Sunday, May 08, 2011

KDRT di Rumahku



KDRT  di Rumahku





oleh Leila Mona Ganiem

Rafi, anak keduaku (6,5 th) mengomel karena Adam (9,5 th), sang kakak mengolok-olok terus.
Uang lima ribuan yang tidak seberapa itu, menjadi pemicu kekerasan verbal yang terjadi.
Dari dua lembar lima ribuan yang ada, satu masih licin, satu lagi agak lecek.

Adam memilih lebih dahulu, adiknya terpaksa menerima versi lecek.


Adam membanggakan diri dengan mengatakan bahwa uangnya langsung berasal dari Bank Indonesia. 


Rafi menghampiriku sambil menggerundel seperti lalat.
Dia minta uangnya diganti dengan yang licin.
Aku diam saja.
Tanpa ekspresi.
Aku memilih tidak mau terjebak oleh manipulasi kata sang kakak.

Aku memang kerap memilih bereaksi diam atau mengangguk-angguk
dalam berbagai urusan konflik sibling ini

                                                       
.


Untuk update beruntun yang silih berganti dari dua pangeranku,
aku cenderung memilih bersikap seperti itu.

Kadang Aku katakan, ”Bang (atau Dek), jangan gitu...” dengan nada datar tanpa emosi.
Sesekali salah satu dari mereka komplain karena merasa tidak menikmati keberpihakan.

Suamiku menterjemahkan emosi tersebut seperti ini,
”Bunda mau ngomong kalo ’Bunda mengerti’, bukan setuju atau ngak setuju”.

Beberapa menit kemudian terdengar tangisan Adam,
”Adam ngak ngapa-ngapain, ditendang Dede (Rafi).”

 



Rafi menyahut,
”Abisnya Abang nyebelin Dede terus, ngata-ngatain Dede uangnya jelek, ngak laku...”
katanya membela diri...

Adam berkelit bernada tinggi, ”Lu juga bales ngata-ngatain dong... jangan pake pukul pukuuul!”
”Dede, kan ngak bisa bales omongan... susah...!” kata Rafi menggerutu...

Aku terpingkal dalam hati.
The real monopoly is never that of technical means, but of speech,
begitu kata Jean Baudrillard. Bahasa memang media dominasi dan kekuasaan (Habermas, 1967).


 


Bahasa memang mampu menyakiti atau memuliakan orang.
Ketidaktepatan penggunaan bahasa mampu memicu konflik.
Setiap kata mengandung makna dan makna itu terbentuk
berdasarkan persepsi dan interpretasi orang yang terlibat dalam proses komunikasi.


 

Bahasa merupakan bagian penting dari kehidupan.
Orang tidak bisa hidup tanpa bahasa.
Setiap gerak kehidupan manusia berkaitan dengan bahasa.

Kemahiran berbahasa bersifat dinamis dan berkembang.
Menurut Piaget (1976), ada perkembangan nalar kognitif tertentu diusia 0-12 tahun dengan empat tahap yang berbeda.

Cara interpretasi informasi juga berkembang sesuai usia.
Batas bahasaku adalah batas duniaku (Wittgenstein, 1992).
Untuk melakukan kegiatan berfikir dengan baik, peranan bahasa adalah signifikan.


 


Bahasa memberikan urunan besar dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa.
Suatu tata bahasa yang dirangkai dapat mengemukakan buah pikiran, perasaan dan sikap.
Max Muller mengatakan bahwa tak ada bahasa tanpa nalar, dan tak ada nalar tanpa bahasa..


 


Bahasa mempengaruhi pikiran pemakainya.
Bahasa mempunyai kekuatan membentuk pikiran, menyalurkan perasaan, mengerahkan kehendak dan perbuatan.
Sampai tingkat tertentu, bahasa mengendalikan pemikiran.
Dan pengaruh bahasa sangat kuat pada usia muda.






Kemampuan memilih kata yang teratur dan sistematis membutuhkan asahan dan asupan yang mumpuni. Karenanya jelas saja perbendaharaan dan pilihan kata anak kelas 2 dan 5 SD, berbeda.

Memang benar, kemampuan verbal dapat menjadi ’Dominasi Penuh Muslihat’,
 demikian kata Haryatmoko (2010).

Kekerasan simbolik yang sampaikan Adam melalui kata-kata terbukti dibalas
dengan kekerasan fisik oleh Rafi.

Meski masih dalam tataran yang dapat dimaklumi bahkan menggelikan, pada kasus pangeranku.
Sebuah contoh real yang menarik untuk dikaji.





Segera kususun strategi sebagai perilaku tandingan.
Saat sahur, aku urai pentingnya memilih kata yang baik.
Kami berempat, aku, suami dan dua anakku, saling mengatakan hal baik satu sama lain.

Giliran Adam tiba. Pilihan katanya sangat lancar ketika ditujukan padaku dan ayahnya.
Namun sewaktu mengurai hal positif tentang Rafi, mulai ada yang tersekat ditenggorokan.

”Dede (Rafi) itu....apa ya.....Adam bingung... oh ya, pinter”, kata Adam butuh waktu.
”He eh... Terus apa lagi,” kataku.
"Dede bisa gambar, .....tapi bagusan Adam," katanya.
"Ngak ada tapi.... tapinya ilang.... terus apa lagi...," ujar sang Ayah. Aku mengangguk.
”Apa ya..........pinter lipet sajadah......” jawab Adam....
Masih saja butuh waktu...



Ramadhan hari ke 20
1 September 2010


1 comment:

Naimah said...

nice posting, bu. bahasa menunjukan siapa "kita" sebenarnya. bahasa adalah konstruksi makna komunitas/masyarakat terhadap sesuatu. inspiring :)