Tuesday, April 01, 2014

Ketidakpatuhan Berkendara (Analisa Konsep Space Edward T. Hall)




 http://kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2013/02/07/5139623_20130207103414.jpg


Ketidakpatuhan Berkendara

Oleh: Leila Mona Ganiem
(Terbit di Republika, 12 September 2013)

Terjadinya peristiwa kecelakaan di Jagorawi dua hari lalu (note: kasus AQJ)  mengingatkan saya atas hasil riset yang pernah saya lakukan akhir 2012.  Riset itu berkaitan dengan masalah ketidakpatuhan berkendara pada motor. Namun saya meyakini hal ini erat hubungannya dengan moda transportasi lainnya..

Terganggu dengan kerapnya pelanggaran aturan berkendara serta tingginya kecelakaan, menginspirasi saya untuk menggali strategi komunikasi apa yang sebaiknya dipilih untuk mengatasi masalah ini.
Saya juga menggali rasional mengapa pengendara tidak patuh.
Berikut kesimpulan penelitian tersebut.
 
Kesimpulan Pertama,   
ketidakpatuhan berkendara didukung keluarga, sanak famili dan tetangga.

Bentuk dukungan keluarga adalah dengan dibolehkannya anak dibawah umur mengendara motor. Argumennya adalah kepraktisan. 
Dari pada mengantarkan anak, waktu tersita cukup banyak.   
Terlebih ketika orang tua melihat sendiri anaknya bisa mengendarai motor. Jaraknya dekat, resiko yang membahayakan dianggap minim. 

Pertimbangan berikutnya adalah ekonomi. Karena bensin lebih murah daripada biaya antar jemput, ojek, atau angkot. Sebagian orang tua bahkan bangga, anaknya yang kelas 3 SD sudah bisa naik motor.

Dukungan diperpajang oleh lingkungan terdekat, yaitu saudara atau tetangga. 
Karena menghargai otoritas keluarga, keputusan orang tua dianggap hak prerogatif dan tidak layak dipertanyakan. Atau barangkali ini adalah refleksi pergeseran ketidakpedulian di perkotaan.



 
http://2.bp.blogspot.com/-LDrccwnIBw4/UOwgwp8AckI/AAAAAAAABQg/bWsB8ZPKelA/s1600/ditilang-polisi-thumb.jpg

Kesimpulan kedua, 
ketidakpatuhan berkendara diajarkan. 

Terdapat berbagai alasan mengapa pengendara motor cenderung tidak patuh.  
Secara umum, pengendara motor dipengaruhi oleh tekanan waktu, jarak yang jauh dan membosankan. 
Apalagi jika ditambah dengan faktor fisiologis seperti lapar, lelah, panas/hujan. Akibatnya pengendara motor menjadi lebih toleran melanggar.

Orientasi visual yang luas tanpa halangan mendorong pengendara motor leluasa melihat seberapa jauh jarak motornya dengan kendaraan lain. 
Sementara pengendara mobil  cenderung mengambil jarak lebih renggang, disitulah celah masuk motor. Hal ini juga didukung oleh kondisi fisik motor yang kecil dan berlaju lincah.

 
http://4.bp.blogspot.com/-pIfQVeLLHtU/Tx_UEEDj3II/AAAAAAAAAec/b_qUXe8C5Ow/s1600/ngebut.jpg

Pelanggaran seperti mengebut, juga dipengaruhi oleh alasan tantangan!  Terutama bagi kaum Adam.  Adrenalin dapat terpacu dengan bertambahnya kecepatan. Bagai kecanduan, semakin sulit dan beresiko tantangan, makin menyenangkan. 

Masalah kecemburuan sosial terjadi antara pengendara motor dan mobil. 
Menurut pemgendara motor, mobil menghabiskan ruang! 
Satu mobil bisa untuk lima motor. 
Ditambah dengan pengendara motor menyaksikan fasilitas didalam mobil yang lebih nyaman.   
Kekesalan tersebut membuat pengendara motor merasa perlu memenangkan persaingan penggunaan ruang publik


 
http://warungbaksosabar.files.wordpress.com/2011/10/rsv4-gtr-1.jpg

Bahkan ada pandangan, pengendara mobil sudah seharusnya mengalah karena pengendara motor beresiko lebih besar. 
Parahnya, asumsi ekonomi bahwa yang memiliki mobil lebih mapan, menimbulkan keberpihakan aparat pada pengendara motor, ketika terjadi kecelakaan.  

Kursus informal intensif cara melakukan pelanggaran dengan mudah ditemukan di sekeliling kita. 
Kita seakan diajari melalui interaksi sosial dan pengamatan di lapangan. 
Perilaku seperti melawan arus, kecepatan tinggi,  ugal-ugalan dijalanan,  tanpa helm, jumlah penumpang berlebih, belok tidak melihat sekeliling, menerobos lampu merah, pengendara anak,  menggunakan telepon genggam ketika berkendara,   tidak memiliki SIM, tanpa spion, mengobrol dengan pengendara motor lain saat keadaan berjalan,  atau tanpa sein saat belok, semua itu adalah peristiwa biasa sehari-hari.

  
http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/03/13307211921787377926.jpg
Disisi lain, 
tidak mudah ditemukan kursus formal atau nonformal  mengenai cara berkendara motor yang benar. 
Yang ada adalah langsung ujian untuk memperoleh SIM, dimana manipulasi banyak terjadi disana.

Secara konseptual,  kedekatan jarak geografis cenderung mengurangi kepatuhan individu pada aturan. Pengendara lebih permisif untuk melanggar ketika berada dilingkungannya dengan alasan ‘ ini kan, kompleks saya’.  

‘Kompleks saya’ tidak harus berwujud sebuah kompleks perumahan, melainkan  sebuah wilayah   sekitar rumah  yang sangat subjektif  jaraknya. Bisa jadi  ‘kompleks saya’ dimaknai sekitar wilayah di RT, RW, kelurahan, kecamatan   atau bahkan  lebih luas lagi. Jarak yang ditolelir  ini dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya keluarga, pendidikan, dan kepribadian.



 
http://wpcontent.answcdn.com/wikipedia/commons/thumb/3/35/Personal_Space.svg/350px-Personal_Space.svg.png

“Kompleks saya” diinspirasi oleh pemikiran Edward T. Hall (1966) mengenai ruang informal di sekitar seseorang berada. Orang tersebut membayangkan dirinya dalam sebuah gelembung dimana dirinya merasa berkuasa dalam teritori tersebut. Dengan analogi itu, pengendara motor merasa dirinya berada dalam suatu teritori dimana dia memiliki kebebasan berkendara dengan caranya. Ketika orang lain melanggar teritorinya atau melakukan sesuatu yang menurutnya tidak sesuai, pengendara tersebut akan bereaksi agresif.

Atas fenomena diatas, kita membayar mahal dengan tingginya jumlah korban dijalanan. Resiko kematian pengendara motor 39 kali lebih besar ketimbang pengendara mobil. Kebanyakan korban tewas karena kesalahan manusia.

Dimana komunikasi berperan?

Ketaatan batin dan watak untuk tertib tidak terjadi dengan sendirinya, karakter ini ditanamkan melalui komunikasi dalam keluarga.

http://www.momentsaday.com/wp-content/uploads/2013/11/How-to-Build-Character-at-Home1.jpg

Masyarakat butuh keteladanan.  Itulah pentingnya komunikasi yang terjalin diantara tetangga dan lingkungan agar menjadi pendukung dan pengawas terhadap kita dan anak-anak agar patuh pada aturan berkendara. Hal ini karena moral sosial ditegakkan melalui solidaritas sosial dalam masyarakat.
Komunikasi akan pentingnya memahami prasyarat berkendara sebaiknya lebih intens dan meyakinkan sehingga menjadi kesadaran kolektif. 

Penindakan atau mekanisme kontrol atas  pelanggaran dari aparat harus senantiasa konsisten dan dengan kesungguhan.
 http://www.ipmglobal.net/img/ipm-guys-gears-document-control.jpg

No comments: