Leila Mona Ganiem

My Writings, Dreams, Thought and Love

Wednesday, December 10, 2008

Sukses Karir, Sukses Keluarga

Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem

Pasti itu dambaan perempuan berkarir. Meski sulit dilaksanakan, banyak perempuan merasa aktualisasinya sempurna bila dapat melakoni keduanya dengan pengelolaan yang baik. Dilema karena ada urgensi yang tampak didepan mata dan menyita perhatian kerap menimbulkan kebimbangan dalam menentukan prioritas. Meninggalkan karir yang telah dirintis sejak lajang, memang bukan keputusan yang nyaman. Namun demikian, mengapa tidak keduanya berjalan beriringan. Sukses karir, sukses keluarga. Mari kita praktekkan tips berikut ini:

  • Terima Pilihan Anda dengan Ikhlas. Sampaikan pada suami, kebutuhan aktualisasi diri Anda, untuk melakukan keduanya dengan baik. Tidak perlu merasa bersalah melakukannya, karena setiap insan adalah orang penting. Kebutuhan kita penting. Kebutuhan suami penting. Kebutuhan anak juga penting. Minta dukungan suami dan lingkungan (anak, pembantu, keluarga) untuk Anda dapat melaksanakan tujuan baik Anda. Yang juga Anda tujukan untuk kebaikan mereka. Kesuksesan karir dan keluarga biasanya karena adanya dukungan suami dan lingkungan yang aktif membantu. Selain itu waktu kantor yang fleksibel. Karena itu, pilih pekerjaan yang memungkinkan untuk Anda, dapat fleksibel dalam situasi yang memang urgen untuk keluarga.
  • Boleh bermimpi besar, tapi realistis. Bermimpilah untuk rencana besar, baik untuk kebaikan karir maupun keluarga. Namun demikian, pertimbangkan segala kemungkinannya. Peran ganda ini membutuhkan kebijakan hati dalam menjalaninya. Semua pihak butuh perhatian. Suami, anak, pekerjaan, keluarga dll. Semua impian membutuhkan energi. Sadari kekuatan Anda. Bisa-bisa semuanya akan terbengkalai bila Anda stress atau kurang sehat.
  • Sadari adanya benturan kepentingan. Konflik ada dalam setiap hubungan yang penting. Dilema itu wajar. Untuk mengatasinya, biasakan merencanakan semua urusan dengan rapi. Selektif dengan pilihan kegiatan dan waktu Anda. Buat daftar rencana kegiatan untuk urusan kantor dan keluarga. Disiplinlah pada rencana itu. Misalnya, untuk kebutuhan memasak, siapkan bumbu dasar standar jauh-jauh hari. Simpan dalam plastik atau tempat yang mudah untuk diambil satu kali masak. Atau ketika menyetrika baju, tentukan hari tertentu. Pisahkan pakaian berdasarkan jenisnya, agar lebih cepat. Bila tugas rumah tangga dapat dikerjakan orang lain, hal itu jauh lebih mudah. Anda bisa fokus pada perencanaan, monitor, dan mengontrol saja. Intinya penerimaan diri dan bila ada masalah, berfokus pada ”Bagaimana menyelesaikannya”, bukan ”Mengapa ini terjadi?”
  • Kualitas, bukan kuantitas. Jelas kuantitas tidak Anda miliki bila Anda memilih dua aktifitas besar ini. Untuk itu, luangkan waktu khusus untuk menjalin hubungan yang nyaman dengan suami dan anak-anak. Malam hari, sediakan waktu 30 menit atau lebih untuk bicara tentang diri masing-masing dengan suami. Dengarkan, pahami, dan buat suasana yang romantis akan membuat kualitas hubungan terjaga. Bagi anak Anda, berikan juga waktu untuk menyapa dan bercanda barang sesaat. Sediakan waktu khusus pula untuk anak-anak menceritakan apa yang ingin disampaikan, baik kesenangan maupun kekesalannya. Begitu pula sebaliknya, berbagi mengenai diri Anda dengan anak-anak. Ingat, berfokuslah pada kualitas hubungan, jaga hubungan emosional dengan keluarga, ciptakan momen mengesankan buat Anda dan mereka.
  • Hadiri acara penting. Momen seperti penerimaan raport, acara pertunjukan anak Anda, acara keluarga yang utama, liburan kantor, liburan keluarga, ulang tahun suami dan anak-anak adalah momen penting. Atur waktu sedemikian rupa untuk hadar dalam kegiatan itu meski sulit dalam pengelolaan waktunya. Kombinasi kreatifitas perencanaan dan kesadaran akan pentingnya mereka semua, akan membantu Anda dalam mengelola semuanya dengan sukses.

Selamat dan sukses untuk karir dan keluarga Anda.


Artikel ini terbit di Else Magazine

Tips Menghadapi Politik Kantor

Dalam bekerja, kita ingin memiliki karir yang membanggakan, gaji besar, kerja menarik dan suasana kerja menyenangkan. Terbatasnya sumber daya, lingkungan kompetitif, subjektifitas dalam penilaian, tidak jelas batasan performance, ambisi pribadi serta persoalan psikologis seseorang dapat menimbulkan upaya menghalalkan segala cara demi tujuan pribadi. Orang kerap menyebutnya sebagai berpolitik di kantor atau office politics.

Sesungguhnya berpolitik dikantor berkaitan dengan keterampilan atau keahlian dalam berkomunikasi informal dengan tujuan mendapatkan kekuasaan atau keuntungan. Berpolitik di kantor juga bisa berarti bagaimana sikap seseorang terhadap rekan kerjanya. Hal ini bisa positif atau negatif.

Berpolitik dikantor dalam konteks positif adalah upaya memproyeksikan diri sebagai pribadi yang fleksibel dan mampu berkomunikasi dengan luwes. Sikap ini juga disertai dengan adanya kesempatan lebih banyak, namun tidak merugikan pihak lain. Sikap yang licik, curang, menyebar gossip untuk menjatuhkan seseorang, dan intrik-intrik untuk menggapai ambisi pribadi, adalah berpolitik dikantor dalam konteks negatif.

Inti dari berpolitik dikantor adalah menjadikan diri kita disukai. Kemampuan ini layak untuk kita miliki dengan baik karena membuat karir cemerlang.

Bagaimanakah sikap orang yang berpolitik dikantor secara positif? Mereka adalah orang yang cara berkomunikasinya penuh empati, menjalankan tugas dengan baik, melihat dirinya bagian dari team, menempatkan diri dengan tepat sesuai visi perusahaan. Strategi berpolitik dikantor secara positif adalah sebagai berikut:

Pertama, miliki visi dalam bekerja. Pahami dengan baik visi perusahaan dan jalankan peran Anda untuk mendukung visi perusahaan. Jadilah bagian dari team yang kreatif.

Kedua, ketahui kualitas dan kemampuan diri. Apa kekuatan dan kelemahan diri. Melakukan pengembangan diri secara aktif. Selain itu melakukan evaluasi mengenai kecerdasan emosional dan komunikasi sehingga hubungan dikantor menjadi menyenangkan dan menguntungkan.

Ketiga, jika rekan kerja atau atasan kita kurang menyenangkan, mari kita cek lagi pendapat kita. Karena ada kata bijak mengatakan ‘tidak ada orang tidak menyenangkan, kita saja yang belum kenal dirinya’. Atau berangkali dia tidak menyenangkan karena kita tidak menyenangkannya. Berempatilah untuk memahami apa motivasinya berbuat seperti itu.

Selanjutnya, bagaimana bila rekan sekerja kita berpolitik dikantor secara negatif? Berikut ini beberapa tips untuk menghadapi

Pertama, menegakkan etika profesional. Tiap pekerjaan ada etikanya. Berperilakulah dengan koridor etika bisnis profesional. Posisi ini cukup aman dan mendorong rekan kerja kita berperilaku sama.

Kedua, Jangan mudah sakit hati. Mungkin saat ini, rekan kerja membuat kita tidak nyaman. Pasti ada latar belakang sikap dia seperti itu. Berempatilah. Sebaiknya jangan terbawa suasana untuk membalasnya. Ingat, dalam hubungan kerja, satu sama lain pasti terkait. Kita pasti akan berhubungan dengannya. Upaya terbaik adalah memperkuat network kita.

Ketiga, bersikap fair. Bahkan arahkan pada situasi win-win. Buat semua pihak merasa menang dan nyaman dengan keberadaan kita.

Keempat, tetaplah produktif. Situasi kantor yang penuh intrik atau gosip dapat menimbulkan lesu darah dalam bekerja. Produktifitas kolektif juga bisa menurun. Dalam situasi ini, tunjukkan kualitas kerja optimal dan tetap produktif. Selain memicu semangat rekan lain maupun atasan, kitapun tampak lebih bersinar dari yang lain.


Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem
Artikel ini terbit di Else Magazine

Etika Komunikasi Saat Puasa

Satu kewajiban bagi seorang muslim adalah berpuasa di bulan Ramadhan. Namun bagi perempuan Muslim, ada halangan yang membuat dirinya tidak diperkenankan puasa, yaitu saat haid. Selain itu, non muslim umumnya tidak berpuasa. Tulisan kali ini akan berfokus pada etika berkomunikasi pada bulan Ramadhan. Bagi yang berpuasa,

· Pertama, setiap orang punya pilihan dan tanggung jawab masing-masing Bila rekan tidak berpuasa, kitapun tetap menghargainya.

· Kedua, tidak perlu marah ketika orang lain membicarakan seputar santap siang atau menu. Hindari saja pembahasan mengenai itu bila Anda terganggu.

· Ketiga, tetaplah produktif. Puasa sesungguhnya tidak menghalangi seseorang untuk kreatif dan produktif. Bahkan banyak inspirasi muncul saat berpuasa.

· Keempat, atur waktu seefektif mungkin sehingga pekerjaan Anda dapat selesai dijam kantor. Dengan demikian, Anda dapat pulang tepat waktu dan melakukan ibadah malam.

· Kelima, saat istirahat, gunakan waktu untuk tidur sesaat. 10 menit tidur kerap dilakukan orang Jepang guna meningkatkan produktifitas diri. Ingatlah, berpuasa bukan berarti seseorang menjadi pucat, lemas dan tidak menarik. Kita dapat menunjukkan diri dan berprestasi sebaik mungkin meski sedang berpuasa.

Namun demikian, bagi Anda yang tidak berpuasa, sebaiknya lakukan beberapa tips berikut ini:

· Pertama, hargai orang berpuasa dengan cara tidak secara ekspresif menyantap makanan didepan orang berpuasa. Makan dapat dilakukan dipantry kantor.

· Kedua, tidak membicarakan seputar santap siang atau menu pada orang berpuasa.

· Ketiga, tidak membebani orang berpuasa dengan tugas yang membutuhkan energi fisik yang berat.

· Keempat, bila dapat dihindari, sebaiknya tidak mengajak acara meeting kantor pada jam buka puasa atau setelahnya karena biasanya orang berpuasa melakukan shalat tarawih.

· Kelima, bila orang berpuasa terlihat kurang fit atau pucat, empatilah. Hal itu wajar terjadi. Anda dapat menyemarakkan suasana dengan pendekatan personal yang menarik.

Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem
Artikel ini terbit di Else Magazine

Setelah Maaf - Memaafkan, Pertahankan Hubungan!

Lebaran tiba. Sapa menyapa tulus betebaran. Kehangatan merebak. Kita maaf memaafkan. Momen itu penuh berkah. Kita dapat mengoptimalkan kesempatan untuk meningkatkan maupun merenovasi hubungan yang beku. Peluang itu ada saat ini. Mari kita manfaatkan kemewahan tersebut!

Setelah maaf memaafkan, kita perlu mempertahankan hubungan. Tulisan ini membahas hal mendasar yang perlu dilakukan dalam memahami kebutuhan manusia agar dapat membina dan mempertahankan hubungan.

Manusia, butuh makan, minum, tempat tinggal, pekerjaan, kesehatan dan banyak lagi. Kebutuhan itu disebut kebutuhan praktikal. Selain itu, manusia juga butuh dirinya dihargai, disayang, dijaga dan ditingkatkan harga dirinya, dianggap penting, didengar dll. Hal itu disebut kebutuhan psikologikal. Dua kebutuhan itu ada dan penting.

Pikirkan bahwa teman Anda, Mia, butuh file (praktikal), tapi dia juga butuh mendapatkan file itu dengan rasa ” dihargai” (psikologikal). Atasan Anda butuh dibuatkan surat (praktikal), dan butuh dianggap penting (psikologikal).

Puaskan kebutuhan praktikal dengan memberikan apa yang orang lain perlukan. Lengkpi kebutuhan psikologikal dengan perkataan maupun sikap/tindakan. Pujian tulus dan tepat waktu, pilihan kata yang membuat orang merasa penting, ekspresi wajah menyamankan, kontak mata penuh perhatian, sikap tubuh yang baik, pilihan penampilan yang tepat, dll. Kesemuanya dapat menyamankan dan meningkatkan kualitas hubungan kita.

Banyak orang berfikir, tanggung jawab komunikasi dipikul dua pihak. Jika kita bersedia bertanggung jawab dalam mengelola komunikasi secara aktif, maka potensi membina dan mempertahankan hubungan baik, akan lebih berhasil.

Jadi, jika komunikasi tidak berjalan baik, mari evaluasi diri ”Apakah kita sudah membuat kebutuhan mendasar orang lain terpenuhi?”

oleh: Dr. Leila Mona Ganiem
Tulisan ini terbit di Majalah Else

Labels: