Kita Punya Modal Untuk Jadi Negara Maju
Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem Sangatlah tidak mudah bagi negara Indonesia yang saat ini Produk Domestik Bruto (PDB) rendah, jumlah orang miskin masih sekitar 16,58%, jumlah pengangguran masih tinggi sekitar 9%, tingkat inflasi 6-6,5%, tingkat suku bunga 8%, berandai-andai menjadi negara maju. Namun jangan lupa, mimpi, adalah pembeda signifikan yang membuat sesuatu ada. Peringkat negara berkembang masih ditangan kita. Namun bila kita cermati lagi, kita punya modal untuk menjadi negara maju.
Saya ingin mengajak menengok sejarah. Memang, dari sejarah kita belajar bahwa kita tidak belajar dari sejarah. Untuk beberapa sejarah ini, semoga menginspirasi.

Sebelum 1853, Jepang betul-betul merupakan negara sangat tertutup dan diperintah dengan cara sangat feodalistik. Angkatan laut Amerika dibawah pimpinan Laksamana Perry meminta minta pintu gerbang Jepang dibuka dan minta berunding dengan tujuan agar Jepang membuka diri kepada pihak asing, berdagang dan membolehkan kapal asing merapat di pelabuhan Jepang. Mulai saat itu Jepang menyadari adanya kekuatan-kekuatan besar diluar mereka. Restorasi Meiji di Jepang adalah suatu momen rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Mereka terinspirasi untuk menjadi sekurang-kurangnya sama kuatnya dengan orang asing. Jepang lalu menerapkan etos kerja yang mengagumkan. Dimulai dengan pendidikan, gemar membaca, bekerja keras, pantang menyerah, bekerja kelompok dan mandiri menciptakan inovasi-inovasi baru. Disamping itu, nilai-nilai seperti hidup berhemat, memiliki budaya malu, loyal, serta menjaga tradisi juga diterapkan pada masyarakatnya. Dalam waktu singkat, Jepang telah melihat progres ketekunannya.
Kita lihat lagi, Korea Selatan. Kini negara ini telah menjadi salah satu dari empat Macan Asia Timur. Pertumbuhan ekonominya terbesar ke-12 didunia. Padahal setelah berakhirnya PD II, PDB perkapita mereka hampir sama dengan negara miskin lainnya di Afrika dan Asia. Kesuksesan ini dicapai pada akhir 1980-an dengan sebuah sistem ikatan bisnis-pemerintah yang dekat. Etos kerja juga menjadi prioritas. Pemerintah Korea bersemangat membentuk tipe manusia. Ada 4 (empat) kualitas yang difokuskan orang Korea. Pertama, “ rajin bekerja“ dan bekerja hingga tuntas. Kedua, “berhemat“. Ketiga, “sikap self-help“.. Keempat, “kooperasi atau kerja sama”. Keempat etos tersebut mampu mengubah Korea menjadi negara besar. Dalam beberapa kunjungan ke pabrik Korea, saya melihat betapa nilai-nilai itu semua diterapkan dengan disiplin.
Kitapun terkejut melihat perubahan Malaysia yang sangat cepat melampaui Indonesia. Kita tidak menyangka dan lengah dengan mengingat-ingat bahwa dulu mereka belajar dari Indonesia, selanjutnya mereka lebih unggul dari kita. Visi Malaysia jelas. Menjadi negara industri dan maju di tahun 2020. Memiliki moral dan etika serta nilai-nilai yang kuat, tinggal dalam masyarakat yang demokratis, libaral dan toleran, peduli, secara ekonomi adil, progresif dan sejahtera. Malaysia juga bervisi untuk tangguh dalam ekonomi, kompetitif, dinamis dan ulet. Pendidikan menjadi fokus Malaysia untuk mengangkat masyarakatnya diawal perkembangan bangsa ini. Sekarang, pemantapan dan perbaikan struktur menjadi fokus utama mereka.
Kita menyaksikan, mereka semua sama, awalnya bukan negara maju, melainkan negara berkembang yang bergeser dengan cepat kearah kebangkitan nasional. Kita, bangsa Indonesia, memiliki modal penting untuk menjadi maju. Karena itu, mari kita mengorek dengan tekun modal berharga yang kita miliki.
Modal pertama, Indonesia memiliki wilayah yang luas. Tanah dan air lebih dari 5 juta km2. Tiga perlima bagian adalah laut, dua perlimanya adalah daratan. Artinya tanah air kita luas. Sumber daya alam kita juga luar biasa. Ada minyak, gas, batubara, emas, tembaga, dll. Hasil bumi juga banyak. Keindahan dan keanekaragaman flora dan fauna juga kaya. Banyak keberlimpahan yang dapat kita gali dengan sekian besar sumber daya alam. Secara geografis, posisi Indonesia sangat strategis. Yaitu di silang kepentingan bangsa-bangsa yang berada di sebelah utara Asia, negara-negara yang secara ekonomis maju dan memerlukan sumber daya alam dan pasar bagi produk-produknya; di selatan Australia dan New Zealand. Berbatasan dengan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Indonesia juga memiliki dua musim. Kemewahan ini dapat dimanfaatkan untuk bekerja dalam kedua musim dengan aktif.
Modal kedua, masyarakat Indonesia adalah masyarakat gotong royong. Berbudaya kolektifis. Dalam masyarakat ini, orang berfikir bahwa mereka adalah bagian dari kelompok ‘kita’. Hubungan ini terjadi secara alami dan mengakar dalam budaya. Rasa kekeluargaan masih cukup solid dan merupakan sumber awal dari identitas seseorang. Rasa ini merupakan jaminan kokoh yang orang miliki dalam menghadapi kesulitan hidup. Antara orang dengan kelompoknya ada ketergantungan mutual yang berkembang pada tataran praktis dan psikologis. Dalam situasi yang intens dan berkontak sosial yang berkesinambungan, keharmonisan dengan orang dari lingkungan sosialnya menjadi modal penting dalam melakukan pembinaan pada masyarakat kita. Sebuah contoh, kegiatan seperti siskamling, kenduri, melayat, saling membantu anak yatim, membersihkan lingkungan, adalah bentuk dari keakraban yang luar biasa.
Modal ketiga, budaya. Kita memiliki budaya yang sangat kaya dan penuh warna. Bagai mozaik. Ratusan bahasa, beragam tari-tarian, karya seni yang merefleksikan keindahan budaya daerah, lagu-lagu, masakan, dan masih banyak lainnya adalah modal penting baik secara ekonomi, politis, estetis, sosial, dll. Pengoptimalan modal budaya Indonesia dengan baik, dapat menjadi lahan pariwisata dan aset ekonomis yang luar biasa. Mari kita tengok Malaysia yang cukup berani mengatakan “the Truly Asia”. Membandingkan dengan keragaman budaya dan berkah alam yang luar biasa yang kita miliki, sungguh, kita masih punya ruang sangat sangat luas untuk tampil sebagai bintang tourisme dan membuat wisatawan dapat menikmati one-stop-tourism di Indonesia.
Modal keempat, Agama. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang agamis. Semangat keagamaannya relatif tinggi. Pengajian-pengajian atau kegiatan keagamaan masih dapat tempat dalam keseharian banyak orang. Kota-kota besar dan kehidupan yang individualis serta modern ternyata tidak mengkikis keagamaan bagi masyarakatnya. Suatu hal yang perlu disyukuri bahwa bahkan kesadaran beragama dan penggalian ilmiah mengenai agama justru lahir dimasyarakat
Modal-modal tersebut perlu dioptimalkan. Beberapa strategi optimalisasi yang dapat dilaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut.
Satu, kita perlu memiliki visi yang jelas. If you fail to plan, then you plan to fail. Begitulah kira-kira betapa pentingnya perencanaan visi. Keinginan negara yang bersifat ideal sebaiknya dirumuskan dengan seksama karena hal itu menentukan arah atau keadaan
Dua. Pendidikan. Semua orang
Tiga, gotong royong. Masyarakat Indonesia sesungguhnya suka bergotong royong dan hidup bersama, namun di perkotaan, masyarakat kian individualis. Saripati-saripati kearifan budaya kolektifis seperti toleransi, ketulusan, saling menolong, empati, saling mendukung, menjadi kian menghilang. Figur diri karena desakan ekonomi dan lingkungan membuat sentralisme dan otoriterisme makin dominan. Kita semua perlu bekerja sama merevitalisasi hubungan agar unsur-unsur yang baik dari kehidupan bersama dan bergotong-royong tetap terjaga.
Empat, menggali budaya. Kekayaan budaya Indonesia disatu sisi adalah berkah, sisi lain, kerawanan. Kelemahan kesatuan antar suku dapat terjadi bila masing-masing kelompok merasa budayanya lebih penting dan lebih baik. Etnosentrisme bisa jadi ancaman. Karenanya, kita perlu menciptakan rasa kebersatuan dan kebanggaan kolektif pada budaya Indonesia. Sebuah contoh, batik, yang kali ini diterima secara luas dan menimbulkan kebanggan saat mengenakannya, adalah suatu refleksi yang dapat dijadikan model pensosialisasian budaya Indonesia lainnya untuk diterima secara kolektif oleh masyarakat. Jadi, modal budaya Indonesia sesungguhnya dapat digali dari budaya-budaya lokal. Bila modal ini mengalami kemacetan bertumbuh, berkembang atau mati, kita sendiri mengalami kerugian yang besar. Tidak ada lagi pembeda khas antara Indonesia dengan negara lain. Keseriusan kita bersama mempertahankan dan mengurus budaya lokal sebaiknya dimulai saat ini.
Lima, melaksanakan agama dan berdoa. Kesadaran yang baik dalam beragama, penerapan keyakinan sesuai dengan ajarannya, adalah hal yang utama. Selain itu, toleransi beragama dari para pemeluk agama di Indonesia akan menjadi sangat imperatif mengingat agama yang diakui oleh negara tidaklah satu.
Indonesia adalah negara kita tercinta. Mari kita membangunnya menjadi negara maju. Kita punya modal, tinggal kita gali serta gunakan. Mari kita terbang bersama burung Garuda kita yang perkasa. Membumbung tinggi melihat alam luas. Mari kita menjadi negara maju yang makmur dan sejahtera serta madani dengan berkah Allah SWT. Amien
Terbit di The Fatwa Center Buletin, edisi Agustus 2008

