Sunday, May 08, 2011

'Terinspirasi Sahabat',



 



Oleh: Leila Mona Ganiem
Republika, 5 Nov 2010

Berkah itu Bernama Haji.
Tahun 1993 saya terkesima mendengar Ita, seorang sahabat,
 menunaikan ibadah haji, menggantikan ibunya yang sakit.
Kabar itu sangat bermakna.
Ada doa mendalam, saya hantarkan setelahnya.

 

Sambil menangis saya berdoa,
”Ya Allah, saya juga ingin diundang ya Rabbi, dengan cara-Mu...”.

Secara matematis, saya sama sekali belum dapat membayangkan bagaimana memperoleh
aliran dana untuk perjalanan mulia itu.

Tahun 1993 saya bertugas di KBRI Islamabad.
Seorang sahabat memberi kenang-kenangan buku berjudul ‘Haji’ dari Ali Shariati.
Buku itu masih dalam plastik.
Saya berfikir, suatu saat akan meluangkan waktu membacanya.


 Ketika itu, gaji dólar, belum menikah.
Toko disana tidak berserakan, sehingga situasinya tidak mendukung menjadi konsumeris.
 Teman-teman bilang, “disini, uangnya ada, yang mau dibeli, ngak ada!
Udah, kumpulin duit tiga-empat bulan, kamu bisa berangkat haji!”
 

Sungguh, pernyataan itu menginspirasi.
Dalam suatu diskusi dengan mahasiswa Indonesia yang belajar agama disana,
saya mencari tahu apakah untuk berhaji kita harus sudah menguasai
dan melaksanakan ajaran dengan benar?

Rasanya itu kecemasan banyak orang.
Yang jika belum teryakinkan, membuat dirinya mengabaikan peluang yang tersedia.
Jawaban mereka membulatkan tekad saya, bahwa ketetapan terpenting adalah ’Niat’.

“Salah satu resep ampuh untuk diundang ke Haji,
adalah memandangi terus gambar Ka’bah atau Multazam, sambil terus berdoa, Insya Allah terkabul”
saran seorang teman.


 


Saya lakukan dengan khusyu, setiap hari.
Alhamdulillah, tahun 1994, saya berangkat.
Gambar itu, hingga kini, selalu saya bawa kemanapun saya pindah.

Karena khawatir perjalanan itu hanyalah ilusi, tak seorangpun dari keluarga di Indonesia saya beri tahu.
Sehari sebelum keberangkatan, saya berkabar pada orang tua,
sambil mohon doa restu. Mereka menitikkan airmata. Haru.

Seluruh perjalanan itu luar biasa.
Gejolak batin yang melimpah.
Doa, air mata, harap, pasrah, malu, takut, semua ruah...

Pastinya, pertama kali menatap Ka’bah, airmata tak terbendung.
Syukur dan takjub tak habis-habisnya menikmati berkah sangat penting ini.
Tahun itu ada peristiwa Mina.


 


Dirombongan kami ada Dubes RI untuk Afghanistan,
sehingga, meski alat komunikasi belum secanggih sekarang,
kabar mengenai berbagai kejadian, cukup update.

Salah satu anggota rombongan, menceritakan keindahan buku-buku
yang dia baca untuk memaknai berbagai scene perjalanan itu.
Saya senantiasa mengagumi paparannya yang menikmati haji dengan keluasan pemikiran.

Salah satu buku yang dia sebut berjudul ’Haji’ dari Ali Shariati!
Ketika pulang, dalam dua minggu, getaran pesona Ka’bah...
harumnya, teduhnya, dinginnya, megahnya, tenangnya.... semua masih sangat kuat terasa.

Sungguh saya berada dalam situasi liminal,
situasi antara berada dalam suasana berhaji dengan segala ritualnya,
dan berada kembali kerutinitas kantor.

 

Kadang reaksi fisikpun masih aktif dengan skedul ketat ibadah di tanah suci.
Segera saya baca buku yang masih terbungkus plastik itu.

Beberapa pemikiran Ali saya sepakati.
Sebuah syair yang hingga kini selalu menginspirasi adalah kutipan dari penyair Parsi,  Naser Khosrow.
Syair itu menjadi bacaan indah untuk meluruskan hati saya
sebelum berkunjung ke Makkah pada kesempatan berikutnya.

Dalam epilog itu, Naser menggambarkan kunjungannya pada seseorang yang telah berhaji.
Banyak orang datang untuk bertanya kepadanya,
bagaimanakah ia menempuh perjalanan yang sangat sulit dan menakutkan itu
(sebagai catatan Khosrow lahir tahun 1004-1088, ketika itu perjalanan menggunakan jalan darat).

Berikut saya uraikan beberapa cuplikan dibawah ini.

Kepadanya aku bertanya:
Setelah melepas pakaian dan hendak mengenakan ihram,
Di saat-saat hati menggelora itu, apakah ”niat”mu?

Telah engkau tinggalkankah segala sesuatu yang harus engkau tinggalkan? ...
Tetapi jawabnya: Tidak!


 

Kepadanya aku bertanya:
Ketika masuk ke dalam Ka’bah...
Tidakkah dibuangnya sikap mementingkan diri sendiri? ...
Tetapi jawabnya: Tidak!


Kepadanya aku bertanya:
Ketika berkorban, untuk makanan orang-orang yang lapar dan anak-anak yatim, bukan Allah-kah yang pertama kali dipikirkannya? Dan setelah itu tidakkah ia membunuh ketamakan di dalam dirinya?
Tetapi jawabnya: Tidak.

 

Kepadanya aku bertanya:
Kini, setelah kembali ke Mekkah, dan rindu kepada Ka’bah,
Tidakkah ’akunya’ terkubur disana?
Tetapi jawabnya: Tidak
...

”Semua yang engkau pertanyakan ini, tidak satupun yang kumengerti!”
Maka kepadanya aku berkata:

Wahai Sahabat! Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji! 
Sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah.
Memang engkau telah pergi ke Mekkah untuk mengunjungi Ka’bah!
Memang engkau telah menghamburkan uang untuk membeli kekerasan padang pasir!
Jika engkau berniat hendak melakukan ibadah haji sekali lagi,
Berbuatlah seperti yang telah kuajarkan ini!.


No comments: