Tuesday, April 01, 2014

Sampah Jamaah Haji (Strategi Komunikasi)



Sampah Jamaah Haji
oleh: Leila Mona Ganiem (Jamaah haji Kloter  22 JKS, 2013)
Terbit di Republika tanggal 2 November 2013

Selesai kegiatan tahunan terbesar didunia, sepanjang jalan sekitar Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuna) dan Makkah yang merupakan pusat aktifitas haji, sampah berserakan disana sini adalah pemandangan lazim. Kegiatan haji senantiasa menyisakan jutaan kubik sampah. Setiap tahunnya, ada sekitar 100 juta botol plastik berserakan. Kotoran berupa kain ihrom,  rambut jamaah,  sandal, sisa makanan dan bungkusnya berhamburan atau menggunduk.  Di Arafah saja, lebih dari 20 ton sampah, butuh waktu sekitar seminggu membersihkannya.  Karena itu tak jarang kita temukan  jamaah yang kelelahan, tertidur disekitar bahkan diantara tumpukan sampah. Potensi penyakit seperti wabah diare terutama ispa, biasa menjadi langganan.

 Kota yang pada musim haji biasa dikunjungi 3-4  juta manusia ini, harus menanggung beban berat atas ulah tetamu mereka. Padahal pihak Kerajaan Saudi Arabia selaku sahibul baith  tampaknya sudah berusaha keras menjaga kebersihan dan kenyamanan para tamu Allah.  Puluhan ribu kontainer sampah diaktifkan. Pemerintah Kerajaan juga menerapkan "sistem tabung" untuk mengantarkan limbah ke ruang bawah tanah dan stasiun daur ulang dari tempat-tempat suci. Sampah disimpan pada lebih dari 100 tempat pembuangan yang dilengkapi kompresor untuk memadatkan sehingga meminimalisir penumpukan.

Tak hanya pemanfaatan teknologi, lebih dari dua puluh ribu tenaga kebersihan yang terdiri dari unsur pelajar, organisasi masyarakat, pegawai pemerintah dan tentunya personel kebersihan yang ada, dikerahkan untuk menyelesaikan masalah ini.  Pencegahan serangga dan hewan pengerat juga ditangani  oleh ratusan tim yang menyemprotkan insektisida.

 Jika masalah sampah diatasi, tapi  sumber pemroduksi sampah tidak dikelola,  upaya agresifpun masih saja kurang  solutif.  Lantas siapa yang  paling bertanggung jawab?  para jamaah!  Ironisnya jamaah haji terbesar  dari Indonesia.   Jika para tamu Allah memiliki kesadaran membawa sampah masing-masing atau berkenan mencari tempat sampah yang sesungguhnya tak seberapa jauh,  tampaknya hal ini bisa membuat perbedaan.

Pengetahuan tentang kebersihan sangat imperatif dan ada baiknya tidak hanya dilihat sebagai tugas lembaga keluarga. Buktinya jamaah kita sendiri masih sering membuang pembalut bekas pakai dilantai kamar mandi, meludah di bis, meninggalkan baju tak terpakai dimana saja. Itulah kira-kira fenomena umum yang kasat mata.

Tanpa mengurangi apresiasi pada kinerja Pemerintah Indonesia yang telah sangat baik mengelola haji tahun ini, saya merasa  tugas pendidikan 'etiket kebersihan' para jamaah haji, sebaiknya diambil alih oleh pemerintah. Upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pengkomunikasian 'budaya bersih lingkungan'. Budaya tersebut dapat  dianalisa  dari berbagai aspek yaitu agama, kesehatan, kenyamanan diri dan orang lain, serta tanggung jawab jamaah sebagai duta Indonesia.

Selama ini, upaya pengkomunikasian melalui stiker 'Jagalah Kebersihan' yang ditempel di pondokan, tidak cukup ampuh mengubah kebiasaan. Berikut ini beberapa saran yang dapat pemerintah lakukan, yaitu 1) ketika pelatihan manasik, selain ritual haji,  ada baiknya menambah sesi khusus membahas isu kebersihan 2) membuat buku saku pengelolaan kebersihan haji  3) memasang spanduk 'anjuran menjaga kebersihan' ketika di Armuna; 4) secara kontinyu panitia haji mengingatkan dan memastikan untuk menjaga kebersihan lingkungan  dalam berbagai momen aktifitas relijius di kota suci.

Tak cukup itu, ada baiknya pemerintah mengantisipasi solusi semaksimal mungkin, ditempat dimana produksi sampah terjadi. Misalnya dengan menyediakan plastik pembuangan dan menyalurkan ke tempat semestinya. Sejauh ini, pengelolaan sampah di pemondokan haji dapat diacungi jempol.  Sementara itu untuk kegiatan di Arafah, dan Mina, meski tidak terlalu memuaskan,  telah ada sistem. Misalnya  ada tempat sampah dan petugas pemungut. Namun di Muzdalifah, dan tempat-tempat ziarah, sisa makanan dan bungkusnya dengan sembarangan dibuang. Jika budaya bersih lingkungan telah mendarah daging,  mudah-mudahan hal itu mengurangi konstribusi sampah dari jamaah kita.

Tak diragukan jika para jamaah haji mengenal betul bahwa Islam adalah agama yang sangat mencintai kebersihan. Mempermudah tuan rumah dalam mengurus jutaan tamu juga merupakan ibadah. Andai saja tamu dari setiap negara menanamkan upaya serupa dengan yang dijelaskan diatas, Insya Allah, ungkapan yang mengatakan 'Kebersihan sebagian dari iman' teraktualisasikan dalam momen yang penuh berkah ini.

No comments: