Leila Mona Ganiem

My Writings, Dreams, Thought and Love

Thursday, August 28, 2008

Kita Punya Modal Untuk Jadi Negara Maju

Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem

Sangatlah tidak mudah bagi negara Indonesia yang saat ini Produk Domestik Bruto (PDB) rendah, jumlah orang miskin masih sekitar 16,58%, jumlah pengangguran masih tinggi sekitar 9%, tingkat inflasi 6-6,5%, tingkat suku bunga 8%, berandai-andai menjadi negara maju. Namun jangan lupa, mimpi, adalah pembeda signifikan yang membuat sesuatu ada. Peringkat negara berkembang masih ditangan kita. Namun bila kita cermati lagi, kita punya modal untuk menjadi negara maju.

Saya ingin mengajak menengok sejarah. Memang, dari sejarah kita belajar bahwa kita tidak belajar dari sejarah. Untuk beberapa sejarah ini, semoga menginspirasi.

Sebelum 1853, Jepang betul-betul merupakan negara sangat tertutup dan diperintah dengan cara sangat feodalistik. Angkatan laut Amerika dibawah pimpinan Laksamana Perry meminta minta pintu gerbang Jepang dibuka dan minta berunding dengan tujuan agar Jepang membuka diri kepada pihak asing, berdagang dan membolehkan kapal asing merapat di pelabuhan Jepang. Mulai saat itu Jepang menyadari adanya kekuatan-kekuatan besar diluar mereka. Restorasi Meiji di Jepang adalah suatu momen rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Mereka terinspirasi untuk menjadi sekurang-kurangnya sama kuatnya dengan orang asing. Jepang lalu menerapkan etos kerja yang mengagumkan. Dimulai dengan pendidikan, gemar membaca, bekerja keras, pantang menyerah, bekerja kelompok dan mandiri menciptakan inovasi-inovasi baru. Disamping itu, nilai-nilai seperti hidup berhemat, memiliki budaya malu, loyal, serta menjaga tradisi juga diterapkan pada masyarakatnya. Dalam waktu singkat, Jepang telah melihat progres ketekunannya.

Kita lihat lagi, Korea Selatan. Kini negara ini telah menjadi salah satu dari empat Macan Asia Timur. Pertumbuhan ekonominya terbesar ke-12 didunia. Padahal setelah berakhirnya PD II, PDB perkapita mereka hampir sama dengan negara miskin lainnya di Afrika dan Asia. Kesuksesan ini dicapai pada akhir 1980-an dengan sebuah sistem ikatan bisnis-pemerintah yang dekat. Etos kerja juga menjadi prioritas. Pemerintah Korea bersemangat membentuk tipe manusia. Ada 4 (empat) kualitas yang difokuskan orang Korea. Pertama, “ rajin bekerja“ dan bekerja hingga tuntas. Kedua, “berhemat“. Ketiga, “sikap self-help“.. Keempat, “kooperasi atau kerja sama”. Keempat etos tersebut mampu mengubah Korea menjadi negara besar. Dalam beberapa kunjungan ke pabrik Korea, saya melihat betapa nilai-nilai itu semua diterapkan dengan disiplin.

Kitapun terkejut melihat perubahan Malaysia yang sangat cepat melampaui Indonesia. Kita tidak menyangka dan lengah dengan mengingat-ingat bahwa dulu mereka belajar dari Indonesia, selanjutnya mereka lebih unggul dari kita. Visi Malaysia jelas. Menjadi negara industri dan maju di tahun 2020. Memiliki moral dan etika serta nilai-nilai yang kuat, tinggal dalam masyarakat yang demokratis, libaral dan toleran, peduli, secara ekonomi adil, progresif dan sejahtera. Malaysia juga bervisi untuk tangguh dalam ekonomi, kompetitif, dinamis dan ulet. Pendidikan menjadi fokus Malaysia untuk mengangkat masyarakatnya diawal perkembangan bangsa ini. Sekarang, pemantapan dan perbaikan struktur menjadi fokus utama mereka.

Kita menyaksikan, mereka semua sama, awalnya bukan negara maju, melainkan negara berkembang yang bergeser dengan cepat kearah kebangkitan nasional. Kita, bangsa Indonesia, memiliki modal penting untuk menjadi maju. Karena itu, mari kita mengorek dengan tekun modal berharga yang kita miliki.

Modal pertama, Indonesia memiliki wilayah yang luas. Tanah dan air lebih dari 5 juta km2. Tiga perlima bagian adalah laut, dua perlimanya adalah daratan. Artinya tanah air kita luas. Sumber daya alam kita juga luar biasa. Ada minyak, gas, batubara, emas, tembaga, dll. Hasil bumi juga banyak. Keindahan dan keanekaragaman flora dan fauna juga kaya. Banyak keberlimpahan yang dapat kita gali dengan sekian besar sumber daya alam. Secara geografis, posisi Indonesia sangat strategis. Yaitu di silang kepentingan bangsa-bangsa yang berada di sebelah utara Asia, negara-negara yang secara ekonomis maju dan memerlukan sumber daya alam dan pasar bagi produk-produknya; di selatan Australia dan New Zealand. Berbatasan dengan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Indonesia juga memiliki dua musim. Kemewahan ini dapat dimanfaatkan untuk bekerja dalam kedua musim dengan aktif.

Modal kedua, masyarakat Indonesia adalah masyarakat gotong royong. Berbudaya kolektifis. Dalam masyarakat ini, orang berfikir bahwa mereka adalah bagian dari kelompok ‘kita’. Hubungan ini terjadi secara alami dan mengakar dalam budaya. Rasa kekeluargaan masih cukup solid dan merupakan sumber awal dari identitas seseorang. Rasa ini merupakan jaminan kokoh yang orang miliki dalam menghadapi kesulitan hidup. Antara orang dengan kelompoknya ada ketergantungan mutual yang berkembang pada tataran praktis dan psikologis. Dalam situasi yang intens dan berkontak sosial yang berkesinambungan, keharmonisan dengan orang dari lingkungan sosialnya menjadi modal penting dalam melakukan pembinaan pada masyarakat kita. Sebuah contoh, kegiatan seperti siskamling, kenduri, melayat, saling membantu anak yatim, membersihkan lingkungan, adalah bentuk dari keakraban yang luar biasa.

Modal ketiga, budaya. Kita memiliki budaya yang sangat kaya dan penuh warna. Bagai mozaik. Ratusan bahasa, beragam tari-tarian, karya seni yang merefleksikan keindahan budaya daerah, lagu-lagu, masakan, dan masih banyak lainnya adalah modal penting baik secara ekonomi, politis, estetis, sosial, dll. Pengoptimalan modal budaya Indonesia dengan baik, dapat menjadi lahan pariwisata dan aset ekonomis yang luar biasa. Mari kita tengok Malaysia yang cukup berani mengatakan “the Truly Asia”. Membandingkan dengan keragaman budaya dan berkah alam yang luar biasa yang kita miliki, sungguh, kita masih punya ruang sangat sangat luas untuk tampil sebagai bintang tourisme dan membuat wisatawan dapat menikmati one-stop-tourism di Indonesia.

Modal keempat, Agama. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang agamis. Semangat keagamaannya relatif tinggi. Pengajian-pengajian atau kegiatan keagamaan masih dapat tempat dalam keseharian banyak orang. Kota-kota besar dan kehidupan yang individualis serta modern ternyata tidak mengkikis keagamaan bagi masyarakatnya. Suatu hal yang perlu disyukuri bahwa bahkan kesadaran beragama dan penggalian ilmiah mengenai agama justru lahir dimasyarakat kota. Masyarakat merasa perlu memiliki benteng kuat pada agama. Kini, kelompok-kelompok agama makin berani menunjukkan jati dirinya, tidak sekedar menjadi ruang kelompok yang damai. Nilai-nilai etos kerja dari agama seperti patuh pada pemimpin, pantang menyerah, tekun, tulus, optimis, jujur, penuh komitmen dan ikhlas merupakan modal besar suatu kemajuan bangsa yang dapat dikembangkan dengan bersinergi melalui agama.

Modal-modal tersebut perlu dioptimalkan. Beberapa strategi optimalisasi yang dapat dilaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut.

Satu, kita perlu memiliki visi yang jelas. If you fail to plan, then you plan to fail. Begitulah kira-kira betapa pentingnya perencanaan visi. Keinginan negara yang bersifat ideal sebaiknya dirumuskan dengan seksama karena hal itu menentukan arah atau keadaan Indonesia dimasa depan. Visi selanjutnya diimplementasikan dalam program-program yang tepat. Mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, saya setuju dengan pemikiran Prof. Dimyati Hartono yang menawarkan konsep pembangunan yang berorientasi pada laut (sea base oriented) dibandingkan berorientasi ke darat (land base oriented) seperti yang saat ini sedang berjalan. Kesalahan meletakkan orientasi pembangunan ini menjadi salah satu penyebab terjadinya kesenjangan antara kawasan Indonesia Barat dan Timur. Selain itu dengan bervisi ke daratan, potensi laut di Indonesia kurang dioptimalkan. Mari kita revisi visi kita dengan berfikir besar dan fokus.

Dua. Pendidikan. Semua orang Indonesia perlu belajar hingga pendidikan tinggi, dan menjadi ahli dibidangnya. Beasiswa-beasiswa perlu secara gencar diupayakan oleh pemerintah, insititusi pendidikan dan masyarakat. Banyak peluang tersedia. Insitusi atau organisasi swasta dapat membantu memberikan ruang pendidikan bagi pegawai atau masyarakat sebagai bukti kepedulian sosialnya (CSR- corporate social responsibility). Organisasi yang aktif belajar akan menjadi organisasi yang tangguh dan maju. Karena itu SEMUA PIHAK.sekali lagi SEMUA PIHAK, mari belajar dan belajar. Life long education. Miliki pengetahuan yang berkualitas, sehingga kita mampu berfikir dan memilih strategi terbaik bagi bangsa ini.

Tiga, gotong royong. Masyarakat Indonesia sesungguhnya suka bergotong royong dan hidup bersama, namun di perkotaan, masyarakat kian individualis. Saripati-saripati kearifan budaya kolektifis seperti toleransi, ketulusan, saling menolong, empati, saling mendukung, menjadi kian menghilang. Figur diri karena desakan ekonomi dan lingkungan membuat sentralisme dan otoriterisme makin dominan. Kita semua perlu bekerja sama merevitalisasi hubungan agar unsur-unsur yang baik dari kehidupan bersama dan bergotong-royong tetap terjaga.

Empat, menggali budaya. Kekayaan budaya Indonesia disatu sisi adalah berkah, sisi lain, kerawanan. Kelemahan kesatuan antar suku dapat terjadi bila masing-masing kelompok merasa budayanya lebih penting dan lebih baik. Etnosentrisme bisa jadi ancaman. Karenanya, kita perlu menciptakan rasa kebersatuan dan kebanggaan kolektif pada budaya Indonesia. Sebuah contoh, batik, yang kali ini diterima secara luas dan menimbulkan kebanggan saat mengenakannya, adalah suatu refleksi yang dapat dijadikan model pensosialisasian budaya Indonesia lainnya untuk diterima secara kolektif oleh masyarakat. Jadi, modal budaya Indonesia sesungguhnya dapat digali dari budaya-budaya lokal. Bila modal ini mengalami kemacetan bertumbuh, berkembang atau mati, kita sendiri mengalami kerugian yang besar. Tidak ada lagi pembeda khas antara Indonesia dengan negara lain. Keseriusan kita bersama mempertahankan dan mengurus budaya lokal sebaiknya dimulai saat ini.

Lima, melaksanakan agama dan berdoa. Kesadaran yang baik dalam beragama, penerapan keyakinan sesuai dengan ajarannya, adalah hal yang utama. Selain itu, toleransi beragama dari para pemeluk agama di Indonesia akan menjadi sangat imperatif mengingat agama yang diakui oleh negara tidaklah satu.

Indonesia adalah negara kita tercinta. Mari kita membangunnya menjadi negara maju. Kita punya modal, tinggal kita gali serta gunakan. Mari kita terbang bersama burung Garuda kita yang perkasa. Membumbung tinggi melihat alam luas. Mari kita menjadi negara maju yang makmur dan sejahtera serta madani dengan berkah Allah SWT. Amien

Terbit di The Fatwa Center Buletin, edisi Agustus 2008

Kenangan tentang ‘The Daughter of East’, Benazir Bhutto

Oleh Dr. Leila Mona Ganiem

27 Desember 2007, jam 20.47, ada sms dari paman saya. Pesannya berisi: Breaking News: Benazir Bhutto passed away today killed in Rawalphindi.” Saya terdiam. Tak terasa pelupuk mata saya basah. Hati saya berdegup lebih kencang. Terbayang kuat tadi pagi ada tulisan tentang kampanye politik Benazir yang saya baca sekilas. Tertulis disana Benazir akan maju terus, turun kejalan. ”Apapun yang akan menghalanginya.” Ada getar tertentu dalam hati saya ketika membacanya. Rasa itu baru terjawab malam ini. Segera saya membuka www, mencari data lebih rinci tentang perempuan inspirator ini. Benar. Mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto terbunuh dalam kampanye di kota Rawalpindi, Pakistan, pukul 20.16 WIB.

Berita tentang tokoh Pakistan kerap berdarah-darah. Banyak tokoh negara ini meninggal karena pembunuhan. Diantaranya: Perdana Menteri pertama Pakistan, Liaquat Ali Khan, terbunuh tanggal 30 Oktober 1951. Zia ul-Haq, Presiden, meninggal dalam kecelakaan pesawat tahun, 17 Agustus 1988. Keluarga Bhutto sendiri tidak lepas dari tragedi berdarah. Zulfikar Ali Bhutto, ayahnya yang seorang Perdana Menteri dan Presiden, dieksekusi tanggal 3-4 April 1979. Setahun kemudian, adik laki-lakinya, Shahnawaz, meninggal dalam kondisi misterius di Perancis. Keluarganya yakin Shahnawaz diracun, tapi tidak ada upaya hukum selanjutnya. Mir Murtaza, saudaranya juga, meninggal dalam kontak senjata dengan polisi di Karachi, tahun 1996.

Sekitar 12 tahun lalu Femina menawarkan saya mewawancarai Perdana Menteri perempuan pertama dunia, Benazir Bhutto. Kebetulan saat itu saya sedang bertugas di KBRI Islamabad, Pakistan, dan beberapa kali mengirimkan artikel ke Femina. Bagi saya tawaran itu adalah suatu kesempatan emas. Perempuan ini adalah tokoh yang sangat saya kagumi. Selain itu mewawancarai seorang pimpinan negara adalah pelajaran mahal!

Benazir memang akan berkunjung ke Indonesia. Berbekal surat penugasan Femina, saya menyampaikan surat permohonan wawancara. Tanggapannya cukup positif. Meski sibuk, Benazir menyatakan kesediaannya diwawancarai. Tanggal sedang diatur, secara verbal saya telah diberitahu estimasinya. Beliau minta pertanyaan disediakan, untuk dipelajari arah bahasannya. Tiga hari sebelum ke Indonesia, Asisten beliau mengabari bahwa karena beberapa kegiatan urgen, Benazir tidak dapat mengatur waktu bertemu. Biasanya staf ahli Perdana Menteri yang menjawab wawancara para wartawan. Namun kali ini pertanyaan akan dijawab langsung oleh Benazir karena membahas tentang pribadi dan pemikirannya sebagai perempuan. Saya senang mendengarnya.

Mohtarma Benazir Bhutto, yang ketika gadis kerap dipanggil ’Pinkie’, lahir 21 Juni 1953. Dia adalah seorang perempuan pertama Pakistan yang memimpin di negara Islam. Budaya patriarki Pakistan sesungguhnya mendukung peluang lebih terbuka pada laki-laki ketimbang perempuan. Namun tidak demikian pada keluarga Bhutto. Keluarga ini sangat egaliter. Benazir bahkan sempat kuliah di Universitas Harvard dan Oxford. Kemampuan orasinya juga mengagumkan. Dia pernah menjadi pemimpin Oxford Union, sebuah kelompok diskusi di kampusnya.

Semenjak kecil, kehidupan politik telah dekat dengan keluarganya. Benazir bahkan berguru secara praktis pada Ali Bhutto, Perdana Menteri Pakistan, melalui peluang mengikuti sang ayah pada diplomasi politik ke berbagai negara. Pendidikan politiknya juga ditempa dipenjara. Beberapa kali dia ditempatkan dipenjara, tanpa kontak dengan siapapun kecuali sipir. Benazir juga beberapa kali diasingkan keluar negeri. Ada berita miring tentang pengasingannya, dengan tegas Benazir membantah: ”Kenapa aku harus mengasingkan diri keluar negeri?.... aku dilahirkan di Pakistan, aku akan mati di Pakistan” (1988). Benar saja, dua puluh tahun kemudian, kembalinya ke Pakistan bulan Oktober 2007 setelah hidup dipengasingan, ternyata tepat, seperti pernyataannya.

Latar belakang sosial budaya dan pendidikan yang bervariasi membuat pemikiran Benazir menjadi kaya. Akulturasi nilai-nilai Islam, budaya Barat yang sekuler dan Pakistan yang feodal, membentuknya menjadi seorang yang berkepribadian ”campuran”. Kemampuannya mengawinkan ketiganya membuat Benazir mudah diterima didunia Barat. Disisi lain, terkadang dia mengalami kesulitan untuk mendekati kaum agamis.

Awalnya, Benazir tidak meminati terjun di bidang politik. Dia lebih tertarik pada masalah internasional tanpa unsur politik. Ayahnyalah yang mendukungnya didunia politik. Kematian ayahnya, memicu terjadinya resosialisasi pada diri Benazir dalam kehidupan politik praktis. Bahkan dalam suatu wawancara, Benazir mengatakan, ”Yang utama dalam kehidupanku adalah politik, baru yang lain-lain... kewajibanku yang utama adalah untuk partai, untuk demokrasi dinegaraku” (1989).

Kematian Zia ul-Haq membawa kekosongan kekuasaan yang berarti membuka peluang bagi Benazir masuk gerbang kekuasaan. Apalagi saat itu tidak ada tokoh sepopuler Benazir untuk menjadi Perdana Menteri Pakistan. Akhir tahun 1988, Benazir menjadi Perdana Menteri pada usia 35 tahun. Dua puluh bulan kemudian, Benazir digeser Nawaz Syarif. 6 Oktober 1993-5 November 1996, Benazir kembali merebut mahkota Perdana Menteri Pakistan.

Naiknya Benazir dalam kancah politik Pakistan dan dunia, disambut positif oleh kaum perempuan. Benazir dianggap membebaskan mereka dari belenggu dominasi pria. Benazir dianggap sebagai tokoh yang menunjukkan bahwa perempuan dapat keluar dari ”dinding” rumah. Menurut Benazir, ”Pria dan wanita dihadapan Tuhan punya kedudukan sama. Saya bangga menjadi wanita Islam.... adalah interpretasi salah dari kaum pria atas ajaran Islam, dan bukan ajaran itu sendiri yang membatasi kesempatan kaum wanita untuk memerintah. Sejarah Islam sebenarnya penuh dengan para wanita yang memainkan peran penting dalam masyarakat serta memerintah dengan kecakapan yang tak kalah dibanding pria” (1988).

Keluarga tampaknya cukup penting bagi kehidupan Benazir. Perkawinan Benazir dengan Asif Ali Zardawi, meski diatur oleh keluarga, oleh banyak kalangan disebut memberikan keuntungan politis bagi Benazir. Ali Zardawi adalah seorang pemimpin Partai Nasional Awami, kelompok kiri yang menjadi oposan pemerintah Zia- yang cukup berpengaruh dan kaya. Sehingga dengan terjalinnya tali keluarga antara keluarga Bhutto dan Ali Zardawi, maka kekuatan mereka menjadi terintegrasi dan kuat. Benazir adalah ibu rumah tangga yang baik. Yang saya ingat, beberapa kali lebaran, dia mengirimkan kartu lebaran, atau tahun baru, bergambar keluarganya. Benazir, Asif, dan tiga anak lucunya: Bilawal, Bakhtwar, and Aseefa.

Benazir segera mendapat perhatian dunia karena Benazir adalah pemimpin perempuan yang vokal, cantik, percaya diri dan cerdas. Hubungan Pakistan dengan Indonesia cukup baik selama ini, termasuk ketika Benazir berkuasa. Kunjungan Benazir Bhutto ke Indonesia pada 7-9 Maret 1996 merupakan salah satu realisasi politik luar negeri gaya baru Benazir. Ada motif ekonomi yang dominan saat itu karena persoalan politik Pakistan dan Indonesia sudah harmonis. Benazir kerap diidentikkan dengan Megawati, saat itu. Keduanya memiliki kesamaan: anak pemimpin negara, aktif dipolitik, muslim dan perempuan. Setelah kunjungan ke Indonesia, Benazir juga terpikat pada ramuan tradisional Indonesia. Suatu ketika ada tukang lulur dari Indonesia yang langsung didatangkan ke Islamabad untuk memberi perawatan khusus pada Benazir.

Saya pernah beberapa kali melihat beliau dari dekat. Kami pernah makan disebuah restauran Itali di Islamabad, pada saat yang sama. Saat itu saya diajak oleh keluarga Duta Besar makan malam di sana. Benazir, ibunya Nuzrat Bhutto, suami dan anak-anaknya, juga tengah makan di restauran itu. Sesekali Benazir menyuapi gadis kecilnya sambil bercanda. Sungguh suatu pemandangan tidak umum bagi saya karena sebagai Perdana Menteri, Benazir begitu santai makan di sebuah restauran. Meski ada pengawalan, keberaniannya makan ditempat terbuka merefleksikan kebebasan pribadinya yang terbuka pada perubahan alur protokoler.

Benazir Bhutto, sang tokoh legendaris itu telah tiada. Dia kembali untuk menggelar kampanye menjelang pemilihan 8 Januari 2008 nanti. Surat ayahnya pada Benazir mungkin masih menginspirasinya. Berikut cuplikannya”

Anakku tersayang,

Kehidupan adalah cinta.

Setiap keindahan alami senantiasa memiliki romantika.

Tiada ragu kukatakan bahwa gairah dan getaran cinta terbesar dalam diriku adalah pada rakyat.

Ada sebuah ikatan yang tak terpisahkan antara politik dan rakyat.

Karenanya manusia dalah hewan berpolitik dan pemerintah adalah panggung politik.

Aku telah menjadi nahkoda dipanggung ini lebih dari 20 tahun yang riuh rendah.

Aku percaya, aku masih memiliki peran untuk dimainkan.

Aku percaya rakyat masih menginginkan diriku dalam panggung ini.

Namun seandainya aku harus mengundurkan diri, kulimpahkan padamu hadiah dari perasaan-perasaanku ini.

Engkau akan berjuang dengan perjuangan yang lebih baik dariku.

Ucapanmu akan lebih fasih dari ucapanku

Tanggung jawabmu akan utuh penuh.

Perjuanganmu akan lebih tegar dan perkasa.

Perbuatanmu akan diwarnai keberanian.

Aku limpahkan padamu restuku untuk tugas yang mulia ini

Hanya ini hadiah yang dapat kuberikan pada hari ulang tahun.

Perempuan hebat itu telah pergi. Takdir berkata lain. Selamat jalan Pejuang Perempuan.

(penulis pernah tinggal di Pakistan)

Mengapa Tidak Terima Perbedaan?

Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem

Rudi meminta Kim, isterinya, mengambilkan buku di kamar kerjanya. “Whe dju yu put the book, ha?” Logat Inggris Singaporenya sangat kental. Rudi yang hari itu kurang fit, makin tidak nyaman dengan logat Kim. Mengabaikan kebutuhan membaca buku, membenahi logat Kim menjadi lebih penting. Rudi menjelaskan pada Kim, bahwa bila Kim memang ingin menggunakan bahasa Inggris, gunakan bahasa Inggris dengan benar, seperti orang Inggris. Panjang lebar Rudi mengingatkan bahwa ketika memilih bahasa, kita perlu konsisten. Tidak mengubah seperti yang kita sukai. Rudi bahkan mengatakan sangat terganggu dengan logat bicara Kim dan orang senegaranya. Jika Kim akan menggunakan bahasa Indonesia, Rudi juga mempersilahkan, namun dengan cara penyampaian yang benar. Menurut Rudi, dialek Kim terkesan “kampungan”.

Begitulah mereka melalui pagi itu. Kim terluka dan sangat kesal. Menurut Kim, bahasa adalah kesepakatan. Keluarga dan lingkungannya di Singapore sepakat dengan cara bicara seperti itu. Apa yang salah? Kim juga membela diri dalam hatinya, bahwa orang Jawa Tengah juga kerap bicara dengan logat-logat aneh ketika bicara bahasa Indonesia. Orang Papua juga aneh bicaranya bagi telinga Kim. Kenapa Rudi tidak mau terima? Hari itu dan beberapa hari berikutnya keduanya banyak diam.

Kekerasan psikis dan psikologis dapat terjadi dalam rumah tangga lantaran ketidakmampuan dalam memahami keberagaman budaya. Rudi mungkin tidak memahami bahwa Dialek adalah varian-varian sebuah bahasa yang sama. Varian-varian ini berbeda satu sama lain, tetapi masih banyak menunjukkan kemiripan sehingga belum pantas disebut bahasa yang berbeda. Adanya perbedaan dialek biasanya karena geografi, namun bisa berdasarkan faktor lain, misalkan faktor sosial. Di Indonesia saja, ada sekitar 524 bahasa daerah atau dialek yang sangat berbeda.

Dalam suatu riset disimpulkan bahwa pembicara dengan dialek yang sama dengan pendengarnya cenderung dianggap lebih kredibel, bahkan orang akan lebih mau berubah dengan ajakannya. Prof. Rubba juga pernah melakukan survey pada 208 responden. Hasilnya, 90 persen tidak nyaman pada perbedaan dialek dari dialeknya. 68 persen terganggu dengan dialek yang berbeda dari standar aslinya. John Edwards, author of Attitudes towards Language Variation, menyatakan bahwa pembicara dengan dialek tidak standar dianggap kurang kompeten dan kurang cerdas. Hal ini bukan berdasarkan atas apa yang dikatakannya, melainkan pada bagaimana dia mengatakannya.

Perasaan ketidaknyamanan diakibatkan oleh prasangka sosial pada kelompok atau etnis lain. Ahli linguistik yang mempelajari status sosial dari perbedaan dialek diberbagai negara menyimpulkan bahwa dialek dari kelas yang tidak diharapkan, seperti orang kampung, etnis yang tidak disukai, orang dari status sosial ekonomi yang lebih rendah secara universal dianggap sebagai bentuk yang ”buruk” dari bahasa. Sementara dialek dari orang perkotaan, kaya, berpendidikan lebih tinggi, secara politik lebih kuat, dianggap sebagai bentuk dari bahasa yang ”baik. Hal ini terjadi karena adanya persepsi superioritas atau karena kurangnya pemahaman akan logika perubahan bahasa secara ilmiah. Bahasa yang seseorang sampaikan tidak hanya sekedar “baik atau buruk”, melainkan berkaitan dengan komunitas, keluarga dan identitas diri seseorang. Mendiskreditkan bahasa seseorang sama dengan mendiskreditkan budaya mereka.

Kesepakatan melangsungkan perkawinan antarbudaya mungkin tidak mempertimbangkan hal ini diawalnya. Perbedaan yang terasa “indah dan unik” menjadi “menjengkelkan” kemudian hari. Pemahaman logis yang sempit akan proses berbahasa, superioritas atau cara pandang yang merasa lebih baik, lebih tepat dan lebih benar, dapat mengganggu hubungan dalam keluarga.

Rudi dan Kim, sebaiknya membuka diri, melakukan ”set mental pada keberagaman” tidak hanya pada keberagaman dialek, gaya pemilihan kalimat, melainkan beragam aspek perbedaan budaya lainnya. Pasangan perkawinan antarbudaya, diharapkan saling bekerjasama, saling mengisi dan saling mengapresiasi. Tanpa apresiasi dan kesadaran menerima keberbedaan dan keragaman, kita semua akan terjebak dalam prasangka yang berujung pada konflik dan segala bentuk disharmoni lainnya. Respek adalah merasakan atau memperlihatkan hormat atau penghargaan. Namun kitapun perlu menerima dengan sukarela. Sekali lagi, dialek adalah privasi. Kemampuan menghargai bahasa dan dialek yang berbeda merupakan hal penting dalam membina hubungan baik.

(Penulis adalah peneliti Komunikasi Antarbudaya)

Terbit di KPC Melati

Empat Kunci Sukses dalam Karir


Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem

Sebuah riset dari Mellon Foundation menyebutkan bahwa orang yang berhasil dalam hidup, kemampuan teknisnya berpengaruh 15%, sementara kemampuan berkomunikasi berpengaruh 85%. Ada pandangan yang lebih rinci dan layak dipertimbangkan bagi Anda yang tertarik sukses berkarir.

Pertama, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Unless your networking, you are not working. Banyak peluang bisnis atau kesempatan kerja, berawal dari pertemanan. Meningkatkan kemampuan berkenalan, berempati, mendengarkan, menyampaikan pesan dll, membuat Anda lebih mudah bergaul.

Kedua, meningkatkan kemampuan bersosialisasi. Kemampuan mengelola, meyakinkan dan menggerakkan komunitas membuka peluang besar dalam meraih keberhasilan. Sebaiknya Anda mengembangkan kemampuan berpresentasi atau berbicara didepan orang banyak, dengan cara yang menarik dan persuasif. Logikanya, jika tidak mengatakannya, bagaimana Anda menjualnya?

Ketiga, meningkatkan kemampuan manajemen. Apapun bidang kerja Anda, sebaiknya memiliki visi, mampu menterjemahkan visi pada rancangan kegiatan yang dapat dilaksanakan, kemudian melaksanakannya. Intinya memiliki rencana dan mampu melaksanakannya. Jika dalam lingkup kecil, Anda berhasil mewujudkannya, kesempatan akan terbuka untuk memimpin lingkup yang lebih besar.

Keempat, kemampuan memahami budaya. Di Indonesia saja, banyak sekali suku bangsa. Terlebih bila hubungan kerja kita dengan orang asing. Budaya ada software of the mind. Lihat saja, banyak orang tidak percaya diri berhubungan dengan orang Asing. Jadi, mampu memahami cara pandang budaya lain, mengefektifkan komunikasi kita.

Empat kunci tadi, membantu Anda sukses dalam karir. Langkah utama untuk mencapainya adalah meningkatkan pengetahuan, network dan komunikasi. Selanjutnya membiasakan hal-hal yang baik dan penting untuk kemajuan diri. Ingat, kebiasaan yang tidak penting akan membuat orang tidak penting. Mari selalu menggali potensi diri.

Siap menerima tantangan?

terbit di Else Magazine, Juli 2008