Thursday, December 24, 2009

Merevitalisasi Pilihan Media di Masyarakat Individualis dan Kolektifis (Komunikasi Antarbudaya)



 



Merevitalisasi Pilihan Media
di Masyarakat Individualis dan Kolektifis

oleh: Leila Mona Ganiem

Disampaikan dalam Konferensi Internasional Antropologi, 2008
Tema:  Mass Media and Revitalizing of Traditional Media in the Post Capitalist Era)









Jaman diawal sejarah manusia, kehidupan masih sangat kolektif.
Unit kesatuannya adalah grup seperti keluarga, klan dan suku.
Bila suplai makanan yang ada di hutan, pegunungan atau gurun, habis, orang pindah kedaerah lain.
Berburu, berkumpul dan saling berbagi sumber daya dengan suku adalah kegiatan mereka.

Menurut Uichol Kim (1994),
kepindahan suatu suku ketempat lain membutuhkan keahlian tertentu untuk beradaptasi.
Terbatasnya jumlah makanan, membuat mereka perlu tegas, otonom, berorientasi pada perolehan dan mengandalkan kemampuan diri.


Mereka berangsur individualis.

 


Disisi lain, komunitas yang menetap (mereka memiliki cukup makanan dari bertani dan beternak),
cenderung saling membantu, rela, patuh, bertanggung jawab satu sama lain dan konservatif.

Nilai-nilai kolektifis tersebut dikembangkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Namun demikian, tidak dapat dihindari,
perubahan di Eropa Barat sejak abad ke enam belas berubah secara drastis.
Beragam faktor seperti perdagangan internasional, kemunculan negara, adanya kelas pedagang, perkembangan yang cepat pada ilmu pengetahuan dan teknologi, meningkatnya efisiensi pertanian, industrialisasi, urbanisasi dan kemunculan kapitalisme, membuat manusia makin memiliki kontrol pada lingkungan.


 


Gaya hidup dilingkungan industri menjadi berbeda dengan dilingkungan pertanian.
Hubungan dilingkungan pertanian masih berdasarkan kerjasama kolektif dan kepercayaan.
Mereka hidup dan bekerja bersama-sama.
Dilingkungan industri, kumpulannya adalah orang yang saling asing satu sama lain.
Hubungannya tidak panjang, melainkan berdasarkan kepentingan.
Supply and demand. (Tonnies, 1887/1957; Uichom Kim, 1994).

Ilmuwan yang cukup aktif dalam riset mengenai budaya individualis dan kolektifis
pada berbagai negara adalah Hofstede.
Awalnya riset Hofstede kuat dalam kerangka komunikasi organisasi (IBM).
Risetnya untuk mengetahui budaya organisasi IBM yang tampaknya berbeda antara negara satu dengan negara lain. Dia melakukan riset pada 50 negara, pada tahun 1980.
Banyak ilmuwan lain yang menggunakan alat ukur Hofstede mengkonfirmasi dimensi budaya yang dikembangkan oleh Hofstede ini.
Tahun 2003, Hofstede (2005) mengulang risetnya di 74 negara dan hasilnya cenderung sama.
Hal ini menunjukkan bahwa dimensi individualis dan kolektifis masih cukup valid dan relatif sejalan dengan masyarakat di negara-negara yang diteliti.

Menurut Hofstede, dalam budaya yang berorientasi pada keindividualisan, diri menjadi unit sentral dari masyarakat.
Konsekuensinya, hak individual, berkaitan dengan diri sendiri dan keluarga inti.
Otonomi diri dan kemampuan meraih sesuatu menjadi penting.
Pada budaya individualis, individu dipercaya sebagai akhir dari seseorang.
Orang Individualis cenderung memperhatikan pada diri sendiri
dibandingkan pada masyarakat dimana orang tersebut berada.

 


Keluarga individualis biasanya terdiri dari ibu, ayah, kakak, adik saja.
Keluarga lainnya jarang terlihat.
Anak dari keluarga seperti ini, ketika tumbuh, segera belajar untuk melihat dirinya sebagai ‘saya’.
Tujuan pendidikan adalah untuk membuat anak menjadi mandiri atau berdiri di atas kakinya sendiri.
Anak diharapkan meninggalkan rumah orang tuanya segera setelah mereka mampu.


 


Pada budaya kolektifis, kelompok merupakan unit sentral dari masyarakat. Mereka terikat secara tujuan, keperluan dan nasib individu. Dengan demikian, tugas dan kewajiban pada kelompok, saling ketergantungan pada individu lain dalam kelompok dan pemenuhan peran sosial menjadi penting.

Di budaya kolektifis, ‘keluarga’  terdiri dari sejumlah orang yang tinggal bersama.
Bukan hanya orang tua dan anak-anaknya, namun juga nenek kakek, paman, bibi, pembantu dan saudara lainnya.
Anak diajak belajar untuk berfikir bahwa mereka adalah bagian dari kelompok ‘kita’.
Hubungan bukan fakultatif atau sukarela melainkan ada secara alami.
Antara orang dengan kelompoknya ada ketergantungan mutual yang berkembang
pada tataran praktis dan psikologis.

Pada kelompok kolektifis, pendapat pribadi tidak ada.
Hal  yang mendapat tempat adalah pendapat kelompok.
Bila ada isu baru yang muncul dan belum ada pendapat kelompok yang sudah terbina,
biasanya diadakan konferensi sebelum pendapat diberikan.
Keloyalan pada kelompok merupakan elemen penting bagi kelompok kolektifis.
Acara keluarga seperti pengajian, sunatan, perkawinan, pemakaman dll adalah penting dan seharusnya tidak dilewatkan. Media yang menyertakan kegiatan mengumpul merupakan hal yang penting.

Negara seperti Amerika, Australia, Inggris, Kanada, Hungaria, Belanda, Selandia Baru, Italia, Denmark, Perancis, Swedia, Norwegia, Jerman, dan beberapa negara lainnya cenderung individualis. Negara seperti Guatemala, Ekuador, Venezuela, Pakistan, Indonesia, Peru, Taiwan, Korea, Afrika Barat, Vietnam, Thailand, Singapura, China, dan beberapa negara lainnya cenderung kolektifis.


Media Tradisional

Menurut Coseteng dan Nemenzo (Jahi, 1988), media tradisional adalah bentuk-bentuk verbal, gerakan, lisan dan visual yang dikenal atau diakrabi rakyat, diterima oleh mereka, dan diperdengarkan atau dipertunjukkan oleh dan/atau untuk mereka.

Tujuannya adalah untuk menghibur, menjelaskan, mengajar, dan mendidik.
Media rakyat dapat tampil dalam bentuk nyayian rakyat, tarian rakyat, musik instrumental rakyat, drama rakyat, pidato rakyat- yaitu semua kesenian rakyat apakah berupa produk sastra, visual ataupun pertunjukkan- yang diteruskan dari generasi ke generasi (Clavel dalam Jahi, 1988).

Dalam tulisan ini, saya menganalisa adanya perbedaan antara media yang cenderung muncul di negara individualis dan kolektifis.

Media tradisional yang juga dikenal juga sebagai media rakyat atau kerap juga disebut sebagai folklor. Bentuk-bentuk folklor tersebut antara lain: cerita prosa rakyat (mite, legenda, dongeng); ungkapan rakyat (peribahasa, pemeo, pepatah); puisi rakyat; nyayian rakyat; teater rakyat; gerak isyarat (memicingkan mata tanda cinta); alat pengingat (mengirim sisrih berarti meminang); dan alat bunyi-bunyian (kentongan, gong, bedug dan lain-lain).

Dari aktualitasinya, ada seni tradisional seperti wayang purwa, wayang golek, ludruk, kethoprak, dan sebagainya.

Media tradisional yang ada tampaknya memiliki kebedaan bentuk antara negara inidivudualis dan kolektifis. Dinegara kolektifis, media tradisionalnya cenderung komunal. Misalnya tari Kecak dari Bali, tari Saman dari Aceh, penarinya banyak dan mengikuti irama secara kolektif. Mereka menonton bersama terutama dalam konteks pemujaan atau kegiatan eksklusif internal dalam komunitasnya.

Di negara individualis, media tradisionalnya cenderung Individual. Misalnya dansa.
Pedansa yang merasa mampu atau berminat berdansa, akan masuk ke medan dansa dan mengajak pasangannya.
 


Sementara dalam suatu tarian dibudaya kolektifis, meski mereka tidak harus selalu berlatih secara bersama dalam suatu waktu tertentu (umumnya berlatih bersama),
namun ada aturan gerak yang disepakati sebagai arahan untuk melaksanakan tarian tadi.
Memang tidak dapat dihindari bahwa tari-tarian rakyat di negara Individualis banyak juga yang komunal, karena seperti dijelaskan diatas, masyarakat umumnya hidup dalam tatanan kolektifis.

 


Berkaitan dengan penggunaan media pada negara Individualis, penggunaan media dapat mengarah pada aktifitas
yang mendukung kenyamanan pribadi dan keotonomian diri.
Kebebasan berekspresi dan beropini umumnya dihargai dan dikembangkan.
Kemunculan media massa seperti Media cetak, radio, televisi, film, internet umumnya berawal dari negara individualis.

Surat kabar pertama kali dibuat di Amerika Serikat, dengan nama “Public Occurrenses Both Foreign and Domestick” di tahun 1690. Saat ini ada sekitar 60.000 surat kabar didunia dan sepertiganya ada di Amerika (Heritage Speakers Series, 1998).
 Fisikawan Jerman Heinrich Hertz, tahun 1888 pertama kali mengirim dan menerima gelombang radio pertama. Film dibuat pertama kali di tahun 1888 oleh Thomas Edison di Amerika. Penemu tube iconoscope yang merupakan mesin dari televisi adalah Zworykin, 1923. Zworykin adalah seorang Rusia, namun televisi selanjutnya makin berkembang di Inggris (1935) dan Amerika (1939). Komputer ditemukan oleh Charles Babbage tahun 1822. Babbage adalah seorang profesor matematika dari Inggris. (Straubhaar, LaRose, 2000).

Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi banyak pergeseran pada masyarakat kolektifis terutama diperkotaan, menjadi kian individualis.
Alasannya, menurut Goodwin, (1999, h. 115)

pertama, tren modernisasi telah merubah struktur tradisi yang berpola hubungan sosial berdasarkan respek pada yang telah tua, berangsur menurun.
Hal ini terjadi karena perkembangan faham sekaligus penolakan atas konservatisme
dan gaya autoritarian yang diterapkan saat masa asuh seseorang.

Alasan kedua, penyebaran gaya pendidikan Barat yang mendorong anak muda menghabiskan pendapatannya sendiri dan pada keluarga utamanya saja, kian diterima dan diterapkan terutama pada generasi muda.

Ketiga, penyebaran orientasi pasar menyebabkan perubahan pada hubungan keluarga besar (extended family) menjadi hubungan baru yang mengacu pada keuntungan ekonomis. Makin pentingnya hubungan keluarga, makin mengecilnya keluarga itu sendiri.

Pendapat lain yang mengkonfirmasi adanya pergeseran pada masyarakat kolektifis menjadi makin individualis dinyatakan oleh Camilleri, Malevska-Peyre, 1997, h.43-54).
Menurutnya, pertama, peran sosial semakin terbuka pada variasi individual.

Kedua, individual diberi kesempatan luas untuk secara mandiri memilih kelompok yang mereka ingin bergabung, dibandingkan dipilihkan untuk bergabung dengan mereka.

Beberapa riset mengenai perubahan itu dapat dilihat dari riset terhadap keluarga China (Goodwin, 1999), keluarga India (Sinha, Tripathy, 1994), Turki (Kagitcibasi, 1994), Georgia (Lia Tsuladze, 2000).

Dengan perubahan pada budaya masyarakat, pilihan media tradisional juga tampaknya makin berubah. Saat ini misalnya, banyak anak-anak sekolah atau mahasiswa tidak banyak yang memilih tarian atau wayang sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Mereka bahkan tidak paham apa kehebatan tokoh Arjuna, Semar atau tokoh lainnya. Mereka juga memilih menonton film atau musik dan penyanyi favoritnya dibandingkan Ludruk. Sebuah riset menyimpulkan bahwa ketika media komputer memasuki rumah, pola konsumsi media massa cenderung berubah. Studi oleh Miller & Clemente (1997) menyimpulkan bahwa sepertiga pengguna internet menghabiskan lebih sedikit waktu untuk menonton televisi daripada yang mereka lakukan sebelumnya

Mengapa Media Tradisional Penting?
Media membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari. Hal itu terjadi secara perlahan namun cukup efektif. Menurut William Boscon (Adi Prakosa, 2008) mengemukakan fungsi-fungsi pokok folklor sebagai media tradisional adalah sebagai berikut:

1. Sebagai sistem proyeksi. Folklor menjadi proyeksi angan-angan atau impian rakyat jelata, atau sebagai alat pemuasan impian (wish fulfilment) masyarakat yang termanifestasikan dalam bentuk stereotipe dongeng. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini hanya rekaan tentang angan-angan seorang gadis desa yang jujur, lugu, menerima apa adanya meskipun diperlakukan buruk oleh saudara dan ibu tirinya, namun pada akhirnya berhasil menikah dengan seorang raja, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.

2. Sebagai penguat adat. Cerita Nyi Roro Kidul di daerah Yogyakarta dapat menguatkan adat (bahkan kekuasaan) raja Mataram. Seseorang harus dihormati karena mempunyai kekuatan luar biasa yang ditunjukkan dari kemapuannya memperistri ”makhluk halus”. Rakyat tidak boleh menentang raja, sebaliknya rasa hormat rakyat pada pemimpinnya harus dipelihara. Cerita ini masih diyakini masyarakat, terlihat ketika masyarakat terlibat upacara labuhan (sesaji kepada makhluk halus) di Pantai Parang Kusumo.

3. Sebagai alat pendidik. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.

4. Sebagai alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi. Cerita ”katak yang congkak” dapat dimaknai sebai alat pemaksa dan pengendalian sosial terhadap norma dan nilai masyarakat. Cerita ini menyindir kepada orang yang banyak bicara namun sedikit kerja.

Jadi media memang berfungsi banyak, sebagai alat untuk meningkatkan kepercayaan diri atau menurunkan kepercayaan diri. Selain itu sebagai transfer budaya dan sosialisasi serta pendidikan yang memiliki nilai hiburan, serta fungsi-fungsi lainnya. Media memang cukup ampuh membuat orang merasa senang akan diri mereka, merasa cukup, atau merasa rendah dari yang lain .

Apa yang perlu dilakukan untuk merevitalisasi:
Apa yang perlu kita lakukan untuk merevitalisasi penggunaan media tradisional ditengah desakan kuat modernitas? Segala upaya yang diambil sebaiknya memahami pola hidup atau budaya masyarakat yang ada saat ini. Seperti yang dijelaskan diatas, masyarakat budaya kolektifis kini, terutama di perkotaan, menjadi kian individualis.

Pada tulisan ini, saya akan memfokuskan pada konteks Indonesia. Sesungguhnya telah ada upaya-upaya individu yang memiliki kepekaan sosial terhadap masalah ini. Salah satunya seorang guru bernama Parman (Republika Online, 16 Juli 2004) mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dengan wayang, kepada anak didiknya di SLTP Negeri 3 Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah dengan wayang. Model pembelajaran ini dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa secara signifikan terutama berkaitan dengan pelajaran budi pekerti, kepahlawanan, patriotik, persaudaraan, dan lain-lain nilai kemanusiaan. Selain itu juga sekaligus mengajarkan kecintaan akan budaya tanah air.

Contoh baik lain yang dilakukan secara kolektif oleh institusional adalah kegiatan yang digagas Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Yogyakarta. Media tradisional terdiri dari berbagai macam kesenian tradisional yang juga berasal dari suatu wilayah di Indonesia. Forum ini secara aktif mendorong untuk menghidupkan dan membentuk kembali media tradisional yang berdasarkan kekayaan seni tradisional di masing-masing daerah. (Kompas, 16 Mei 2006).

Selain dari gagasan diatas, ada beberapa upaya aktif lain yang dapat kita dilakukan untuk merevitalisasi media tradisional ini.

Pertama, seiring dengan makin maraknya media massa yang hadir dalam konteks individualis, seperti internet, maka sebaiknya ada sinergi kolektif yang kita lakukan dengan memanfaatkan media tersebut. Jika kesenian tradisional seperti wayang, tarian dll dimasukkan di internet, diharapkan akses untuk melihat kesenian Indonesia makin terbuka bagi orang Indonesia maupun lainnya. Pemanfaatan media lainnya televisi, film, radio dll, juga perlu dioptimalkan untuk menjangkau masyarakat yang kian individualis.

Kedua, kegiatan seperti Forum untuk mensosialisasikan media tradisional sebaiknya dioptimalkan ditiap daerah. Tugas forum ini adalah untuk menghidupkan kembali media tradisional yang dulu jaya, serta mengembangkannya.

Ketiga, Pemerintah, tokoh masyarakat, dan industri, diharapkan dapat secara aktif mengajak masyarakat untuk melestarikan media tradisional. Seperi Batik. Himbauan pemerintah, kerjasama desainer, industri batik dan media, membuat orang Indonesia makin bangga dan senang mengenakan batik Contoh lain yang dapat mewakili adalah pada negara New Zealand. Penduduk asli negara itu adalah orang Maori. Jumlahnya sekitar 25% saja dari seluruh masyarakat. 75% lainnya berasal dari negara Eropa yang migrasi sejak dulu. Ketika ada pertandingan sepak bola, team sepakbola New Zealand (dominan dari orang migrasi Eropa) menampilkan tarian suku Maori. Dengan demikian publik luas dapat melihat kekhasan asli lokal, meskipun kelompok minoritas dari jumlahnya.

Berkaitan dengan ajakan tadi, aktifitas yang mungkin dapat dimanfaatkan adalah dengan memanfaatkan momen berkumpul seperti acara perkawinan, sunatan, lomba, pertandingan atau kegiatan kumpul lainnya dengan menampilkan kesenian tradisional kita. Selain memperluas kesempatan tenaga kerja, program tersebut juga dapat meningkatkan minat dan kebanggaan pada budaya sendiri. Industri dan media juga perlu diajak kerjasama secara serius untuk memanfaatkan marketing atau advertisingnya menggunakan budaya lokal.

Keempat, Pemain pada budaya tradisional juga perlu mengembangkan diri, Penyesuaian pada keinginan masyarakat sebaiknya dioptimalkan. Seperti Batik tadi, variasi model pakaian batik, tidak hanya dikenakan dengan model asli seperti untuk kebaya, atau pakaian informal perkawinan/acara khusus. Dengan demikian, kebanggaan dan kebebasan berekspresi individu dapat disalurkan. Pada konteks ini, misalnya penari dapat menampilkan diri dengan cara menarik dan dapat berpindah peran dengan baik misalnya ketika menjadi penari dan profesi atau aktifitas lainnya. Dengan demikian tidak ada kesan, penari tradisional pastinya akan berbatik dan berkonde saja, tidak dapat tampil dalam kehidupan modern.

Diharapkan dengan upaya-upaya diatas, dan kerjasama kolektif antara pemerintah, industri, akademisi dan masyarakat, revitalisasi media tradisional dapat dioptimalkan di negara tercinta ini.


Daftar Pustaka
Hoecklin, Lisa. (1995). Managing Cultural Differences: Strategies for Competitive Advantage. Addison-Wesley Publishing Company.
Hofstede, Geert, Gert Jan Hofstede. (2005). Cultures and Organizations: Software of the Mind. New York: McGraw-Hill.
Holliday, Adrian., Hyde, Martin., Kullman, John. (2004). Intercultural Communication: an Advanced Resource Book. London: Routledge.
Kim Uichol; Triandis, Harry; Kagitcibasi, Cigdem; Choi, Chin-Sang; Yoon, Gene, (1994) Individualism and Collectivism, Sage, USA
Kaplan, David., & Manners, A. Robert. (2002). The Theory of Culture. Terjemahan. Pustaka Pelajar Offset.
Neuliep, W. James. (2006). Intercultural Communication: A Contextual Approach. California: Sage Publications
Gudykunst, William B., & Kim, Young Yun. (1997). Communicating with Strangers. Third edition. New York: McGraw-Hill.
Holliday, Adrian., Hyde, Martin., Kullman, John. (2004). Intercultural Communication: an Advanced Resource Book. London: Routledge.
Straubhaar & La Rose (2000). Media Now: Communications Media in the Information Age, Second edition, Wadsworth, a division of Thomson Learning
Kesenian Rakyat Digagas Forum Komunikasi Media Tradisional, Kompas, 16 Mei 2006.
http://www.rocw.raifoundation.org/masscommunication/BAMC/Developmentsupportcommunication/lecture-notes/lecture-17.pdf.
Artikel dari Kim Allen Bozark, MEDIA AND CULTURE: Media and Culture as Manifest in Male Individualism
Adi Prakosa, Media Tradisional, (2008), Blog
Lia Tsuladze (2003), Individualist Trends in Collectivist Societies. Tbilisi State University, Georgia

Kagitcibasi C. (1994). A critical Appraisal of Individualism and Collectivism –
Toward a New Formulation. Individualism & Collectivism. London: SAGE Publications.

Triandis H. C. (1995). Individualism and Collectivism. Oxford: Oxford University
Press.
Mengajarkan PPKn Melalui Cerita Wayang, Republika Online, 16 Juli 2004,

Abstract Dissertation

Dissertation Research, Department of Communication, University of Indonesia, Leila Mona, 890211006X

Relational Dialectics and Conflict Resolution
in Intercultural Marriages of the Sundanese and Arabs

(401 pages, 12 charts; 5 tables, 771 attachments, Bibliography: 112 books, 91 articles, journals, and others (1977-2007)

ABSTRACT

In a heterogenic country, such as Indonesia, an intercultural marriage is always possible. Many data reveal that intercultural marriages potentially are more troubled than marriages of the same culture. These conflicts arise because each culture has its own rules. A logical situation in one culture may seem very illogic in another. They cannot be compared. Ironically, both sides often react according to each their own culture and cannot accept when the spouse reacts according to a different standard of cultural rules.

Leslie Baxter and Montgomery (1998) put forward a theory called relational dialectics, which analyzed the strains that are conjoined in a romantic relationship. Relational dialectics are divided into internal and external dialectics. Internal dialectics how that in a couple relationship, the party needs to 1) balance between connectedness and separateness, 2) certainty and uncertainty, 3) self disclosure and privacy or openness-closeness to other party. External dialectics are relationship between couple and community. There are need of: 1) inclusion-seclusion, 2) conventionality-uniqueness, 3) revelation-concealment.

In this research the relational dialectics theory was studied in the cultural context in marriages between the Sundanese and Arabs. The culture elements that caused contradictions in their relationship is called intercultural dialectics. The aim of the research was to: 1) get the knowledge about internal-external relational dialectics of intercultural couples, 2) get the understanding about the experiences of the couples in connection to intercultural dialectics and 3) get the understanding on how those couples overcome the intercultural dialectics they face in their marriage on the internal and external scope.

Another theory used to help understand the researchers’ reasoning in this research was, among others, the intercultural communication model by Gudykunst and Kim (1997), the conflict resolution tactics by Hocker and Wilmot (1995) and five general resolution patterns in marriages between couples of different cultures developed by Tseng (1977).
Case study was done to four couples of Sunda-Arab. Interview, observation and participation to some of the couples activities were done to understand their experience related to relational dialectics and intercultural dialectics.

From this research it can be concluded that internal and external dialectics are tended to be sourced by cultural difference of each couple. The most conspicuous dialectics of those couples were caused by the individuals’ competence or incompetence to predict their spouse’s culture or surroundings. From the empirical data it was found that the attraction between the individuals were caused by culture elements related to scientific, religious, kinship including etiquette, and language systems. From the deep analysis was also concluded that the dialectics tended to be sourced by cultural difference instead of gender.

Another finding that was significant in this research was Conservative – Moderate dialectics. Conservative dialectics is the attitude to protect the culture or tradition believed. Moderate dialectics is the attitude to avoid extreme behavior and take a neutral stance in the differences of the cultures that occur in the relationship with the spouse.

Generally, couples discuss the differences between them. Collaborative and accommodative tactics are most obvious in their relationship. The adjustments are varied. In certain cases, they adopt the spouse’s culture, in other cases a mixture of cultures happens. Causes of adjustments are usually practicality, or the good of the family.

In relationships between individuals from large family surroundings, they usually adopt accommodative tactics and adaptation to one culture, that of the spouse’s family. This usually happens in conflicts that involves seniority in the family. Force from seniority tended to be important factors to create dialectics. That was also happen because Indonesia is a collective and high distance culture (Hofstede, 2005).

Dialectics in relation to beliefs, especially religion taught from childhood, is a problem that is inclined to be difficult to change. While in cultural dialectics that do not include belief systems, less time is spend to study it or is more logical not to practice, is the easiest to change.

Abstrak Tesis Komunikasi

PROGRAM PASCASARJANA, FISIP MANAJEMEN KOMUNIKASI, UNIVERSITAS INDONESIA
TESIS


ABSTRAK
Leila Mona
NPM: 8399140384


KOMUNIKASI NONVERBAL PADA KREDIBILITAS KOMUNIKATOR
161 hal + xv; literatur 37 (th 1975 s.d. 2001); 68 lampiran + 23 tabel

Kredibilitas adalah bagaimana seorang pembicara dipercaya dan diyakini oleh pendengarnya. Seorang komunikator tentu saja sangat berkepentingan dengan hal ini. Karena komunikan adalah orang yang paling menentukan kelayakan seorang komunikator. Komunikan jualah yang memutuskan apakah dirinya akan mengikuti atau menerima kata-kata, penjelasan, dan saran-saran dari komunikator.

Penelitian yang dilakukan ini berkaitan dengan kredibilitas, namun peneliti melihatnya dari kaitannya dengan komunikasi nonverbal. Dimensi kredibilitas yang menjadi perhatian dalam penelitian berkaitan dengan keotoritatifan, watak dan dinamisme seperti yang disarankan oleh Mc. Croskey (Devito,1978;111). Sementara itu komunikasi nonverbal yang menjadi perhatian adalah gerak tubuh, suara dan artifak seperti yang disarankan oleh Everett Rogers (1999).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi komunikan terhadap komunikator berkaitan dengan komunikasi nonverbalnya. Apa hal-hal yang paling berpengaruh bagi komunikan dalam menentukan seorang komunikator yang kredibel. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif namun pengumpulan data juga dilakukan dengan metode kuantitatif.

Penelitian ini adalah deskriptif, yaitu dimaksudkan untuk memaparkan situasi atau peristiwa tertentu berkaitan dengan kredibilitas komunikator dan komunikasi nonverbal dengan cara yang sistematis, faktual dan cermat. Metode pengumpulan data dengan wawancara dan kuesioner.

Peneliti juga melakukan observasi dan pencatatan sepanjang penelitian. Unit analisisnya adalah individual dengan jumlah informan 8 orang, responden 34 orang serta pembicara yang merupakan objek penelitian sejumlah 2 orang. Alat bantu pada penelitian ini adalah video yang diputar didepan para informan dan responden. Selanjutnya teknik pengukuran pada penelitian ini adalah dengan Perbandingan Analitis dan Metode Ilustratif seperti yang disarankan oleh Neuman (1991).

Hasil penting dari penelitian ini adalah bahwa komunikator yang mengoptimalkan penggunaan komunikasi nonverbal lebih dianggap kredibel oleh komunikan. Gerak tubuh dan suara sangat mempengaruhi persepsi informan dalam menilai dimensi keotoritatifan pembicara pada kecerdasan, pemahaman dan kemampuan mengembangkan kata-katanya; dimensi watak pada keobjektifitasannya serta dimensi dinamisme pada ketegasannya. Gerak tubuh, suara dan artifak mempengaruhi persepsi informan pada dimensi keotoritatifan pada kewibawaan; dimensi watak pada keterandalan, motivasi baik dan disukai; dimensi dinamisme pada kemampuan membujuk, semangat, kegairahan dan keaktifan serta keberaniannya.

Namun demikian mengingat kredibilitas adalah persepsi komunikan tentang komunikator yang dipengaruhi oleh pengalaman, kesukaan, daya tarik, budaya komunikan, karenanya kemungkinan adanya subjektifitas sangat tinggi sehingga belum tentu dapat digeneralisir.

Sunday, December 13, 2009

Sapaan Bodoh?



 Oleh: Leila Mona Ganiem
 

Ketika berpapasan dengan tetangga atau orang yang dikenal,
prosedur standar bagi orang Indonesia, khususnya Jawa, adalah
saling melempar senyum, menganggukkan kepala dan menyapa dengan sapaan khas, yaitu
"Mau ke mana?".

Umumnya tidak butuh jawaban.
Itu hanyalah suatu keramahan atau bahkan untuk mengakui eksistensinya bahwa ia adalah manusia.

Pernyataan lain seperti “nggak mampir dulu“, atau “mari makan”,
sesungguhnya juga tidak serius, sekedar basa-basi.
 

Ungkapan basa-basi ini adalah bagian percakapan penting di budaya Indonesia.
Ditujukan untuk menjalin hubungan sosial.
Ada rasa peduli, ramah dan perhatian pada orang lain.
Meski tidak ada fungsi khusus dalam proses komunikasi.

Sekali lagi, ungkapan itu sebenarnya tidak diharapkan untuk dipenuhi.
Ungkapan ’mau kemana’ sebenarnya ditujukan sebagai tanda bahwa “saya tetangga anda”
atau “saya kenal anda”.
Selain itu sebagai strategi mencairkan suasana (breaking the ice),
sehingga selanjutnya hubungan menjadi lebih santai dan tidak tegang.


Bagi orang Eropa atau Amerika, ungkapan “Where are you going?”
dianggap telah mencampuri urusan orang lain.
Dalam hati mereka akan bilang “Saya mau pergi kemana saja bukan urusan anda”
atau “It’s none of your business”.

 Tari Wilson, teman saya, bercerita sambil sedikit sewot.
Dia orang Indonesia, menikah dengan orang Inggris, dan pernah tinggal di London tiga tahun.
Sekarang mereka tinggal di Jakarta.

Tari sangat terganggu dengan sapaan satpam dikantornya, setiap pagi dengan ucapan "Kerja, Bu?". Pulangnya, satpam lain mengatakan, “Pulang, Bu?” atau “Jalan, Bu?”.


 


Ternyata bukan cuma satpam itu, melainkan karyawan-karyawan lain di kantornya.
Bagi dia itu adat istiadat ’bodoh’.
Teman lain, expatriate, yang ikut dalam diskusi itu, mengangguk geli dengan cerita Tari tadi.
Dia bilang, pengalaman yang sama juga kerap dia alami.

Anto, yang baru pulang dari sekolah di Amerika berkomentar,
”Orang Indonesia tuh suka mau tau aja urusan orang lain, mereka tuh harus tau MYOB (mind your own bussiness), ngak usah ngurusin orang lain.
Coba lihat, masa sapaan keorang lain ‘Mau kemana?’ atau ‘Dari mana?’ coba deh.
Come on, masa menyapanya ‘where are you going?’ or ‘where have you been?’
Kenapa sih menyapanya ngak ‘Hai, hari ini cerah sekali yah?’”

Mungkin Anto juga lupa bahwa di Indonesia itu musim tidak sepenting dinegara empat musim.
Bagaimana rasanya punya musim yang berudara cerah hanya tiga bulan dalam setahun.

Kemungkinan, rasa syukur akan udara cerah cukup penting dari pada di Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dengan dua musim.


 



Andai orang asing dan teman-teman saya orang Indonesia itu tahu
bahwa pertanyaan itu sekadar berbasa-basi untuk menunjukan keramahan orang Indonesia, (sebagaimana kalimat "How are you?" dalam bahasa Inggris ) mereka tentu tidak perlu jengkel. 
 


Satu lagi sapaan yang juga seru adalah sapaan khas orang Cina. Biasanya pada orang dewasa, jika berpapasan, apa pun kondisinya, mereka menyapa dengan sapaan “Sudah makan?”

Reaksi sangat berbeda dari reaksi lain diatas, datang dari seorang teman, bernama Soni.
Dia bercerita bahwa dia kaget karena disapa dengan ramah,

”Mau kemana, Pak?”.

Sapaan itu terjadi disebuah pom bensin di Jakarta.
Dengan antusias, Soni mengatakan, bahwa sapaan dipagi itu menyejukkan hatinya ditengah keegoisan dan keindividualisan orang Jakarta.
”Semoga makin banyak sapaan bersahabat seperti itu,” katanya.

 

Saya mendengar dengan sedikit menganalisa.
Mungkin karena banyak versi budaya yang saya cerna.
Memang, ketika mendengar tetangga atau teman, orang Indonesia, berkata, ”Mau kemana?” saya segera menarik pesan ’orang ini ramah dan sopan’.
Tapi jika saya ditanya oleh pramuniaga atau petugas pom bensin seperti yang dihadapi Soni,
reaksi saya akan seperti ini ’kenapa tanya-tanya, urusan saya dong’.

Soni memang memiliki toleransi tinggi pada versi ’Mau kemana, Pak?’. Bahkan sebuah kerinduan yang sangat tinggi agar sapaan itu bertebaran dimana-mana.



Jadi, gaya sapaan bervariasi didunia ini.
Untuk bijaknya, sebaiknya kita tahu yang mana yang tepat untuk situasi yang berbeda.
Kita mungkin sekarang terbiasa mendengar ungkapan ’selamat pagi’ atau ’selamat malam’.
Sesungguhnya itu adalah adaptasi budaya asing yang disosialisasikan mulai dari kantor-kantor,
sinetron atau pidato.

Sementara bagi orang Indonesia, sapaan ‘mau kemana?’ atau ’lagi ngapain?’
lebih dekat dalam menjalin kekerabatan hubungan.

Pergeseran itu terasa. 

Itulah artinya bahwa yang tetap didunia ini adalah perubahan.
Namun, barangkali kita masih bisa mendapatkan banyak orang diperumahan-perumahan merasa sangat kaku, aneh, atau agak kelu, jika perlu saling menyapa tetangga mereka
dengan ungkapan, ’selamat pagi’.