Tuesday, April 15, 2014

Kartini Simbol Keberdayan Perempuan



 

Oleh: Leila Mona Ganiem
Republika, 23 April 2010


Kebaya, sanggul, selop, baju daerah, identik dengan peringatan hari Kartini. 
Layakkah sebuah inspirasi besar perjuangan perempuan dimaknai sekedar kosmetik?

 


Kartini bukan hanya ibu, guru, dan isteri.
Dia adalah simbol keberdayaan perempuan yang berjuang dengan cerdas melalui pendekatan keperempuanannya. 
Untuk itu, hari Kartini akan lebih bermakna jika dipahami lebih luas.

Dimasa remajanya, pergaulan dengan kaum terpelajar. 
Bacaan yang bertema kemajuan perempuan, membuka kesadaran Kartini. 
Buku yang mengupas tentang perempuan Eropa menampakkan perbedaan dramatis jika disandingkan dengan keadaan perempuan Jawa ketika itu. 


 


Semua itu tidak dapat dilepaskan dengan konteks kolonial yang memiliki kepentingan pelestarian feodalisme dengan membagi manusia berdasarkan kelas. 

Ketidakadilan yang ‘terang’, menciptakan gegar budaya di benak Kartini. 
Didukung oleh korespondensi intens dengan orang Belanda, 
Kartini seolah mendapat ruang untuk menyampaikan uneg-unegnya.

Dalam beberapa suratnya, Kartini menyatakan 
bahwa perempuan perlu menerima pendidikan setara dengan laki-laki. 
Kemewahan menjadi terdidik tidak layak dimiliki kaum pria saja, 
terutama karena ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. 


 


“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, 
bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu 
menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. 
Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, 
agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya 
yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, 
pendidik manusia yang pertama-tama” 
(Surat Kartini pada Prof. Anton dan nyonya, 4 Oktober 1901)
 


Kartini adalah sastrawan. 
Kekayaan bacaan, membuat tulisannya kritis, mengalir lincah dengan bernas. 
Goresan pena Kartini tercermin pada karya yang dibukukan oleh orang Belanda.
Judulnya ‘Door Duisternis tot Licht, Gedachten van RA Kartini’. 
Buku itu selanjutnya diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”

 


Permasalahan yang diungkap Kartini lebih dari seratus tahun lalu, 
seperti terbatasnya pendidikan bagi perempuan, perkawinan dibawah umur, KDRT, kawin paksa, 
hingga kisah hidupnya sebagai isteri ketiga dan meninggal pasca melahirkan, 
adalah urusan keperempuanan yang masih aktual hingga kini.  


 

Kartini memilih bersuara.
Tidak seperti kebanyakan perempuan saat itu yang diam dan menurut, 
karena memandang diri sebagai minoritas dalam konstestasi peran gender, 
meski notabene secara statistik jumlahnya kurang lebih setara dengan laki-laki.


Seseorang memilih diam karena khawatir diasingkan 
ketika pandangannya berbeda dengan mayoritas.. 

 

Kecemasan akan diasingkan membuat orang menerima pendapat yang beredar, 
yaitu perspektif pria dengan segala hegemoni dan paket fasilitasnya. 
Hingga kini, masih kita temukan, perempuan, terutama yang berpendidikan rendah, 
tidak berani mengekspresikan pendapatnya secara terbuka. 

Perempuan, adalah contoh sempurna feodalisme yang dilestarikan. 
Sepakat dengan Kartini, pendidikan adalah sarana paling cerdas sebagai pengungkit yang elegan.
 

 Tak dapat disangkal, perjuangan perempuan adalah cerita panjang tarik ulur belenggu jender. 
Apa jadinya jika inspirasi Kartini itu tidak pernah ada. 
Kemungkinan butuh waktu lebih lama untuk menjadikan perempuan Indonesia semaju sekarang ini. 

Sebagai contoh, pemilu Amerika baru melibatkan perempuan 
pada tahun 1920 setelah 70 tahun perjuangan emansipasi. 
 
 


Pemilu pertama Indonesia tahun 1955,  telah mengikutsertakan perempuan.  
Ini adalah salah satu refleksi buah manis perjuangan Kartini dan tokoh perempuan lainnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah 
‘Mengapa Kartini lebih dikenal daripada tokoh perempuan lain 
seperti Dewi Sartika, Rasuna Said, Cut Nyak Dien?’

“Kartini dikenal karena kekuatan pena,” 
demikian menurut Sulistyowati Arianto, guru besar Antropologi UI. 
Melalui kecerdasan menulis seorang lulusan SD, 
secara kritis Kartini mengeksplorasi keadaan lingkungannya. 

 


Kartini menyadarkan perempuan Indonesia untuk meraih kebebasan, 
bercita-cita, dan memiliki hak kesetaraan. 
Dengan penanya, 
Kartini membangunkan keterlenaan perempuan yang tertindas oleh budaya maskulin.

Kartini juga sosok perempuan global yang sadar akan kelokalannya. 
Tulisan Kartini pada Nyonya Abendanon, 10 Juni 1902, menyatakan, 
“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid 
menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan”. 

Seseorang dengan pola pikir universal tanpa kehilangan identitas kulturalnya 
sebagai orang Jawa dan seorang Muslim.
Meski banyak kritik terhadap Kartini, namun saya memilih melihat Kartini 
sebagai simbol keberdayaan perempuan yang menginspirasi. 

 


Lebih dari itu, Pramoedya Ananta Toer dalam buku "Panggil Aku Kartini Saja", 
menyebut Kartini sebagai simbol perjuangan bangsa Indonesia 
untuk sejajar dengan bangsa Barat, bangsa penjajah. 

Meski protesnya dia ungkap dalam bahasa penjajah, bahasa Belanda.
Sebagai penutup, dari Kartini, kita belajar:
1
       Pentingnya pendidikan pada perempuan
    Pentingnya menempatkan kesetaraan peran dan kebebasan memilih pada perempuan dalam berbagai bidang
    Pentingnya membaca (Iqra). Tampaknya benar ungkapan Margareth Fuller, “today a reader, tomorrow a leader”.
      Pentingnya menulis, karena tulisan dapat melipatgandakan kekuatan.

No comments: