Wednesday, May 11, 2011

Inspirational Thought


                                


Ketika melibatkan keindahan terbaik, tibalah kita pada urusan perasaan,
bukan pandangan atau sentuhan... 
Mari ciptakan keindahan agar jiwa-jiwa menikmati pencerahan batin... 

Lmg




 

Engkau benar dengan perasaan dan pikiranmu. Percayalah. 

Lmg




Senantiasa melakukan yang terbaik dalam kehidupan, dan itu Cukup!
Lmg 
 
 


Sesungguhnya banyak ekspresi kekayaan batin penuh kasih
 tidak mampu diurai dengan kata indah melainkan dengan kemarahan. 
Padahal menurut Joan Lunden, kemarahan adalah pencuri yang mencuri saat-saat manis kita 

Lmg





 


Terkadang sesuatu hal tidak tepat ditempatnya. 
Menatanya kembali membutuhkan ketegasan diri. 
Ketegasan yang diberkahi adalah gerak hati untuk konsisten pada aturan Ilahi.

Lmg




 


Ketika khawatir duka menghampiri, jauhi stimulusnya 

Lmg


 


Kesederhanaan sesungguhnya tidak sederhana.

Lmg

 

 

Itu berarti itu, bukan yang lain!
Terkadang sulit menghadirkan sesuatu apa adanya.

Lmg

Sunday, May 08, 2011

Orang Sunda Pasangan Idaman (Analisa Teori Dialektika Hubungan)

http://fc02.deviantart.net/fs70/f/2011/074/8/3/suku_sunda_by_hendywiranata-d3bqu2k.jpg

Oleh: Leila Mona Ganiem
Pikiran Rakyat, 2010


Hidup berpasangan adalah fitrah manusia.
Pertemuan dua bangsa atau suku dalam suatu interaksi sosial memungkinkan terjadinya perkawinan antarbudaya.

Sebagai salah satu provinsi, Jawa Barat memiliki jumlah penduduk terbesar di Indonesia.
Berbagai data menunjukkan bahwa banyak pendatang memilih Jawa Barat sebagai tempat hijrah.

Secara budaya, orang Sunda tidak memiliki pembatasan dalam perkawinan (eksogami).
Kecuali larangan untuk tidak menikah dengan saudara kandung.


Orang tua Sunda kerap menyampaikan pada anak-anak mereka,
”Boleh menikah dengan siapa saja, yang penting seiman”.









http://4.bp.blogspot.com/-KHAEjQiikEc/Us-bsPTQZ0I/AAAAAAAAETY/W0nppldCTck/s1600/kerdil.jpg


Meski demikian ada beberapa data mengungkap mitos mengenai larangan perkawinan laki-laki Sunda dengan perempuan Jawa.
Dapat dipastikan, perkawinan orang Sunda-Non Sunda cukup banyak dan berpotensi kian banyak pada masa yang akan datang dengan adanya globalisasi teknologi dan informasi.

                                          
                                            http://demetriaburton.efoliomn.com/Uploads/relationship12_float.jpg

Meski dalam hubungan romantis, tiap pasangan kerap menghadapi ketegangan.
Ketegangan tersebut bukan karakter pribadi seseorang, melainkan terjadi secara alamiah.

Sebagai catatan, konflik ada dalam setiap hubungan yang penting dengan adanya interaksi yang terjalin (Baxter dan Montgomery (1998).


                                                                          
                                                                           http://leapafrica.files.wordpress.com/2014/02/rc.jpg


Konflik kian muncul dengan adanya perbedaan budaya.
Hal ini karena  budaya memiliki aturan main masing-masing
Budaya juga memiliki asumsi-asumsi tersembunyi yang diyakini  dan kadang hanya dimengerti penganutnya.

Konflik cenderung lebih besar pada pasangan dengan budaya sangat berbeda dibandingkan dengan yang sama (Triandis, 2003).

Hal yang benar dari suatu budaya, bisa jadi merupakan tindakan tidak terpuji bagi budaya lain.

Perbedaan tersebut disebut “jarak budaya”.
Budaya terserap dalam sistem syaraf seseorang sejak kecil.
Budaya dijalankan secara otomatis.

Adanya interaksi pada perkawinan antarbudaya, memungkinkan seseorang kian tergugah kesadarannya mengenai kepemilikan budaya.


 
 http://www.iambetterthanyou.com/wp-content/uploads/shadesfrontcrop.jpg

Masalah terjadi ketika salah satu dari pasangan mempercayai dirinya sebagai tempat berlabuhnya suatu pernilaian.

Aturan budayanya paling baik dan sempurna serta dijadikan standar dalam mengukur budaya pasangan. Padahal budaya tidak dapat dibandingkan (incommensurability).


https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRyUAe7PGM4CqvruXz2m_lumXYfrwVkzs6sPD7efQbK4liIUSBtww

Dari berbagai data disimpulkan, bahwa potensi konflik dalam perkawinan, diantaranya perbedaan selera, kebiasaan, nilai-nilai, temperamen, penghasilan, keyakinan, harapan.

Masalah anak, kehadiran pihak lain, seks, ipar-mertua, komunikasi terbatas, persepsi akan waktu luang, persepsi akan peran jender, tempat tinggal; politik; teman; uang, kelas sosial; agama; cara membesarkan anak; etnosentrisme; sekarang ditambah dengan teknologi seperti FB, twitter, juga berpeluang menjadi konflik.

                                                            
                                                                http://opic.com.au/wp-content/uploads/2012/05/how-to-handle2.jpg



Bagaimana cara seseorang menghadapi konflik?
Menurut Hocker & Wilmot (1995) orang cenderung berkomunikasi dengan cara konsisten.
Beberapa taktik yang secara umum kerap digunakan, adalah:
1) taktik menghindar, 2) taktik kolaboratif, 3) taktik kompetitif dan 4) taktik akomodatif .


http://jeremylightsmith.com/images/tki.png


Dalam suatu riset kualitatif yang pernah saya lakukan terhadap pasangan Sunda-Non Sunda tahun 2006-2007, dapat disimpulkan bahwa pasangan Sunda-non Sunda cenderung dapat menyelesaikan masalah dengan baik.


 
 http://2.bp.blogspot.com/-Zpjc6I4Wx5w/Umkd6HrscbI/AAAAAAAAAK8/aR_pUx9Cjs0/s1600/d0eb9b730575936bc10a470220376d0f.jpg


Umumnya mereka mendiskusikan permasalahan, sehingga keputusan disepakati bersama.
Ketegangan diantara mereka, lebih dipicu masalah budaya, daripada masalah jender.

Isteri bersuku Sunda cenderung berani menyatakan pendapat, mempertahankan keyakinannya dan berdebat dengan cara lebih egaliter pada pasangannya.

Suami Sunda cenderung memberi kesempatan pada isterinya bersama-sama membuat keputusan.
Pada beberapa situasi, suami Sunda mempersilahkan isterinya membuat keputusan.

                                   
                                                               https://osgapusgov.files.wordpress.com/2012/03/teamwork.jpg



Pasangan Sunda-non Sunda cenderung menggunakan taktik kolaboratif.
Ini adalah  taktik yang memperhatikan tujuan masing-masing individu yang terlibat.


Pasangan juga cenderung menyelesaikan konfliknya dengan taktik akomodatif.
Taktik akomodatif menunjukkan bahwa salah satu individu dari pasangan tersebut cenderung mengalah, tidak melawan, kooperatif, mengingkari membutuhkan atau tidak asertif pada kebutuhannya, dan ekspresi keinginan untuk harmoni atau untuk menyenangkan pasangannya.

                                                   
                                                 http://www.boneka.org/wp-content/uploads/2013/10/boneka-couple-penganten-sunda-jawa.jpg
Competition in Business

Taktik kompetitif dan menghindar adalah taktik yang jarang digunakan, meski bukan berarti tidak pernah.

Taktik menghindar terkadang digunakan dengan cara pengelakan, perubahan atau menghindari pembahasan topik, tidak berkomitmen dan menggunakan humor sebagai cara untuk tidak menyelesaikan konflik secara langsung.

Bilapun dilakukan, taktik menghindar dilakukan pada hal yang tidak terlalu krusial dalam hubungan mereka.

Atau dapat juga pada permasalahan yang cukup krusial namun telah dibahas dan tidak mudah ditemukan penyelesaiannya.

Taktik kompetitif juga umumnya tidak dilakukan.

Taktik ini menunjukkan kesan agresif, tidak kooperatif atau gaya “kekuasaan diatas”.

Taktik kompetitif dapat dilihat datanya pada pasangan isteri Sunda-suami non-Sunda.






https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTGUq3Dn4gsKP-i73kgdCeomK4Go7E2S9VXnlOkVNRw0FT_2V3o



Sebelum saya akhiri, saya ingin sampaikan bahwa
orang non Sunda yang diriset, diseleksi pada mereka yang telah terekspose oleh budaya Sunda.
Misalnya mereka yang pernah tinggal, bekerja atau sekolah di wilayah Sunda.
Artinya, pada non Sunda yang tidak pernah terekspose budaya Sunda, hasilnya mungkin berbeda.

Secara umum kesimpulan yang ingin saya sampaikan adalah,

Orang bersuku Sunda cukup nyaman dijadikan pasangan terutama berkaitan dengan cara penyelesaian konflik atas perbedaan yang terjadi diantara mereka.

Orang Sunda dalam penelitian ini, cenderung kolaboratif dan akomodatif.


Studi oleh Rochayanti (2007) pada perkawinan antaretnik Sunda-non Sunda
juga menyimpulkan hal senada.

Menurutnya, masing-masing individu dalam pasangan tersebut
berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan adat budaya pasangan.


 
http://1.bp.blogspot.com/--0t0KvBjN3M/Ukg3NYXZB3I/AAAAAAAADm8/sirpMPU9Swo/s1600
/101_0065.JPG

Komunikasi Pemasaran Berperspektif Budaya


Oleh: Leila Mona Ganiem
Bisnis Indonesia, 2010

Globalisasi dan Pemasaran

Realitasnya kita saksikan, pasar global kian terbuka. 
Sushi, hamburger, kebab, menjadi bagian gaya hidup orang kota. Michael Jackson, Angelina Jolie dan Valentino Rossi, adalah pujaan bersama. Kesadaran merek global memberi ruang ekspansi atas pasar lokal yang telah jenuh. Pemilik uang diberbagai belahan dunia, mengendarai kendaraan bermerek sama, jam tangan sama, dan jaringan hotel yang sama. Orang muda dan orang kaya memiliki gaya hidup yang mirip diberbagai negara (Pr. Smith, 1997:272). Kita juga rasakan banyak kendala politik terurai akibat pendekatan ekonomi.

Lalu, apakah standarisasi strategi komunikasi pemasaran dapat dilakukan? Alasannya, kelompok sosio-demografik yang dituju sama. Syaraf dari pasar yang disentuh juga kira-kira sama.

Jawaban segar datang dari Levitt, Theodore (1983). Dia menyimpulkan bahwa komunikasi pemasaran dapat distandarisasi lintas budaya. Secara praktis perusahaan mendapat manfaat langsung adanya pengurangan biaya produksi iklan dan biaya implementasi strategi baru.

Namun, tidak sedikit ahli menolak asumsi Levitt. Menurut mereka, meski suatu produk/ jasa dapat diterima, ada keunikan halus yang kadang tidak mudah dipahami. Misalnya, orang China mengasosiasikan warna merah sebagai keberuntungan. Warna hijau adalah warna special bagi orang Islam. Beberapa hotel di Amerika atau Inggris tidak memiliki ruang atau lantai bernomor 13. Tidak semua orang memahami perbedaan tersebut.

Robert Guang Tian, Ph. D, ahli komunikasi pemasaran, mengingatkan "Sangat penting bagi para pemasar tahu bahwa tidak ada ruang untuk etnosentrisme dalam praktik pemasaran abad 21."

Upaya agresif yang ditebarkan korporasi belum tentu direspon seperti harapan. Faktor budaya ditengarai berpengaruh paling luas dan dalam, pada perilaku konsumen. Mengapa budaya penting? Menurut Hofstede (2003), karena budaya adalah ”Software of the mind”. Budaya merupakan kumpulan nilai, persepsi, dan perilaku yang dipelajari oleh anggota masyarakat. Budaya sangat alami, tidak disadari dan sering diterima begitu saja. Praktisi juga perlu menyadari potensi dirinya terbelenggu oleh kepastian budaya yang dianutnya, sehingga dalam membuat keputusan, tidak sensitif lagi terhadap perbedaan.

Masih ingat bagaimana produk donat dihadirkan di Indonesia? Semula, ukurannya sebesar. Bagi orang Amerika donat adalah menu sarapan, bagi kita, donat adalah snack, tambahan nasi. Kini banyak kita temukan donat mini. Kesalahan Ford ketika memperkenalkan merek ‘Pinto’ di Brazil tercermin pada buruknya angka penjualan. Ford akhirnya menyadari bahwa orang Brazil tidak ingin menaiki mobil yang namanya berarti “alat kelamin yang kecil pada pria”.

Untuk iklan, standarisasinya sulit dilakukan (Stephan Hall, 2004). Riset Hall menyimpulkan, konsumen dari negara kolektifis cenderung lebih suka meniru dan kurang inovatif dalam pembelian dibandingkan dengan budaya individualistik. Pernyataan ”be your self” dan “stand out”, bisa jadi lebih efektif dinegara individualis daripada kolektifis.

Kekuatan hukum tidak selalu menang ketika berhadapan dengan budaya. Hal itu dapat kita saksikan pada kasus Koja antara PT. Pelindo dengan ahli waris Mbah Priuk. Kasus Drydock pada April 2010 juga memberi pelajaran pada kita mengenai pentingnya memahami budaya dalam mengembangkan hubungan internal dalam korporasi. Adanya kasta di India diprediksi berkonstribusi pada pola komunikasi diantara mereka.

Negara dengan penghindaran ketidakpastiannya tinggi, cenderung bereaksi segera menghentikan atau melarang suatu produk bila ada kesalahan atau kerusakan. Bahkan bila hal itu tidak terjadi dinegaranya. Negara dengan budaya penghindaran ketidakpastian rendah, cenderung baru bereaksi bila keadaan kian buruk.

Ada perbedaan antara surat penawaran produk yang dikirim oleh orang Kanada dan Amerika. Orang Amerika cenderung membangun kredibilitas dengan menyampaikan secara signifikan kelebihan produknya, sementara orang Kanada tidak terlalu mengunggulkan diri. Orang Kanada cenderung curiga bila diiming-imingi hadiah jika merespon direct mail. Menurut mereka, berarti produk/jasanya tidak layak beli. Orang Amerika bereaksi biasa saja (Graves, 1997).

Pada negara Arab, hubungan personal yang dilandasi kepercayaan cenderung lebih berhasil daripada penjelasan sistematis yang formal. Sementara bagi orang Amerika, spesifikasi lebih dipercaya daripada bujukan pribadi.

Konsumen Perancis lebih suka kupon dan twin pack promotion daripada konsumen Inggris. Konsumen Inggris lebih merespon bila ada “x percent extra free”. Orang Hispanik curiga pada ’Garansi Uang Kembali”. Menurut mereka, pasti ada apa-apanya dengan barang tersebut

Kesimpulan
Dunia penuh keragaman budaya. Korporasi sebaiknya mempertimbangkan kondisi budaya lokal meskipun pada merek global. Penyeragaman pendekatan strategi komunikasi pemasaran (iklan, direct marketing, personal selling, PR dan promosi penjualan) tidak sepenuhnya tepat dan menimbulkan kerugian. Meski demikian, standarisasi pada tingkat tertentu dapat dilakukan sebagai dasar keputusan. Penggunaan jasa lokal dapat pula sebagai solusi dalam memahami perilaku konsumen.



Kebebasan yang Tak Bebas (Puisi)



 


oleh: Leila Mona Ganiem



Asa itu ada...
Tersedia dan bisa diraih, menari dengan lincah, betebaran dengan indah.

 


Tapi fisik tak seirama dengan nurani
Keliaran pikiran tak senada dengan kebebasan hati
Langkahkupun tercekat...


Energiku menggelora dalam kefrustasian
Menebar kekecewaan mendalam
Yang luntur perlahan terbawa udara dingin malam.


 



Renungku dalam frustasi yang sesungguhnya kunikmati
sayup-sayup sapa ramah menyalami dengan bangga pilihan berdamai dengan kefrustasian ini


Sejujurnya ingin kunikmati kerakusanku

Sebuah kata yang aku benci memilihnya.
Namun kuperdengarkan juga ... untuk membangunkan telingaku sendiri

Betapa aku terkadang tak berdaya dengan kebodohan ini
Rabbi, mohon penjagaan Mu, SELALU.