Thursday, May 22, 2008
Culture Shock
Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem
Memikirkan tinggal di Belanda, menggairahkan fantasi Tiara. Fenomena alam baru, cuaca berbeda, orang-orang beragam, benda-benda unik dari kebiasaan mata memandang. Empat bulan sudah dia menetap di negeri ini. Penempatan mengikuti suami sebagai diplomat. Awalnya semua seksi. Banyak yang menarik, unik dan inspiratif. Selanjutnya, kebedaan menjadi bertubi-tubi.
Orang
Sensasinya beragam. Ringan hingga berat. Kadang ada halusinasi. Tiara kerap pusing-pusing. Kadang dia mendengar suara-suara atau pemandangan dan bau-bau aneh. Semua itu menjengkelkannya. Ratih, teman Tiara, mengalami depresi, apatis, sering mengantuk, dan suka makan atau minum berlebih. Ada lagi Dani, teman Tiara lainnya, yang tidak mampu mengelola dirinya hingga terperangkap oleh narkotika dan seks.
Hal lain yang umum melanda adalah rasa rindu yang tak tertahankan pada kampung halaman. Akibatnya banyak hal menjadi komplain disana-sini. Perbandingan tentang kehidupan antara Belanda dengan Bandung menjadi rajin muncul. Pokoknya orang Bandung itu hebat, baik, ramah, makanannya enak, siaran radionya oke, udaranya segar, tempat jalannya banyak. Dan masih banyak lagi.
Penyakit culture shock ini biasanya timbul dibulan kedua atau ketiga. Dan hilang dibulan keempat atau keenam, atau ketika sudah dapat merasakan keseimbangan hidup didaerah baru. Perasaan lebih nyaman tinggal di daerah baru menjadi kian akrab.
Apa yang Tiara lakukan? Ternyata dari beberapa konsultasi, Tiara dan teman-temannya mengurangi penderitaan akibat culture shock dengan beberapa cara. Pertama, berkumpul dengan komunitas daerah tujuan sebelum menetap disana. Tiara menggali informasi tentang kehidupan sehari-hari dan budaya mereka. Kedua, dia menyadari bahwa lingkungan, suara, bau-bauan, bahasa dan banyak lagi yang berbeda, adalah wajar. Ketiga, Tiara menjadi lebih sabar dan berusaha memahami kesulitan diri dan orang lain ketika berkomunikasi. Keempat, dia mengikuti fitnes dengan teratur, istirahat cukup, makan sehat. Kelima, Tiara mau bergabunglah dengan komunitas setempat yaitu kegiatan keagamaan dan kemanusiaan. Sebaiknya tidak mengasingkan diri atau menjadi eksklusif.
Jadi, sesungguhnya, jika memiliki mobilitas tinggi, kita tidak dapat membangun benteng yang imun dari culture shock. Memang menguntungkan bagi kita jika dapat melihat perspektif beragam dengan kunjungan kewilayah lain. Bisa melihat alam lain secara real, bukan hanya dari web atau buku. Namun, ada harga yang harus dibayar dengan suatu keputusan traveling, termasuk potensi culture shock. Tapi itu semua dapat diatasi dengan adanya pengetahuan, kebijaksanaan dan penerimaan.
Labels: culture


