diri dan kebutuhannya segera setelah mereka bisa. Anak diharapkan bereksperimen secara aktif. Sikap pada orang lain juga tidak tergantung pada usia atau status orang lain. Respek formal dan rasa hormat jarang ditunjukkan. Ketika anak tumbuh mereka mulai menghubungkan orang tuanya sebagai teman, atau sekurang-kurangnya sama. Wajar bila tidak ada pertanyaan pada anak yang telah dewasa untuk meminta izin dari orang tuanya atau bahkan saran atas keputusan pentingya. Kemandirian cenderung penting pada negara berbudaya kekuasaan rendah. Sangat mungkin orang tua perlu membiayai hidupnya sendiri berdasarkan tabungannya dahulu. Mereka tidak menggantungkan dukungan dari anak-anak mereka, bahkan mereka tidak mengharapkan untuk tinggal dengan anaknya.
Pada jarak kekuasaan tinggi, ada kehangatan dan perhatian yang sangat tinggi dari cara orang tua dan anak yang lebih tua yang ditunjukkan pada anak yang lebih muda, khususnya pada yang sangat muda. Dalam hubungan keluarga, kekuasaan orang tua cenderung berlanjut hingga tua. Meski secara fisik tidak lagi menjadi pembeda. Umumnya orang memberikan penghargaan yang tinggi pada orang tuanya sepanjang hidupnya. Mereka patuh pada orang tuanya sepanjang orang tuanya masih hidup. Orang tua dan kakek atau nenek dilayani dengan rasa hormat yang formal bahkan ketika anaknya telah mengambil alih kontrol pada kehidupan mereka. Sangat umum bila kakek nenek hidup dengan keluarga anak-anaknya. Pada komunitas anak-anak, terkadang ada aturan kekuasaan di antara anak-anak itu sendiri. Anak yang lebih muda diharapkan mengalah pada yang lebih tua. Ini adalah pola dari ketergantungan senior yang telah merembes pada seluruh unsur kehidupan, dan software mental yang orang bawa berisi kebutuhan untuk ketergantungan ini.
Pada kehidupan sekolahpun demikian. Umumnya guru berjarak dengan murid-muridnya. Pada aktifitas profesional, atasan dengan bawahan pada perusahaan atau departemen dipemerintah ’tertentu’ masih terasa seperti raja dengan abdi dalem. Bilapun tidak demikian, kemungkinan ada faktor-faktor pendukung dalam pola pikir orang tersebut. Seperti pendidikan, lingkungan, buku bacaan, pengalaman mungkin bersumbangsih.
Pada riset saya (Mona, 2007) tentang perkawinan antarbudaya Sunda-Arab, ditemukan bahwa tekanan senioritas pada kedua pasangan cenderung tinggi. Hal itu menimbulkan ketegangan hubungan, baik antara suami isteri, maupun pasangan dengan lingkungan. Kedua etnis Sunda-Arab, berbudaya jarak kekuasaan tinggi. Sebuah contoh, Fatimah adalah seorang Arab, misalnya, ketika hamil disarankan oleh mertuanya membawa gunting atau benda tajam sejenis dengan tujuan untuk menghindari dari gangguan makhluk halus. Fatimah yang sejak kecil tidak terbiasa dengan budaya semacam itu, mengalami ketidaknyamanan. Apalagi ketika dia menghubungkan tradisi tersebut dengan keyakinannya. Meski mereka seagama. Ajaran dikeluarga Fatimah meyakini perbuatan tersebut dikhawatirkan menyebabkan musyrik. Mempercayai kekuatan selain Tuhan.
Bagi Fatimah, tekanan senioritas ini menambah ketidaknyamanan dirinya. Kepatuhan pada orang tua atau yang dituakan merupakan hal yang penting. Belum lagi dihadapkan pada resiko sosial dikucilkan dari lingkungan keluarga pasangan. Untuk mengatasinya, Fatimah memilih mengatur cara berfikirnya. Dia berargumen, gunting tadi dilihatnya sebagai alat. Sambil membawa gunting, Fatimah berdoa, ”Tuhan, ini gunting aku bawa buat menggunting kalau-kalau aku perlu. Aku tidak percaya gunting ini bisa menghindari makhluk halus. Aku percaya pada-Mu”.
Mari kita tengok sistem keluarga patrilineal, matrilineal atau bilateral. Sistem ini cukup akrab ditelinga kita. Pada sistem keluarga patrilineal yang cukup solid, garis keturunan ayah, adalah penting. Kebijakan keluarga, aturan yang dibentuk, hingga benar salah banyak ditentukan dari cara pandang pria. Dan dalam hal ini para perempuan yang berada di sistem keluarga patrilineal bersedia mengikuti kebijakan tersebut. Atau tidak berani melanggar aturan yang ditetapkan tersebut.
Pada budaya matrilineal, garis keturunan Ibu menjadi penting. Di Indonesia, garis matrilineal dapat dilihat pada budaya Padang. Budaya Sunda, dapat dikatakan bilateral, yaitu keduanya dipertimbangkan. Namun demikian menengok sejarah Sunda, dari berbagai sastra lisan maupun tulisan, dapat dilihat bahwa orang Sunda cenderung matrilineal. Tokoh wanita cukup penting dan mendapat tempat di tatar Sunda. Dari sejarah sastra dapat dilihat bahwa penguasa di Kahiyangan yaitu ”Sunan Ambu” adalah pemimpin perempuan. Ada lagi Nyi Mas Purba Sari Ayu Wangi adalah tokoh wanita yang cantik, penyabar, tawakal serta adil. Selain itu ada Dewi Pramanik, yaitu tokoh wanita yang berilmu tinggi. Dewi Sartika juga tercatat sebagai pelopor pendidikan perempuan di Jawa Barat.
Implikasi pada perempuan berbudaya matrilineal yang menikah dengan pria berbudaya patrilineal, mungkin dapat dilihat adanya ketegangan hubungan karena budaya yang berbeda. Sang isteri merasa layak membuat keputusan, suamipun demikian. Bila mengacu pada budaya Indonesia yang cenderung patrilineal, budaya matrilineal mungkin tidak memiliki bentuk bundarnya.
Beberapa negara Barat memiliki budaya bilateral. Hal ini berimplikasi adanya rasa dihargai pada perempuan yang memiliki pemikiran patrilineal dan memiliki pasangan berbudaya bilateral. Perempuan tersebut merasa nyaman diajak membuat keputusan dan dalam konteks seimbang. Meski dia merasa keputusan akhir sebaiknya dibuat oleh suami. Saya punya contoh yang mungkin dapat mewakili. Nisa, berbudaya patrilineal, bersuamikan Rahmat berbudaya matrelineal. Nisa tidak puas karena dalam banyak hal suaminya menyerahkan pada dirinya untuk membuat keputusan. Dia menganggap suaminya bukan cowok macho dan tidak dapat diandalkan. Empat tahun perkawinan, Nisa bercerai dengan Rahmat. Kebutuhan dasar yang sudah subur dikepala, sulit untuk kita hapus begitu saja.
Oberg mengatakan bahwa semakin tinggi jarak perbedaan antara budaya yang satu dan budaya lain, semakin akan membuka peluang terjadinya gegar budaya. Gejala terjadinya gegar budaya pada seseorang dapat menimbulkan perasaan rindu mendalam pada daerah aslinya, dorongan untuk makan, menarik diri, menangis tanpa alasan, kejenuhan, menjadi sangat bersih, cepat marah, konflik dengan keluarga, stress pada perkawinan, perilaku chauvinistik, stereotype, memusuhi orang lokal, kebanyakan tidur, bekerja tidak efektif, penyakit fisik. Sesungguhnya, perlu disadari bahwa penyesuaian budaya itu tidak dapat dihindari dan reaksi emosional tidak selalu mudah untuk dilakukan lantaran hal itu sangat subjektif sifatnya.
Singkatnya, ada jarak kekuasaan tinggi dan rendah, atau juga ditengah-tengah antara tinggi dan rendah. Biasanya orang ada disalah satunya. Namun demikian, peran sosial, pendidikan, lingkungan dimana keluarga itu dibesarkan juga memegang peranan penting. Keluarga yang mengembangkan budayanya sendiri, mungkin dapat berbeda dengan norma masyarakatnya, selain itu kepribadian dari individu orang tua dan anak dapat mengarahkan pada perilaku yang bukan tipikal.
Saya ingin mengatakan bahwa semua budaya indah, dan memiliki nilai-nilai uniknya masing-masing. Tidak ada maksud untuk menawarkan hal yang lebih baik disini. Semoga anda sepakat dengan saya, bahwa tidak bijak bagi kita untuk mengukur budaya dengan keyakinan kita sebagai standartnya. Bila kita renungkan dengan hati-hati, kemungkinan akan setuju pada satu sisi, dan kerabat kita memilih berada dipola pikir berbeda. That’s fine. Yang utama adalah, ketika kita memilih pasangan, sebaiknya sadari isi kepalanya juga. Bilapun sudah terjadi, kita masih punya banyak ruang untuk mendiskusikannya. Mari.
Labels: jarak kekuasaan