Sunday, May 08, 2011

Cerdas dan Humanis (Komunikasi Pendidikan Karakter)

 


CERDAS DAN HUMANIS

Leila Mona Ganiem
Republika, 23 Januari 2010

  
Sebuah tulisan berjudul 
“Pendidikan Budaya dan Karakter Menurun” (Republika, 18 Januari 2010), 
mengusik perasaan saya. 

Nilai-nilai budaya seperti tatakrama, etika, kreatifitas, keteguhan hati, 
tangguh, pantang menyerah, bangga terhadap budaya sendiri, berjuang dan berprestasi dengan optimal, 
serta nilai-nilai luhur lainnya, kian langka kita temukan. 

Urgensi yang muncul dari realitas ini adalah 
kebutuhan akan Pribadi Manusia Indonesia yang berbudaya dan berkarakter tangguh.

Sebagai acuan dasar, kita dapat gunakan konsep Brain. Behaviour. Beauty (3B)
Konsep 3B kerap dipakai sebagai tolok ukur kepribadian yang baik 
diranah profesional maupun sosial. 
 Kontes pemilihan Puteri/Jejaka juga biasa mengukur dari indikator ini.

 

leilamona.blogspot.com

Mari kita elaborasi tiga kekuatan tadi.

Brain, Behavior and Beauty
Brain, atau pikiran merefleksikan pengetahuan yang diperlukan dalam hidup. 
Brain juga berkaitan dengan pilihan keahlian yang didalami.
Keahlian tersebut, membawa seseorang pada perannya saat ini.

Penggalian keahlian yang mumpuni mendukung peran signifikan seseorang.
Brain, lebih bermakna andai tidak single, melainkan multi bidang.
Misalnya, seorang guru profesional perlu memiliki pengetahuan sub bidang materi ajarnya,
penyampaian materi ajar; psikologi anak; strategi memotivasi
agar anak berminat mengelaborasi kreatif potensinya; bahasa Inggris; menulis;
tahu teknologi informasi; etika, dan masih banyak lagi.


 


Analogi yang kira-kira sama, dapat digunakan bagi pekerjaan lain
Jurnalis, dokter, petani, pedagang, direktur perusahaan dan berbagai peran lainnya.


Behavior, atau perilaku.

Dalam kehidupan, keahlian atau pengetahuan saja tidak cukup.
Perlu perilaku yang oleh David Goleman, disebut kecerdasan emosional.
Menurutnya, ada empat kompetensi penting yang selayaknya digunakan seseorang.

 


Pertama, mampu membaca emosi diri dan dampaknya terhadap orang lain.
Kedua, mampu mengontrol emosi serta beradaptasi pada perubahan lingkungan.


Ketiga, mampu memahami emosi orang lain, dan dampaknya terhadap organisasi.

Keempat, mampu menginspirasi, mempengaruhi, mengembangkan orang lain,
serta mengatasi konflik.


Refleksi dari kecerdasan emosional tercermin dari sikap yang diambilnya. 

Mampukah seorang pejabat yang telah bersusah payah dan penuh biaya dalam memperoleh posisi, 
menolak tawaran uang yang dihaturkan dengan sangat sopan dan tampak bebas resiko? 

Apakah seseorang memiliki kekuatan menahan diri dari narkoba yang ada ditangannya? 
Apakah seorang siswa bisa menahan diri dari menyontek yang saat itu bisa dilakukannya? 


 
 


Kesanggupan memenangkan nilai-nilai luhur merefleksikan kecerdasan emosional seseorang.


Konsep ketiga, Beauty,  atau kemenarikan personal.

Tanpa menafikan kodrat, penerimaan diri adalah refleksi damai diri atas berkah Ilahi.

Optimalisasi potensi diri secara personal dapat meningkatkan kualitas interaksi.

Kemenarikan personal dapat digali dengan berbagai cara.
Misalnya dengan penggunaan ekspresi wajah, gerak tubuh - cara duduk, berjalan, bersalaman-,
pengaturan jarak, penggunaan suara yang tepat,
serta kemenarikan fisik seperti kebersihan tubuh dan penampilan sesuai konteks.





                                           
                  


Ketiga konsep tersebut menarik, namun realitasnya, 
sistem pendidikan formal di Indonesia cenderung kurang mewadahi ketiga konsep itu
secara komprehensif.

Pendidikan formal, cenderung membahas brain dan sedikit behavior.
Sementara di pendidikan informal semacam training pengembangan pribadi, lebih menekankan beauty dan sedikit bahasan behavior. 

Mengacu pada tingginya kebutuhan merekonstruksi kurikulum
yang menjembatani terciptanya manusia Indonesia yang mengerti budayanya
dan memiliki karakter tangguh,
melalui tulisan ini, saya bermaksud mengajukan dua konsep tambahan.


 Berkarakter Tangguh Melalui Budaya
 
Indonesia merupakan negara multikultur, 
 

memiliki ratusan etnis, ratusan bahasa, ribuan pulau, ratusan bahasa, seni, tatakrama,
dan aneka keragaman lainnya.

Namun apakah kita dan anak-anak kita memahami,
menguasai dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur bangsa dalam pola pikir, tindakan dan perilaku?

Masihkah nilai-nilai luhur seperti kerja sama, menghargai orang lain,
sopan santun, pantang menyerah, keuletan, menghormati orang tua,
digunakan dalam keseharian perilaku?

Apakah kita lebih tahu disko daripada tarian daerah?

 


Apakah kita tidak lagi menggunakan bahasa daerah karena menganggap kurang bermanfaat?
Sekali lagi, pemahaman dan pengaplikasian budaya dan nilai-nilai luhur bangsa
adalah imperatif. 

Hal itu juga perlu menjadi gerakan bersama.
Tanpa mempersenjatai diri dengan pemahaman budaya dan nilai-nilai luhur bangsa,
kita akan sangat sulit untuk mempertahankan warna budaya sendiri
di tengah derasnya bombardir informasi dan budaya asing.

 



Menjadi Manusia Antarbudaya

Dengan pemahaman dan penguasaan budaya dan nilai-nilai luhur bangsa, 
kita harapkan adanya manusia Indonesia yang berkarakter tangguh. 
Namun tidak cukup, karena Indonesia adalah negara dengan pluralitas sangat tinggi. 
Selain itu kita adalah warga dunia yang hidup di desa global (Mc. Luhan). 
Di dunia ini, terdapat ratusan negara, lima ribuan etnis, 6900 bahasa,
 ribuan agama dan kepercayaan, berbagai cara bersalaman, 
kekerabatan, pemilihan pendekatan bisnis dan masih banyak keberagaman lainnya. 
Dengan demikian, mampu berkomunikasi dengan orang berbeda budaya, 
beda etnis, beda bangsa menjadi kian penting.



Kemajuan teknologi informasi, alat transportasi, bisnis, 
kerjasama militer, peluang pendidikan, kerjasama media massa, 
atau perjalanan wisata, membuat keterbukaan akses kian sempurna. 
Peluang dan tantangan yang ada, membuat kita sebaiknya dapat menangkap kesempatan itu.
Disamping itu mampu berkomunikasi dengan mereka yang berbeda.
Karena itu perlunya kita Menjadi Manusia Antarbudaya. 
Manusia antarbudaya adalah manusia yang humanis 
yang memiliki kemampuan berkomunikasi efektif dengan 
orang berbeda budaya, beda etnis dan beda bangsa.



Sebagai perbandingan, sejak tahun 50an, 
Amerika telah menyadari pentingnya kemampuan berkomunikasi antarbudaya. 
Tahun 60-70an, pemerintah USA melakukan restrukturisasi 
terhadap pemahaman konsep-konsep komunikasi antarbudaya pada pegawai pemerintahnya. 
Pegawai departemen luar negeri yang akan ditempatkan wajib menguasai budaya bahkan fasih berbahasa negara tujuan.
Pelaku bisnis, makin rajin mendalami budaya lokal untuk meraih simpati. Riset-riset komunikasi antarbudaya juga berkembang pesat disana.


Melalui tulisan ini, saya ingin mendukung upaya kolektif pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan cita-cita menjadikan diri kita dan anak-anak kita sebagai warga negara Indonesia yang memiliki kepribadian yang baik, berbudaya, berkarakter kokoh serta menjadi manusia antarbudaya. 

Dengan demikian, kita dapat memiliki harapan kedepan, adanya Indonesia yang maju, sejahtera, berprestasi, berkarya unggul dan bermanfaat.

Semoga kita semua memiliki kepedulian yang sama.


 

No comments: