Tuesday, April 01, 2014

Mengawal Kejayaan Indonesia





http://www.cegelec.co.id/uploads/pics/map_indonesia_02.jpg



Oleh: Leila Mona Ganiem
Pengamat Komunikasi dan Pengembangan Pribadi
Republika, Agustus 2013


Berita menggirangkan tentang prediksi kejayaan Indonesia tahun 2050, datang dari beberapa sumber kredibel.
Diantaranya dari ahli ekonomi Citigroup Willem Buiter (Chief Economist) dan Ebrahim Rahbari, tentang keadaan dan perkembangan ekonomi dunia.

Menurut mereka, Indonesia diramalkan menjadi negara nomor 7 di dunia pada tahun 2030 dan nomor 4 di dunia pada tahun 2050 dengan GDP $45.901.
Sebagai catatan, prediksi GDP Kerajaan Inggris tahun 2050 adalah $13,846, sementara Jepang sejumlah $16,394.

                                        

Ramalan lain dari Pricewaterhouse Cooper (PwC) menyebut Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedelapan dunia di tahun 2050 nanti.

Ini akan mengambil alih posisi Inggris dan Prancis yang nantinya terdepak dari sepuluh besar.

Prediksi PwC diinspirasi sejumlah faktor kunci, diantaranya pertumbuhan populasi usia kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilihat dari taraf pendidikan, pertumbuhan cadangan modal dan faktor total dari pertumbuhan produktivitas yang didorong oleh kemajuan teknologi.

 
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSLUk3n2jxcm_GMVHiY1FN6cKrMoVFovbIlctjC8a0YaFkcFQKq

Berita segar ini kontras dengan kondisi kekinian yang akrab dengan degradasi moral yang melanda generasi muda Indonesia pada posisi krisis multidimensional.

Thomas Lickona, pakar pendidikan karakter dari Amerika, memberi 10 petunjuk, untuk menafsirkan apakah suatu negara tengah menuju pada jurang kehancuran. 

Tanda-tanda tersebut adalah:
1. meningkatnya kekerasan remaja;
2. penggunan bahasa dan kata-kata yg buruk;
3. meningkatnya perilaku merusak diri (narkotika, miras, sex bebas);
4. semakin kaburnya pedoman moral;
5. menurunnya etos kerja;
6. rendahnya rasa tanggung jawab individu/bagian dari bangsa;
7. rendahnya rasa hormat kepada orang tua/guru;
8. membudayanya ketidakjujuran;
9. pengaruh kesetiaan kelompok remaja yang kuat dalam kekekerasan;
10. meningkatnya rasa curiga dan kebencian sesama.

Sedihnya, saat ini di Indonesia, dengan mudah kita dapat merinci keterpenuhan syarat sepuluh indikator tersebut.

                                         
 http://www.withoutahomefilm.com/wp-content/uploads/2011/04/WHAT-CAN-I-DO.APPR_.SQUARE.jpg        


Upaya apa yang dapat kita konstribusikan untuk mengawal kejayaan Indonesia mendatang?

Banyak hal! Beragam potensi dapat dioptimalkan.
Namun melalui tulisan ini, saya akan mengupas beberapa upaya, dari perspektif komunikasi.



http://media-cache-ec0.pinimg.com/236x/bc/7a/33/bc7a33171c2bbe362fad9597d32595d2.jpg

Pertama, 

kini saatnya kita mengkomunikasikan kembali sejarah kejayaan Indonesia di masa lalu.

Mengapa ini penting?

Karena sejarah adalah akumulasi pengalaman manusia yang melaluinya kita dapat memetik pelajaran mengenai kearifan historis.

Sayangnya, sejauh ini ‘dari sejarah kita belajar bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah’.
Padahal melalui sejarah, kita dapat memperoleh pedoman bagi kehidupan sehari-hari.
Bangsa Romawi kuno menyebut dengan adagium : historia vitae magistra, artinya, sejarah adalah guru kehidupan.

Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku API Sejarah, menyebut
‘bila sejarawan mulai membisu, hilanglah kebesaran masa depan generasi bangsa’.

Melalui sejarah kita juga belajar peristiwa reformasi paling berhasil yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau mengubah masyarakat Arab yang tertinggal (jahiliyah) menjadi masyarakat maju dan beradab dalam 23 tahun saja.




Menuju 2050, kita masih memiliki 37 tahun ke depan, satu setengah kali dari waktu yang dimiliki Rasulullah.

Jadi tepatlah jika masyarakat Indonesia dibuat melek atau dihidupkan kembali ingatan sejarahnya.

Bahwa dahulu, Indonesia merupakan salah satu pusat peradaban dunia. 

Kejayaan Nusantara ini tercermin dari berbagai data.
Diantaranya yang ditulis Claudius Ptolemeus, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi.

Kala itu, perdagangan Indonesia telah melampaui berbagai negeri.
Salah satu yang terkenal adalah penghasil kapur barus.

Para ahli bahkan menyebut kata kafur yang dimaksudkan Al Quran adalah kapur dari Barus, daerah ujung barat pulau Sumatera sebagai lambang kemewahan pada zaman itu.


                            
                           https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQaWZp4WKEKa9PkrWk9k66-CKZVwcv3dW8oe2G4IleI0_2GovMM

Plato (427 - 347 SM) menyebut wilayah Atlantis yang merupakan pusat peradaban dunia.
Profesor Arysio Santos, dalam penelitiannya selama 30 tahun, meyakini benua Atlantis adalah Indonesia. Penjelasan itu dibukukan dengan jugul ‘Atlantis, The Lost Continent Finally Found’ (2005).

Kita perlu diingatkan kembali bahwa  
Nusantara adalah wilayah maritim yang besar dan kuat. 
http://lontaraproject.com/wp-content/uploads/2013/05/kapal-Sriwijaya-negeri-yang-ketika-itu-menguasai-lalu-lintas-pelayaran-di-%E2%80%9DLaut-Selatan%E2%80%9D..jpg


Hanya kapal buatan teknokrat Sriwijaya yang bisa dipakai melintasi antar samudera.
Bahkan bangsa China juga belajar teknologi kapal dari Sriwijaya.
Kejayaan angkatan laut dari Bugis pada akhir abad ke-7 mendominasi jalur perniagaan laut Asia Tenggara.

http://4.bp.blogspot.com/-uDlG5w1X9Ts/TezlpASJY5I/AAAAAAAAABw/ulXlBXYj9RE/s1600/Candi%2BBorobudur.jpg

Di sisi artifakpun, Indonesia tak dapat diabaikan.
Sekitar abad ke-8 masehi, Indonesia telah mampu membangun candi Borobudur.

Peneliti Bandung Fe Institute menyebut, candi Borobudur dibangun dengan menggunakan perhitungan matematika yang baru dikenal pada sekitar tahun 80-an, yaitu sebuah struktur geometri kontemporer.


Kontras dengan Eropa. Kita dapati Inggris, Perancis, Spanyol atau Belanda adalah negara-negara yang menjadi kaya, memiliki keunggulan arsitektur dan meningkat kesejahteraan masyarakatnya akibat kolonisasi yang dilakukannya dulu.

http://daliennation.files.wordpress.com/2013/05/renaissance.jpg

Jaman Renaissance membawa peradaban Eropa menuju masa keemasan.
Penduduk Eropa mencapai prestasi gemilang dalam berbagai bidang
baik filasat, seni, ilmu pengetahuan, teknologi, politik, pendidikan, perdagangan dan lain-lain.

Budaya hidup menjadi hedonistik, individualistik, dan optimistik.

Kepercayaan diri meraih ambisi membawa mereka menjelajah lintas teritorial untuk melengkapi kebutuhan mencapai kemakmuran.

Akibatnya negeri kaya sumber daya alam seperti bahan tambang, bahan galian, kekayaan laut, pertanian, perkebunan yang ada di Indonesia dan wilayah koloni lainnya menjadi sasaran empuk untuk dikeruk dan dimonopoli perdagangannya.


http://4.bp.blogspot.com/-EtO5OAEs7tU/UG1t8FF2M4I/AAAAAAAADMo/Rj3ycFirA9k/s1600/voc-heading.jpg

Kini, meski realitas pedas kita temui bahwa kekayaan alam kita sebagian besar dimiliki asing.

Melalui pemberdayaan sumber daya manusia, kita harus mampu memanfaatkan sebaik mungkin sisa modal alam yang kita punyai agar tercapainya kesejahteraan masyarakat Indonesia yang lebih baik.


http://4.bp.blogspot.com/-fn525uUC-OY/T-od9TgjaJI/AAAAAAAABUE/4qGN9VB_a7Q/s1600/cc.png

Kedua, 

Pengkomunikasian karakter bangsa yang unggul.

Sisi terburuk dari penjajahan bukanlah kehilangan materi, melainkan kerusakan karakter masyarakat.
Hal itu dapat terjadi melalui kekuatan militer, kekuasaan politik, hegemoni ekonomi, dominasi media informasi, serta manipulasi sejarah.

Karakter penakut, tidak bebas bersuara, kagum pada bangsa asing, mudah diprovokasi, terpesona akan kehidupan konsumtif, mudah disuap, mental korup adalah karakter orang Indonesia saat ini yang menjadi tugas kita bersama dalam memperbaikinya.

http://media.crothall.com/global/gallery/img/2011-12_synergy.jpg

Mengingat kekompleksannya, pembangunan karakter bangsa perlu dilakukan secara kolektif.
Sinergi tersebut meliputi lingkup keluarga, sekolah, pemerintahan, masyarakat sipil, masyarakat politik, dunia usaha dan industri, serta media massa.

http://learn.cvuhs.org/file.php/1489/media-spoonfeeding-cartoon.jpg


Salah satu hal yang akrab dengan konteks komunikasi adalah lingkup media massa.

Liberalisasi pasar membuat hanya orang bermodal kuat yang bisa menguasai media.
Kondisi ini memungkinkannya survival of the fittest, siapa yang unggul, itulah yang memenangkan publik terbanyak.
Perolehan keuntungan menjadi kendali utama.
Akibatnya dominan isu media yang didasari asumsi “bad news is a good news” mengobral berita buruk yang menggerogoti jiwa.

 

Kebobrokan diurai lebih banyak daripada keberhasilan.
Dramatisasi berita buruk kerap kali hanya merepresentasi secuil realitas.


Benar, 

literasi media perlu menjadi ‘life skill’ masyarakat.
Karena ‘buta huruf’ masa kini adalah ketika kita tidak menguasai informasi.
 
 http://3.bp.blogspot.com/-DJM-zWlrQSU/UFFIXELaF3I/AAAAAAAAAV8/98fICHXBMS0/s320/socialmedia.png

Media massa perlu bersungguh-sungguh mengambil posisi sebagai pilar penting pembentukan karakter bangsa.
Tokoh panutan, motivasi berkarya, akhlak mulia, perlu lebih kerap ditampilkan agar menjadi inspirasi.


Telah lama negeri ini terlena diterpa badai.
 Ini saatnya kita mewujudkan syair Kusbini “Padamu negeri kami berjanji. Padamu negeri kami berbakti. Padamu negeri kami mengabdi. Bagimu negeri jiwa raga kami”.


Mari kita jadikan peringatan ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-68 sebagai momentum kebangkitan bangsa, meraih kembali kejayaan Indonesia.

                                 http://1.bp.blogspot.com/_Z3_025SkkKs/TKtC7KYXM8I/AAAAAAAAAnQ/bO3h9VygfVg/s1600/indonesia.jpg









2 comments: