Leila Mona Ganiem

My Writings, Dreams, Thought and Love

Monday, May 18, 2009

Kartini – Kartini Modern

Dahulu, arus kesibukan perempuan berkisar ‘kasur, pupur, dapur’ atau ‘macak, masak, manak’. Kita bersyukur ada tokoh pendobrak yang memiliki concern tinggi pada emansipasi perempuan. Salah satunya adalah Kartini. Sebagai perempuan pejuang yang mengagumkan, Kartini layak mendapat tempat.

Pemikiran Kartini banyak dikupas dalam buku Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, kumpulan surat-surat pada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda. Surat itu menjadi bukti betapa besarnya keinginan Kartini melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Ketika berusia 12 tahun, Kartini ditanya oleh teman-teman Belandanya, “Apa cita-citamu?” Dia tidak bisa menjawab. Lantas dia bertanya pada ayah dan kakaknya. Mereka menjawab, “Menjadi isteri bangsawan” oleh keluarga dan lingkungannya, cita-citanya diarahkan untuk menjadi isteri pangeran.

Meski anak Bupati, Kartini hanya diizinkan bersekolah hingga sekolah dasar. Keinginan untuk berbagi ilmu mendorong Kartini membuat sekolah untuk perempuan di kampungnya. Untuk meningkatkan kualitas pengajaran, Kartini berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda. Dia memperoleh beasiswa dari Pemerintah Belanda, namun orang tua melarangnya. Untuk mencegah kepergian Kartini, orangtuanya memaksa menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang. Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya. Setelah menikah, dia meneruskan sekolah yang didirikannya.

Bagi Kartini, perempuan harus terpelajar sehingga dapat bekerja sendiri, mencari nafkah sendiri, mengembangkan seluruh kemampuan dirinya, dan tidak tergantung pada siapa pun, termasuk suaminya. Meskipun saat itu adat feodal masih kental, situasi pingitan dan terisolasi, Kartini mampu membangun pemikiran yang maju dan progresif untuk kaum perempuan.

Sekarang, 130 tahun kemudian, banyak hal berubah. Embrio kemajuan yang ditumbuhkan oleh Kartini, telah memetik hasil. Beragam peluang diberbagai bidang kian terbuka untuk perempuan. Kita telah mendapatkan kesempatan cukup luas untuk bersekolah, bekerja dan bermasyarakat. Posisi strategis kian terbuka untuk perempuan. Misalnya penetapan kuota 30% keterwakilan perempuan calon anggota legislatif (caleg), kesempatan terbuka untuk bekerja sebagai pilot, sopir bus, satpam, insinyur perminyakan, insinyur mesin, insinyur tambang, bahkan sebagai Direktur Utama Pertamina, posisi yang selama ini bernuansa sangat patriarki.
Meski masih ada keterbatasan dan pembatasan dari pihak yang tidak menginginkan kesetaraan jender sepenuhnya, tapi perempuan memiliki kemewahan besar yang layak disyukuri dan dimanfaatkan.

Sekarang, kita telah memiliki beragam peluang berharga. Apa yang akan kita buat dalam hidup ini, terserah kita. Tuhan telah memberi kita semua sumber daya yang dibutuhkan. Kaki, tangan, pikiran, keluarga, tempat bekerja dll. Pilihan dan jawabannya ada pada kita sendiri. Sebagai inspirasi, mari kita optimalkan potensi kita sebagai perempuan, dengan cara:

1. Menggali dan menekuni keterampilan yang kita miliki hingga kualitas optimal. Buatlah orang yang melihat dan menikmati kualitas kerja kita dengan kesempurnaan yang membanggakan. Sebagai catatan, sebuah riset menyimpulkan, manusia baru mengembangkan 3% dari kualitas dirinya. Dengan berfikiran positif, kita masih memiliki 97% potensi diri untuk digali.

2. Sementara melalui peran Anda saat ini, tingkatkan terus kepercayaan diri dan kemauan untuk berfikir besar. Menjadi lebih maju dan berkembang. Menjadi lebih sukses dan mandiri. Menjadi lebih bijaksana dan indah. Tentukan pilihan dengan jelas. Selanjutnya bertahap untuk menuju kesuksesan. Cobalah hindari pemikiran melalui hidup seperti air mengalir, tanpa target..

3. Kesuksesan tidak datang tanpa kerja keras dan strategi yang tepat. Sebagai perempuan karir dan berumah tangga, tanggung jawab yang dibebankan memang cenderung lebih besar. Susun strategi yang tepat. Secara praktis sehari-hari, berusahalah selalu disiplin, progresif, banyak bertanya, berani mencoba, membuka network, hindari bergosip, bersikap ramah, menciptakan suasana kerja yang baik, dan menjadi pribadi yang menyenangkan.

4. Evaluasi perkembangan Anda tiap waktu. Tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, tiap semester, tiap tahun dan seterusnya. Selalu buat kenaikan pada tangga peringkat pribadi Anda.

Sebagai penutup, mari kita syukuri berkah Tuhan pada kita, sebagai perempuan. Layak juga bagi kita berterima kasih pada tokoh-tokoh perempuan yang membuka cakrawala berfikir kita. Selanjutnya, mari kita membuat perbedaan positif dalam kehidupan kita sendiri dan lingkungan sekeliling kita, baik dalam lingkungan kerja maupun keluarga dan masyarakat.

Dipersiapkan untuk Else Magazine
Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home