Sunday, December 13, 2009

Sapaan Bodoh?



 Oleh: Leila Mona Ganiem
 

Ketika berpapasan dengan tetangga atau orang yang dikenal,
prosedur standar bagi orang Indonesia, khususnya Jawa, adalah
saling melempar senyum, menganggukkan kepala dan menyapa dengan sapaan khas, yaitu
"Mau ke mana?".

Umumnya tidak butuh jawaban.
Itu hanyalah suatu keramahan atau bahkan untuk mengakui eksistensinya bahwa ia adalah manusia.

Pernyataan lain seperti “nggak mampir dulu“, atau “mari makan”,
sesungguhnya juga tidak serius, sekedar basa-basi.
 

Ungkapan basa-basi ini adalah bagian percakapan penting di budaya Indonesia.
Ditujukan untuk menjalin hubungan sosial.
Ada rasa peduli, ramah dan perhatian pada orang lain.
Meski tidak ada fungsi khusus dalam proses komunikasi.

Sekali lagi, ungkapan itu sebenarnya tidak diharapkan untuk dipenuhi.
Ungkapan ’mau kemana’ sebenarnya ditujukan sebagai tanda bahwa “saya tetangga anda”
atau “saya kenal anda”.
Selain itu sebagai strategi mencairkan suasana (breaking the ice),
sehingga selanjutnya hubungan menjadi lebih santai dan tidak tegang.


Bagi orang Eropa atau Amerika, ungkapan “Where are you going?”
dianggap telah mencampuri urusan orang lain.
Dalam hati mereka akan bilang “Saya mau pergi kemana saja bukan urusan anda”
atau “It’s none of your business”.

 Tari Wilson, teman saya, bercerita sambil sedikit sewot.
Dia orang Indonesia, menikah dengan orang Inggris, dan pernah tinggal di London tiga tahun.
Sekarang mereka tinggal di Jakarta.

Tari sangat terganggu dengan sapaan satpam dikantornya, setiap pagi dengan ucapan "Kerja, Bu?". Pulangnya, satpam lain mengatakan, “Pulang, Bu?” atau “Jalan, Bu?”.


 


Ternyata bukan cuma satpam itu, melainkan karyawan-karyawan lain di kantornya.
Bagi dia itu adat istiadat ’bodoh’.
Teman lain, expatriate, yang ikut dalam diskusi itu, mengangguk geli dengan cerita Tari tadi.
Dia bilang, pengalaman yang sama juga kerap dia alami.

Anto, yang baru pulang dari sekolah di Amerika berkomentar,
”Orang Indonesia tuh suka mau tau aja urusan orang lain, mereka tuh harus tau MYOB (mind your own bussiness), ngak usah ngurusin orang lain.
Coba lihat, masa sapaan keorang lain ‘Mau kemana?’ atau ‘Dari mana?’ coba deh.
Come on, masa menyapanya ‘where are you going?’ or ‘where have you been?’
Kenapa sih menyapanya ngak ‘Hai, hari ini cerah sekali yah?’”

Mungkin Anto juga lupa bahwa di Indonesia itu musim tidak sepenting dinegara empat musim.
Bagaimana rasanya punya musim yang berudara cerah hanya tiga bulan dalam setahun.

Kemungkinan, rasa syukur akan udara cerah cukup penting dari pada di Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dengan dua musim.


 



Andai orang asing dan teman-teman saya orang Indonesia itu tahu
bahwa pertanyaan itu sekadar berbasa-basi untuk menunjukan keramahan orang Indonesia, (sebagaimana kalimat "How are you?" dalam bahasa Inggris ) mereka tentu tidak perlu jengkel. 
 


Satu lagi sapaan yang juga seru adalah sapaan khas orang Cina. Biasanya pada orang dewasa, jika berpapasan, apa pun kondisinya, mereka menyapa dengan sapaan “Sudah makan?”

Reaksi sangat berbeda dari reaksi lain diatas, datang dari seorang teman, bernama Soni.
Dia bercerita bahwa dia kaget karena disapa dengan ramah,

”Mau kemana, Pak?”.

Sapaan itu terjadi disebuah pom bensin di Jakarta.
Dengan antusias, Soni mengatakan, bahwa sapaan dipagi itu menyejukkan hatinya ditengah keegoisan dan keindividualisan orang Jakarta.
”Semoga makin banyak sapaan bersahabat seperti itu,” katanya.

 

Saya mendengar dengan sedikit menganalisa.
Mungkin karena banyak versi budaya yang saya cerna.
Memang, ketika mendengar tetangga atau teman, orang Indonesia, berkata, ”Mau kemana?” saya segera menarik pesan ’orang ini ramah dan sopan’.
Tapi jika saya ditanya oleh pramuniaga atau petugas pom bensin seperti yang dihadapi Soni,
reaksi saya akan seperti ini ’kenapa tanya-tanya, urusan saya dong’.

Soni memang memiliki toleransi tinggi pada versi ’Mau kemana, Pak?’. Bahkan sebuah kerinduan yang sangat tinggi agar sapaan itu bertebaran dimana-mana.



Jadi, gaya sapaan bervariasi didunia ini.
Untuk bijaknya, sebaiknya kita tahu yang mana yang tepat untuk situasi yang berbeda.
Kita mungkin sekarang terbiasa mendengar ungkapan ’selamat pagi’ atau ’selamat malam’.
Sesungguhnya itu adalah adaptasi budaya asing yang disosialisasikan mulai dari kantor-kantor,
sinetron atau pidato.

Sementara bagi orang Indonesia, sapaan ‘mau kemana?’ atau ’lagi ngapain?’
lebih dekat dalam menjalin kekerabatan hubungan.

Pergeseran itu terasa. 

Itulah artinya bahwa yang tetap didunia ini adalah perubahan.
Namun, barangkali kita masih bisa mendapatkan banyak orang diperumahan-perumahan merasa sangat kaku, aneh, atau agak kelu, jika perlu saling menyapa tetangga mereka
dengan ungkapan, ’selamat pagi’.


4 comments:

kangpram said...

Benar mbak..semua tergantung pada situasi, waktu, dan tempat. Ada baiknya kita memperkaya wawasan kita tentang budaya daerah/negara lain sehingga "sesuatunya" dapat dimengerti. Terus berkarya mbak..

kangpram said...
This comment has been removed by the author.
kangpram said...
This comment has been removed by the author.
Leila Mona Ganiem said...

Thanks Kangpram...
ditunggu juga karya-karyanya. salam hangat
lmg