Sunday, May 08, 2011

Mengapa Pilih Bicara atau Diam? (Analisa High and Low Context Culture)


 
Dari Buku BEDA itu BERKA, 2010

Oleh: Dr. Leila Mona Ganiem


“Suatu hari, Mary, ibu mertuaku, meminta waktu untuk berbicara dari hati ke hati.
Sudah sebulan hubungan kami agak beku.
Dengan kesungguhan, Mary menyatakan bahwa Christ, suamiku, adalah ‘pangerannya’.



 https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQEdx_4f12ZH2xGPu1hQbP6B3SuRt8grpSwZF2Xz0EZr50yh5ZD

 Christ begitu penting bagi Mary.
Mengandung, membesarkan, membiayai, mendoakan, memimpikan setiap hari,
itulah yang ada dibenak Mary tentang Christ.

Kini aku datang, sebagai menantunya.
Dan Christ tampak sangat mencintaiku.

 
 https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTnMkJng47K53Dp9sAqsLasajdnZH5_R7bVnx_t8a4oBg5ltVacvQ

Sungguh berat bagi Mary menerima realitas ini.
Betapa Mary khawatir dia akan dilupakan buah hatinya.
Dinomorduakan.
Atau bahkan tidak didengar pendapatnya. karena ada aku!


Sekarang aku diam dan paham.
Mengapa Mary begitu ’menjengkelkan’ selama ini” begitu penuturan Ratih.


https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTAVCFjWm2CQ8uc0MtX2F1Y--yafor26zkHaCk1T8CA5K_sUajM

Melalui tulisan ini, saya tidak hendak mengajak anda memasuki romantika pengalaman Ratih maupun Mary.
Namun saya ingin mengajak kita menganalisa mengenai keberanian Mary, sang mertua,
dalam menyampaikan pendapatnya, dilihat dari konteks budaya.



Mungkin kita kerap merasakan kesal, ketika orang menunjukkan kesan kurang respek,
menghindar, cemberut, membicarakan dibelakang atau sejenisnya.

Rina, teman saya bilang,
”orang Jawa itu gitu, kalo ngak suka, ngak langsung bilang. Aku sebel banget deh.”


https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQPvSzTcH3708BjdZBOO3EUcObZWhLEK6nzpYC0iu0h0qQ6AOKmzQ
Saya dengarkan celotehnya dengan empati.
Diam-diam ada rasa ingin mengajak dia membahas hal yang dia ‘jengkelkan’ dari kajian budaya.
Dengan geli, saya urungkan niat bahas teori itu.
Khawatir dia marah, diajak berfikir toleran,  sementara hatinya tengah kesal.


Melalui tulisan ini, marilah kita ’have fun’ dengan keberagaman manusia.
Memahaminya alasan pilihan individu dan tidak menjadi polisi atas garis batas standar
yang kita yakini lebih baik.


    VS


Seorang Edward T Hall (1976) dalam risetnya menyimpulkan
bahwa ada komunitas yang cenderung menyampaikan pesan atau gagasannya
dalam bentuk kata-kata langsung.
Komunitas ini disebut berbudaya konteks rendah. 

Sebaliknya, ada komunitas yang cenderung menggunakan isyarat atau nonverbal,
dibandingkan ungkapan kata-kata dalam menyampaikan pesannya.
Kelompok ini disebut berbudaya konteks tinggi.
Pilihan penyampaian pesan konteks tinggi dan rendah memiliki latar belakang ’baiknya’.

 



Pada budaya kolektifis, dimana kekerabatan dianggap baik,
akan dihindari penyampaian pesan yang menyinggung perasaan seseorang.
Kata-kata langsung pada seseorang, mungkin akan menyisakan rasa tidak nyaman pada kakek, bibi, adik, dan saudara sepupunya.

Karenanya mereka cenderung tidak bicara langsung, atau memilih diam.

Pada budaya individualis, gaya bicara berkonteks rendah
cenderung diterima dan dihargai.
Masing-masing bertanggung jawab pada diri sendiri.
Pembahasan antara dua orang cenderung tidak beresiko panjang pada perasaan kerabat lainnya.

Jadi pilihan penggunaan bahasa, 
sesungguhnya merupakan upaya tanggung jawab dan proses analisa bijaksana
dari seseorang yang terekam terus menerus, dan menjadi pola.


http://ikalwewe.files.wordpress.com/2013/10/collectivism.jpg


Orang Indonesia dan China, cenderung menggunakan budaya berkonteks tinggi.
Kata-kata umumnya tak terpisahkan dengan etika dan hubungan sosial.

Untuk memahami suatu pernyataan, orang perlu mengerti arti dibalik itu, bahkan sejarahnya.
Percakapan biasanya ditujukan untuk menjaga keharmonisan dan kesatuan.
Daripada sekedar memuaskan kebutuhan pembicara.


Orang berbudaya konteks tinggi, biasanya ada pada masyarakat kolektifis.
Mereka cenderung kurang banyak berargumen.
Bila ada jawaban yang membuat orang senang, mereka menyampaikannya.
Bila tidak menyenangkan, mereka memilih untuk tidak mengatakannya.



http://i1.ytimg.com/vi/UX2542Y_mlo/0.jpg


Masih ingat stereotype tentang orang Jepang yang menghindari kata ”tidak” ?
Tujuannya mulia, yaitu ’to safe face’ orang tersebut.
Jadi mungkin sekali bahasa terasa ambiguitas atau bias.

Budaya berkonteks tinggi, juga akrab dengan ”diam”.
Masih ingat bagaimana ’diam atau senyum’ Presiden Soeharto yang kerap dimaknai beragam.
Hanya ’orang dalam’ yang dapat memahami artinya.

 
http://i409.photobucket.com/albums/pp176/bayu1969/Photo304.jpg

Orang Amerika Selatan dan Eropa (Perancis, Jerman, Inggris)
cenderung berbudaya konteks rendah.
Mereka biasa berbicara secara langsung, singkat dan elaboratif.
Bagi orang berbudaya konteks rendah, fungsi utama bahasa adalah untuk mengekspresikan gagasan dan pemikiran secara jelas,  logis dan sepersuasif mungkin.

Pendengar dan pembicara adalah entitas yang berbeda.
Pembicara menunjukkan individualitasnya untuk mempengaruhi yang lain.
Sedemikian rupa kata-kata dibuat jelas, dan menghindari adanya bias.

Pada kelompok berbudaya konteks rendah, diam, cenderung dihindari.
Pembicara yang baik dan kompeten,
diharapkan mengatakan apa yang mereka maksudkan dan bersungguh-sungguh.
Bila tidak, orang tersebut dianggap tidak jujur atau tidak dapat dipercaya.



http://americanepali.files.wordpress.com/2010/08/eastwest1.jpg


Bukti hubungan antara individualis dan kolektifis dengan budaya berkonteks tinggi dan rendah, dapat dilihat pada penggunaan kata ”kami”, ”kita” atau ”saya”.
Orang individualis memilih kata ’saya’, karena tidak merasa mewakili pemikiran orang lain.
Randy, teman saya, menggerutu tentang penggunaan kata ’kami’ untuk menjelaskan ’saya’ dari orang Indonesia.

Dengan logis, dia menghubungkan argumennya pada kajian EYD yang baik dan benar.
Memang betul analisa bahasanya.
Tapi orang kolektifis, menyebut ’kami’ atau ’kita’ saat bicara,
bukan karena tidak paham beda terminologi ’saya’ dan ’kami’.




 http://todaysweather.files.wordpress.com/2013/02/00-respect.jpg


Mereka memilih ’kami’
karena menurutnya, pihak lain layak disertakan dalam tanggung jawab sosialnya.
Rasa itu sangat kuat, hingga kadang penggunaannya rancu,
bahkan terbawa hingga pernyataan yang seharusnya mewakili pikirannya sendiri.


Memang tidak selalu
orang Indonesia memilih kata ’kita’ atau ’kami’ dalam ungkapannya.
Pada komunitas yang akrab dengan suasana birokrasi, bapakisme,
seperti institusi pemerintahan, atau kelompok tradisional,
mereka lebih rajin memanfaatkan kata ’kami’ atau ’kita’ ketimbang  pegawai perusahaan multinasional.

Padahal sama-sama orang Indonesia.

Mereka yang hidup atau terespos dengan budaya konteks rendah,
bisa jadi banyak menggunakan pilihan kata langsung dan implisit.


Salah satu alasan yang disebut-sebut menjadi pemicu
adanya kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia dan mungkin
dinegara-negara lain yang berbudaya serupa,
adalah karena adanya budaya berkonteks tinggi.

Orang yang tidak mampu menyatakan perasaannya secara verbal, membuat dirinya frustasi dan menyalurkannya melalui kekerasan.
Baik suami pada isteri atau anak, atau sebaliknya.

Tampaknya disini budaya berkonteks rendah lebih sempurna.
Namun bila kita nyaman dengan kehidupan kolektifis,
resiko sosial akan suatu pernyataan yang eksplisit bisa jadi lebih tinggi.







Apakah seseorang bergaya formal atau tidak formal dalam berbicara, juga bervariasi antarbudaya.
Hal ini juga memungkinkan timbulnya kesalahpahaman.

Di Jawa dan Sunda, kita tahu bahwa pemilihan kata dilatarbelakangi oleh
status sosial berbeda, tingkat keintiman berbeda termasuk pada acara sosial yang berbeda.

Orang Amerika mungkin akan melihat orang Jawa adalah orang yang kaku dan aneh.
Sementara orang Jawa bisa jadi melihat orang Amerika, kasar, tidak tahu adat atau tidak sopan.



Sebagai penutup 
saya ingin berbagi pengalaman tentang seorang teman, Ria namanya.
Suami Ria, John, suatu ketika mengangkat kaki ketika bersantai menonton televisi bersama keluarga.
Meski posisi duduk John jauh dibelakang.

Kelihatannya secara etika tidak mengganggu siapapun,
namun Ria yang dibesarkan dalam tatakrama Jawa menak, merasa jengah kalau-kalau ayah-ibunya tersinggung.


 


Malamnya Ria diam.
John merasa ada sesuatu yang salah. Ria berkata ’tidak ada apa-apa’.
Meski demikian, John masih yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Ria menjelaskan pada saya bahwa dia memilih untuk diam karena menjaga perasaan suaminya.
Ria khawatir John malu bila tahu dia ’bersalah’ karena tidak sopan pada orang tuanya.




Saya tidak tahu bagian mana yang dapat dikategorikan lebih sempurna. 
Bagi saya, semuanya bervisi indah. 
Namun bila berkenan saya bersaran, 
bagaimana bila kita melepaskan kotak kepastian dikepala kita, 
dan melihat konteks dimana kita berada. 
Dengan bijaksana memilih kata (verbal) dan non kata (nonverbal) yang tepat. 
Sesuai keadaan.
 Memang rasanya pilihan kita seharusnya jelas, yaitu menjadi manusia antarbudaya.

No comments: