Thursday, December 24, 2009

Merevitalisasi Pilihan Media di Masyarakat Individualis dan Kolektifis (Komunikasi Antarbudaya)



 



Merevitalisasi Pilihan Media
di Masyarakat Individualis dan Kolektifis

oleh: Leila Mona Ganiem

Disampaikan dalam Konferensi Internasional Antropologi, 2008
Tema:  Mass Media and Revitalizing of Traditional Media in the Post Capitalist Era)









Jaman diawal sejarah manusia, kehidupan masih sangat kolektif.
Unit kesatuannya adalah grup seperti keluarga, klan dan suku.
Bila suplai makanan yang ada di hutan, pegunungan atau gurun, habis, orang pindah kedaerah lain.
Berburu, berkumpul dan saling berbagi sumber daya dengan suku adalah kegiatan mereka.

Menurut Uichol Kim (1994),
kepindahan suatu suku ketempat lain membutuhkan keahlian tertentu untuk beradaptasi.
Terbatasnya jumlah makanan, membuat mereka perlu tegas, otonom, berorientasi pada perolehan dan mengandalkan kemampuan diri.


Mereka berangsur individualis.

 


Disisi lain, komunitas yang menetap (mereka memiliki cukup makanan dari bertani dan beternak),
cenderung saling membantu, rela, patuh, bertanggung jawab satu sama lain dan konservatif.

Nilai-nilai kolektifis tersebut dikembangkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Namun demikian, tidak dapat dihindari,
perubahan di Eropa Barat sejak abad ke enam belas berubah secara drastis.
Beragam faktor seperti perdagangan internasional, kemunculan negara, adanya kelas pedagang, perkembangan yang cepat pada ilmu pengetahuan dan teknologi, meningkatnya efisiensi pertanian, industrialisasi, urbanisasi dan kemunculan kapitalisme, membuat manusia makin memiliki kontrol pada lingkungan.


 


Gaya hidup dilingkungan industri menjadi berbeda dengan dilingkungan pertanian.
Hubungan dilingkungan pertanian masih berdasarkan kerjasama kolektif dan kepercayaan.
Mereka hidup dan bekerja bersama-sama.
Dilingkungan industri, kumpulannya adalah orang yang saling asing satu sama lain.
Hubungannya tidak panjang, melainkan berdasarkan kepentingan.
Supply and demand. (Tonnies, 1887/1957; Uichom Kim, 1994).

Ilmuwan yang cukup aktif dalam riset mengenai budaya individualis dan kolektifis
pada berbagai negara adalah Hofstede.
Awalnya riset Hofstede kuat dalam kerangka komunikasi organisasi (IBM).
Risetnya untuk mengetahui budaya organisasi IBM yang tampaknya berbeda antara negara satu dengan negara lain. Dia melakukan riset pada 50 negara, pada tahun 1980.
Banyak ilmuwan lain yang menggunakan alat ukur Hofstede mengkonfirmasi dimensi budaya yang dikembangkan oleh Hofstede ini.
Tahun 2003, Hofstede (2005) mengulang risetnya di 74 negara dan hasilnya cenderung sama.
Hal ini menunjukkan bahwa dimensi individualis dan kolektifis masih cukup valid dan relatif sejalan dengan masyarakat di negara-negara yang diteliti.

Menurut Hofstede, dalam budaya yang berorientasi pada keindividualisan, diri menjadi unit sentral dari masyarakat.
Konsekuensinya, hak individual, berkaitan dengan diri sendiri dan keluarga inti.
Otonomi diri dan kemampuan meraih sesuatu menjadi penting.
Pada budaya individualis, individu dipercaya sebagai akhir dari seseorang.
Orang Individualis cenderung memperhatikan pada diri sendiri
dibandingkan pada masyarakat dimana orang tersebut berada.

 


Keluarga individualis biasanya terdiri dari ibu, ayah, kakak, adik saja.
Keluarga lainnya jarang terlihat.
Anak dari keluarga seperti ini, ketika tumbuh, segera belajar untuk melihat dirinya sebagai ‘saya’.
Tujuan pendidikan adalah untuk membuat anak menjadi mandiri atau berdiri di atas kakinya sendiri.
Anak diharapkan meninggalkan rumah orang tuanya segera setelah mereka mampu.


 


Pada budaya kolektifis, kelompok merupakan unit sentral dari masyarakat. Mereka terikat secara tujuan, keperluan dan nasib individu. Dengan demikian, tugas dan kewajiban pada kelompok, saling ketergantungan pada individu lain dalam kelompok dan pemenuhan peran sosial menjadi penting.

Di budaya kolektifis, ‘keluarga’  terdiri dari sejumlah orang yang tinggal bersama.
Bukan hanya orang tua dan anak-anaknya, namun juga nenek kakek, paman, bibi, pembantu dan saudara lainnya.
Anak diajak belajar untuk berfikir bahwa mereka adalah bagian dari kelompok ‘kita’.
Hubungan bukan fakultatif atau sukarela melainkan ada secara alami.
Antara orang dengan kelompoknya ada ketergantungan mutual yang berkembang
pada tataran praktis dan psikologis.

Pada kelompok kolektifis, pendapat pribadi tidak ada.
Hal  yang mendapat tempat adalah pendapat kelompok.
Bila ada isu baru yang muncul dan belum ada pendapat kelompok yang sudah terbina,
biasanya diadakan konferensi sebelum pendapat diberikan.
Keloyalan pada kelompok merupakan elemen penting bagi kelompok kolektifis.
Acara keluarga seperti pengajian, sunatan, perkawinan, pemakaman dll adalah penting dan seharusnya tidak dilewatkan. Media yang menyertakan kegiatan mengumpul merupakan hal yang penting.

Negara seperti Amerika, Australia, Inggris, Kanada, Hungaria, Belanda, Selandia Baru, Italia, Denmark, Perancis, Swedia, Norwegia, Jerman, dan beberapa negara lainnya cenderung individualis. Negara seperti Guatemala, Ekuador, Venezuela, Pakistan, Indonesia, Peru, Taiwan, Korea, Afrika Barat, Vietnam, Thailand, Singapura, China, dan beberapa negara lainnya cenderung kolektifis.


Media Tradisional

Menurut Coseteng dan Nemenzo (Jahi, 1988), media tradisional adalah bentuk-bentuk verbal, gerakan, lisan dan visual yang dikenal atau diakrabi rakyat, diterima oleh mereka, dan diperdengarkan atau dipertunjukkan oleh dan/atau untuk mereka.

Tujuannya adalah untuk menghibur, menjelaskan, mengajar, dan mendidik.
Media rakyat dapat tampil dalam bentuk nyayian rakyat, tarian rakyat, musik instrumental rakyat, drama rakyat, pidato rakyat- yaitu semua kesenian rakyat apakah berupa produk sastra, visual ataupun pertunjukkan- yang diteruskan dari generasi ke generasi (Clavel dalam Jahi, 1988).

Dalam tulisan ini, saya menganalisa adanya perbedaan antara media yang cenderung muncul di negara individualis dan kolektifis.

Media tradisional yang juga dikenal juga sebagai media rakyat atau kerap juga disebut sebagai folklor. Bentuk-bentuk folklor tersebut antara lain: cerita prosa rakyat (mite, legenda, dongeng); ungkapan rakyat (peribahasa, pemeo, pepatah); puisi rakyat; nyayian rakyat; teater rakyat; gerak isyarat (memicingkan mata tanda cinta); alat pengingat (mengirim sisrih berarti meminang); dan alat bunyi-bunyian (kentongan, gong, bedug dan lain-lain).

Dari aktualitasinya, ada seni tradisional seperti wayang purwa, wayang golek, ludruk, kethoprak, dan sebagainya.

Media tradisional yang ada tampaknya memiliki kebedaan bentuk antara negara inidivudualis dan kolektifis. Dinegara kolektifis, media tradisionalnya cenderung komunal. Misalnya tari Kecak dari Bali, tari Saman dari Aceh, penarinya banyak dan mengikuti irama secara kolektif. Mereka menonton bersama terutama dalam konteks pemujaan atau kegiatan eksklusif internal dalam komunitasnya.

Di negara individualis, media tradisionalnya cenderung Individual. Misalnya dansa.
Pedansa yang merasa mampu atau berminat berdansa, akan masuk ke medan dansa dan mengajak pasangannya.
 


Sementara dalam suatu tarian dibudaya kolektifis, meski mereka tidak harus selalu berlatih secara bersama dalam suatu waktu tertentu (umumnya berlatih bersama),
namun ada aturan gerak yang disepakati sebagai arahan untuk melaksanakan tarian tadi.
Memang tidak dapat dihindari bahwa tari-tarian rakyat di negara Individualis banyak juga yang komunal, karena seperti dijelaskan diatas, masyarakat umumnya hidup dalam tatanan kolektifis.

 


Berkaitan dengan penggunaan media pada negara Individualis, penggunaan media dapat mengarah pada aktifitas
yang mendukung kenyamanan pribadi dan keotonomian diri.
Kebebasan berekspresi dan beropini umumnya dihargai dan dikembangkan.
Kemunculan media massa seperti Media cetak, radio, televisi, film, internet umumnya berawal dari negara individualis.

Surat kabar pertama kali dibuat di Amerika Serikat, dengan nama “Public Occurrenses Both Foreign and Domestick” di tahun 1690. Saat ini ada sekitar 60.000 surat kabar didunia dan sepertiganya ada di Amerika (Heritage Speakers Series, 1998).
 Fisikawan Jerman Heinrich Hertz, tahun 1888 pertama kali mengirim dan menerima gelombang radio pertama. Film dibuat pertama kali di tahun 1888 oleh Thomas Edison di Amerika. Penemu tube iconoscope yang merupakan mesin dari televisi adalah Zworykin, 1923. Zworykin adalah seorang Rusia, namun televisi selanjutnya makin berkembang di Inggris (1935) dan Amerika (1939). Komputer ditemukan oleh Charles Babbage tahun 1822. Babbage adalah seorang profesor matematika dari Inggris. (Straubhaar, LaRose, 2000).

Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi banyak pergeseran pada masyarakat kolektifis terutama diperkotaan, menjadi kian individualis.
Alasannya, menurut Goodwin, (1999, h. 115)

pertama, tren modernisasi telah merubah struktur tradisi yang berpola hubungan sosial berdasarkan respek pada yang telah tua, berangsur menurun.
Hal ini terjadi karena perkembangan faham sekaligus penolakan atas konservatisme
dan gaya autoritarian yang diterapkan saat masa asuh seseorang.

Alasan kedua, penyebaran gaya pendidikan Barat yang mendorong anak muda menghabiskan pendapatannya sendiri dan pada keluarga utamanya saja, kian diterima dan diterapkan terutama pada generasi muda.

Ketiga, penyebaran orientasi pasar menyebabkan perubahan pada hubungan keluarga besar (extended family) menjadi hubungan baru yang mengacu pada keuntungan ekonomis. Makin pentingnya hubungan keluarga, makin mengecilnya keluarga itu sendiri.

Pendapat lain yang mengkonfirmasi adanya pergeseran pada masyarakat kolektifis menjadi makin individualis dinyatakan oleh Camilleri, Malevska-Peyre, 1997, h.43-54).
Menurutnya, pertama, peran sosial semakin terbuka pada variasi individual.

Kedua, individual diberi kesempatan luas untuk secara mandiri memilih kelompok yang mereka ingin bergabung, dibandingkan dipilihkan untuk bergabung dengan mereka.

Beberapa riset mengenai perubahan itu dapat dilihat dari riset terhadap keluarga China (Goodwin, 1999), keluarga India (Sinha, Tripathy, 1994), Turki (Kagitcibasi, 1994), Georgia (Lia Tsuladze, 2000).

Dengan perubahan pada budaya masyarakat, pilihan media tradisional juga tampaknya makin berubah. Saat ini misalnya, banyak anak-anak sekolah atau mahasiswa tidak banyak yang memilih tarian atau wayang sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Mereka bahkan tidak paham apa kehebatan tokoh Arjuna, Semar atau tokoh lainnya. Mereka juga memilih menonton film atau musik dan penyanyi favoritnya dibandingkan Ludruk. Sebuah riset menyimpulkan bahwa ketika media komputer memasuki rumah, pola konsumsi media massa cenderung berubah. Studi oleh Miller & Clemente (1997) menyimpulkan bahwa sepertiga pengguna internet menghabiskan lebih sedikit waktu untuk menonton televisi daripada yang mereka lakukan sebelumnya

Mengapa Media Tradisional Penting?
Media membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari. Hal itu terjadi secara perlahan namun cukup efektif. Menurut William Boscon (Adi Prakosa, 2008) mengemukakan fungsi-fungsi pokok folklor sebagai media tradisional adalah sebagai berikut:

1. Sebagai sistem proyeksi. Folklor menjadi proyeksi angan-angan atau impian rakyat jelata, atau sebagai alat pemuasan impian (wish fulfilment) masyarakat yang termanifestasikan dalam bentuk stereotipe dongeng. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini hanya rekaan tentang angan-angan seorang gadis desa yang jujur, lugu, menerima apa adanya meskipun diperlakukan buruk oleh saudara dan ibu tirinya, namun pada akhirnya berhasil menikah dengan seorang raja, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.

2. Sebagai penguat adat. Cerita Nyi Roro Kidul di daerah Yogyakarta dapat menguatkan adat (bahkan kekuasaan) raja Mataram. Seseorang harus dihormati karena mempunyai kekuatan luar biasa yang ditunjukkan dari kemapuannya memperistri ”makhluk halus”. Rakyat tidak boleh menentang raja, sebaliknya rasa hormat rakyat pada pemimpinnya harus dipelihara. Cerita ini masih diyakini masyarakat, terlihat ketika masyarakat terlibat upacara labuhan (sesaji kepada makhluk halus) di Pantai Parang Kusumo.

3. Sebagai alat pendidik. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.

4. Sebagai alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi. Cerita ”katak yang congkak” dapat dimaknai sebai alat pemaksa dan pengendalian sosial terhadap norma dan nilai masyarakat. Cerita ini menyindir kepada orang yang banyak bicara namun sedikit kerja.

Jadi media memang berfungsi banyak, sebagai alat untuk meningkatkan kepercayaan diri atau menurunkan kepercayaan diri. Selain itu sebagai transfer budaya dan sosialisasi serta pendidikan yang memiliki nilai hiburan, serta fungsi-fungsi lainnya. Media memang cukup ampuh membuat orang merasa senang akan diri mereka, merasa cukup, atau merasa rendah dari yang lain .

Apa yang perlu dilakukan untuk merevitalisasi:
Apa yang perlu kita lakukan untuk merevitalisasi penggunaan media tradisional ditengah desakan kuat modernitas? Segala upaya yang diambil sebaiknya memahami pola hidup atau budaya masyarakat yang ada saat ini. Seperti yang dijelaskan diatas, masyarakat budaya kolektifis kini, terutama di perkotaan, menjadi kian individualis.

Pada tulisan ini, saya akan memfokuskan pada konteks Indonesia. Sesungguhnya telah ada upaya-upaya individu yang memiliki kepekaan sosial terhadap masalah ini. Salah satunya seorang guru bernama Parman (Republika Online, 16 Juli 2004) mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dengan wayang, kepada anak didiknya di SLTP Negeri 3 Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah dengan wayang. Model pembelajaran ini dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa secara signifikan terutama berkaitan dengan pelajaran budi pekerti, kepahlawanan, patriotik, persaudaraan, dan lain-lain nilai kemanusiaan. Selain itu juga sekaligus mengajarkan kecintaan akan budaya tanah air.

Contoh baik lain yang dilakukan secara kolektif oleh institusional adalah kegiatan yang digagas Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Yogyakarta. Media tradisional terdiri dari berbagai macam kesenian tradisional yang juga berasal dari suatu wilayah di Indonesia. Forum ini secara aktif mendorong untuk menghidupkan dan membentuk kembali media tradisional yang berdasarkan kekayaan seni tradisional di masing-masing daerah. (Kompas, 16 Mei 2006).

Selain dari gagasan diatas, ada beberapa upaya aktif lain yang dapat kita dilakukan untuk merevitalisasi media tradisional ini.

Pertama, seiring dengan makin maraknya media massa yang hadir dalam konteks individualis, seperti internet, maka sebaiknya ada sinergi kolektif yang kita lakukan dengan memanfaatkan media tersebut. Jika kesenian tradisional seperti wayang, tarian dll dimasukkan di internet, diharapkan akses untuk melihat kesenian Indonesia makin terbuka bagi orang Indonesia maupun lainnya. Pemanfaatan media lainnya televisi, film, radio dll, juga perlu dioptimalkan untuk menjangkau masyarakat yang kian individualis.

Kedua, kegiatan seperti Forum untuk mensosialisasikan media tradisional sebaiknya dioptimalkan ditiap daerah. Tugas forum ini adalah untuk menghidupkan kembali media tradisional yang dulu jaya, serta mengembangkannya.

Ketiga, Pemerintah, tokoh masyarakat, dan industri, diharapkan dapat secara aktif mengajak masyarakat untuk melestarikan media tradisional. Seperi Batik. Himbauan pemerintah, kerjasama desainer, industri batik dan media, membuat orang Indonesia makin bangga dan senang mengenakan batik Contoh lain yang dapat mewakili adalah pada negara New Zealand. Penduduk asli negara itu adalah orang Maori. Jumlahnya sekitar 25% saja dari seluruh masyarakat. 75% lainnya berasal dari negara Eropa yang migrasi sejak dulu. Ketika ada pertandingan sepak bola, team sepakbola New Zealand (dominan dari orang migrasi Eropa) menampilkan tarian suku Maori. Dengan demikian publik luas dapat melihat kekhasan asli lokal, meskipun kelompok minoritas dari jumlahnya.

Berkaitan dengan ajakan tadi, aktifitas yang mungkin dapat dimanfaatkan adalah dengan memanfaatkan momen berkumpul seperti acara perkawinan, sunatan, lomba, pertandingan atau kegiatan kumpul lainnya dengan menampilkan kesenian tradisional kita. Selain memperluas kesempatan tenaga kerja, program tersebut juga dapat meningkatkan minat dan kebanggaan pada budaya sendiri. Industri dan media juga perlu diajak kerjasama secara serius untuk memanfaatkan marketing atau advertisingnya menggunakan budaya lokal.

Keempat, Pemain pada budaya tradisional juga perlu mengembangkan diri, Penyesuaian pada keinginan masyarakat sebaiknya dioptimalkan. Seperti Batik tadi, variasi model pakaian batik, tidak hanya dikenakan dengan model asli seperti untuk kebaya, atau pakaian informal perkawinan/acara khusus. Dengan demikian, kebanggaan dan kebebasan berekspresi individu dapat disalurkan. Pada konteks ini, misalnya penari dapat menampilkan diri dengan cara menarik dan dapat berpindah peran dengan baik misalnya ketika menjadi penari dan profesi atau aktifitas lainnya. Dengan demikian tidak ada kesan, penari tradisional pastinya akan berbatik dan berkonde saja, tidak dapat tampil dalam kehidupan modern.

Diharapkan dengan upaya-upaya diatas, dan kerjasama kolektif antara pemerintah, industri, akademisi dan masyarakat, revitalisasi media tradisional dapat dioptimalkan di negara tercinta ini.


Daftar Pustaka
Hoecklin, Lisa. (1995). Managing Cultural Differences: Strategies for Competitive Advantage. Addison-Wesley Publishing Company.
Hofstede, Geert, Gert Jan Hofstede. (2005). Cultures and Organizations: Software of the Mind. New York: McGraw-Hill.
Holliday, Adrian., Hyde, Martin., Kullman, John. (2004). Intercultural Communication: an Advanced Resource Book. London: Routledge.
Kim Uichol; Triandis, Harry; Kagitcibasi, Cigdem; Choi, Chin-Sang; Yoon, Gene, (1994) Individualism and Collectivism, Sage, USA
Kaplan, David., & Manners, A. Robert. (2002). The Theory of Culture. Terjemahan. Pustaka Pelajar Offset.
Neuliep, W. James. (2006). Intercultural Communication: A Contextual Approach. California: Sage Publications
Gudykunst, William B., & Kim, Young Yun. (1997). Communicating with Strangers. Third edition. New York: McGraw-Hill.
Holliday, Adrian., Hyde, Martin., Kullman, John. (2004). Intercultural Communication: an Advanced Resource Book. London: Routledge.
Straubhaar & La Rose (2000). Media Now: Communications Media in the Information Age, Second edition, Wadsworth, a division of Thomson Learning
Kesenian Rakyat Digagas Forum Komunikasi Media Tradisional, Kompas, 16 Mei 2006.
http://www.rocw.raifoundation.org/masscommunication/BAMC/Developmentsupportcommunication/lecture-notes/lecture-17.pdf.
Artikel dari Kim Allen Bozark, MEDIA AND CULTURE: Media and Culture as Manifest in Male Individualism
Adi Prakosa, Media Tradisional, (2008), Blog
Lia Tsuladze (2003), Individualist Trends in Collectivist Societies. Tbilisi State University, Georgia

Kagitcibasi C. (1994). A critical Appraisal of Individualism and Collectivism –
Toward a New Formulation. Individualism & Collectivism. London: SAGE Publications.

Triandis H. C. (1995). Individualism and Collectivism. Oxford: Oxford University
Press.
Mengajarkan PPKn Melalui Cerita Wayang, Republika Online, 16 Juli 2004,

No comments: