Thursday, December 24, 2009

Abstract Dissertation

Dissertation Research, Department of Communication, University of Indonesia, Leila Mona, 890211006X

Relational Dialectics and Conflict Resolution
in Intercultural Marriages of the Sundanese and Arabs

(401 pages, 12 charts; 5 tables, 771 attachments, Bibliography: 112 books, 91 articles, journals, and others (1977-2007)

ABSTRACT

In a heterogenic country, such as Indonesia, an intercultural marriage is always possible. Many data reveal that intercultural marriages potentially are more troubled than marriages of the same culture. These conflicts arise because each culture has its own rules. A logical situation in one culture may seem very illogic in another. They cannot be compared. Ironically, both sides often react according to each their own culture and cannot accept when the spouse reacts according to a different standard of cultural rules.

Leslie Baxter and Montgomery (1998) put forward a theory called relational dialectics, which analyzed the strains that are conjoined in a romantic relationship. Relational dialectics are divided into internal and external dialectics. Internal dialectics how that in a couple relationship, the party needs to 1) balance between connectedness and separateness, 2) certainty and uncertainty, 3) self disclosure and privacy or openness-closeness to other party. External dialectics are relationship between couple and community. There are need of: 1) inclusion-seclusion, 2) conventionality-uniqueness, 3) revelation-concealment.

In this research the relational dialectics theory was studied in the cultural context in marriages between the Sundanese and Arabs. The culture elements that caused contradictions in their relationship is called intercultural dialectics. The aim of the research was to: 1) get the knowledge about internal-external relational dialectics of intercultural couples, 2) get the understanding about the experiences of the couples in connection to intercultural dialectics and 3) get the understanding on how those couples overcome the intercultural dialectics they face in their marriage on the internal and external scope.

Another theory used to help understand the researchers’ reasoning in this research was, among others, the intercultural communication model by Gudykunst and Kim (1997), the conflict resolution tactics by Hocker and Wilmot (1995) and five general resolution patterns in marriages between couples of different cultures developed by Tseng (1977).
Case study was done to four couples of Sunda-Arab. Interview, observation and participation to some of the couples activities were done to understand their experience related to relational dialectics and intercultural dialectics.

From this research it can be concluded that internal and external dialectics are tended to be sourced by cultural difference of each couple. The most conspicuous dialectics of those couples were caused by the individuals’ competence or incompetence to predict their spouse’s culture or surroundings. From the empirical data it was found that the attraction between the individuals were caused by culture elements related to scientific, religious, kinship including etiquette, and language systems. From the deep analysis was also concluded that the dialectics tended to be sourced by cultural difference instead of gender.

Another finding that was significant in this research was Conservative – Moderate dialectics. Conservative dialectics is the attitude to protect the culture or tradition believed. Moderate dialectics is the attitude to avoid extreme behavior and take a neutral stance in the differences of the cultures that occur in the relationship with the spouse.

Generally, couples discuss the differences between them. Collaborative and accommodative tactics are most obvious in their relationship. The adjustments are varied. In certain cases, they adopt the spouse’s culture, in other cases a mixture of cultures happens. Causes of adjustments are usually practicality, or the good of the family.

In relationships between individuals from large family surroundings, they usually adopt accommodative tactics and adaptation to one culture, that of the spouse’s family. This usually happens in conflicts that involves seniority in the family. Force from seniority tended to be important factors to create dialectics. That was also happen because Indonesia is a collective and high distance culture (Hofstede, 2005).

Dialectics in relation to beliefs, especially religion taught from childhood, is a problem that is inclined to be difficult to change. While in cultural dialectics that do not include belief systems, less time is spend to study it or is more logical not to practice, is the easiest to change.

Abstrak Tesis Komunikasi

PROGRAM PASCASARJANA, FISIP MANAJEMEN KOMUNIKASI, UNIVERSITAS INDONESIA
TESIS


ABSTRAK
Leila Mona
NPM: 8399140384


KOMUNIKASI NONVERBAL PADA KREDIBILITAS KOMUNIKATOR
161 hal + xv; literatur 37 (th 1975 s.d. 2001); 68 lampiran + 23 tabel

Kredibilitas adalah bagaimana seorang pembicara dipercaya dan diyakini oleh pendengarnya. Seorang komunikator tentu saja sangat berkepentingan dengan hal ini. Karena komunikan adalah orang yang paling menentukan kelayakan seorang komunikator. Komunikan jualah yang memutuskan apakah dirinya akan mengikuti atau menerima kata-kata, penjelasan, dan saran-saran dari komunikator.

Penelitian yang dilakukan ini berkaitan dengan kredibilitas, namun peneliti melihatnya dari kaitannya dengan komunikasi nonverbal. Dimensi kredibilitas yang menjadi perhatian dalam penelitian berkaitan dengan keotoritatifan, watak dan dinamisme seperti yang disarankan oleh Mc. Croskey (Devito,1978;111). Sementara itu komunikasi nonverbal yang menjadi perhatian adalah gerak tubuh, suara dan artifak seperti yang disarankan oleh Everett Rogers (1999).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi komunikan terhadap komunikator berkaitan dengan komunikasi nonverbalnya. Apa hal-hal yang paling berpengaruh bagi komunikan dalam menentukan seorang komunikator yang kredibel. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif namun pengumpulan data juga dilakukan dengan metode kuantitatif.

Penelitian ini adalah deskriptif, yaitu dimaksudkan untuk memaparkan situasi atau peristiwa tertentu berkaitan dengan kredibilitas komunikator dan komunikasi nonverbal dengan cara yang sistematis, faktual dan cermat. Metode pengumpulan data dengan wawancara dan kuesioner.

Peneliti juga melakukan observasi dan pencatatan sepanjang penelitian. Unit analisisnya adalah individual dengan jumlah informan 8 orang, responden 34 orang serta pembicara yang merupakan objek penelitian sejumlah 2 orang. Alat bantu pada penelitian ini adalah video yang diputar didepan para informan dan responden. Selanjutnya teknik pengukuran pada penelitian ini adalah dengan Perbandingan Analitis dan Metode Ilustratif seperti yang disarankan oleh Neuman (1991).

Hasil penting dari penelitian ini adalah bahwa komunikator yang mengoptimalkan penggunaan komunikasi nonverbal lebih dianggap kredibel oleh komunikan. Gerak tubuh dan suara sangat mempengaruhi persepsi informan dalam menilai dimensi keotoritatifan pembicara pada kecerdasan, pemahaman dan kemampuan mengembangkan kata-katanya; dimensi watak pada keobjektifitasannya serta dimensi dinamisme pada ketegasannya. Gerak tubuh, suara dan artifak mempengaruhi persepsi informan pada dimensi keotoritatifan pada kewibawaan; dimensi watak pada keterandalan, motivasi baik dan disukai; dimensi dinamisme pada kemampuan membujuk, semangat, kegairahan dan keaktifan serta keberaniannya.

Namun demikian mengingat kredibilitas adalah persepsi komunikan tentang komunikator yang dipengaruhi oleh pengalaman, kesukaan, daya tarik, budaya komunikan, karenanya kemungkinan adanya subjektifitas sangat tinggi sehingga belum tentu dapat digeneralisir.

Sunday, December 13, 2009

Sapaan Bodoh?



 Oleh: Leila Mona Ganiem
 

Ketika berpapasan dengan tetangga atau orang yang dikenal,
prosedur standar bagi orang Indonesia, khususnya Jawa, adalah
saling melempar senyum, menganggukkan kepala dan menyapa dengan sapaan khas, yaitu
"Mau ke mana?".

Umumnya tidak butuh jawaban.
Itu hanyalah suatu keramahan atau bahkan untuk mengakui eksistensinya bahwa ia adalah manusia.

Pernyataan lain seperti “nggak mampir dulu“, atau “mari makan”,
sesungguhnya juga tidak serius, sekedar basa-basi.
 

Ungkapan basa-basi ini adalah bagian percakapan penting di budaya Indonesia.
Ditujukan untuk menjalin hubungan sosial.
Ada rasa peduli, ramah dan perhatian pada orang lain.
Meski tidak ada fungsi khusus dalam proses komunikasi.

Sekali lagi, ungkapan itu sebenarnya tidak diharapkan untuk dipenuhi.
Ungkapan ’mau kemana’ sebenarnya ditujukan sebagai tanda bahwa “saya tetangga anda”
atau “saya kenal anda”.
Selain itu sebagai strategi mencairkan suasana (breaking the ice),
sehingga selanjutnya hubungan menjadi lebih santai dan tidak tegang.


Bagi orang Eropa atau Amerika, ungkapan “Where are you going?”
dianggap telah mencampuri urusan orang lain.
Dalam hati mereka akan bilang “Saya mau pergi kemana saja bukan urusan anda”
atau “It’s none of your business”.

 Tari Wilson, teman saya, bercerita sambil sedikit sewot.
Dia orang Indonesia, menikah dengan orang Inggris, dan pernah tinggal di London tiga tahun.
Sekarang mereka tinggal di Jakarta.

Tari sangat terganggu dengan sapaan satpam dikantornya, setiap pagi dengan ucapan "Kerja, Bu?". Pulangnya, satpam lain mengatakan, “Pulang, Bu?” atau “Jalan, Bu?”.


 


Ternyata bukan cuma satpam itu, melainkan karyawan-karyawan lain di kantornya.
Bagi dia itu adat istiadat ’bodoh’.
Teman lain, expatriate, yang ikut dalam diskusi itu, mengangguk geli dengan cerita Tari tadi.
Dia bilang, pengalaman yang sama juga kerap dia alami.

Anto, yang baru pulang dari sekolah di Amerika berkomentar,
”Orang Indonesia tuh suka mau tau aja urusan orang lain, mereka tuh harus tau MYOB (mind your own bussiness), ngak usah ngurusin orang lain.
Coba lihat, masa sapaan keorang lain ‘Mau kemana?’ atau ‘Dari mana?’ coba deh.
Come on, masa menyapanya ‘where are you going?’ or ‘where have you been?’
Kenapa sih menyapanya ngak ‘Hai, hari ini cerah sekali yah?’”

Mungkin Anto juga lupa bahwa di Indonesia itu musim tidak sepenting dinegara empat musim.
Bagaimana rasanya punya musim yang berudara cerah hanya tiga bulan dalam setahun.

Kemungkinan, rasa syukur akan udara cerah cukup penting dari pada di Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dengan dua musim.


 



Andai orang asing dan teman-teman saya orang Indonesia itu tahu
bahwa pertanyaan itu sekadar berbasa-basi untuk menunjukan keramahan orang Indonesia, (sebagaimana kalimat "How are you?" dalam bahasa Inggris ) mereka tentu tidak perlu jengkel. 
 


Satu lagi sapaan yang juga seru adalah sapaan khas orang Cina. Biasanya pada orang dewasa, jika berpapasan, apa pun kondisinya, mereka menyapa dengan sapaan “Sudah makan?”

Reaksi sangat berbeda dari reaksi lain diatas, datang dari seorang teman, bernama Soni.
Dia bercerita bahwa dia kaget karena disapa dengan ramah,

”Mau kemana, Pak?”.

Sapaan itu terjadi disebuah pom bensin di Jakarta.
Dengan antusias, Soni mengatakan, bahwa sapaan dipagi itu menyejukkan hatinya ditengah keegoisan dan keindividualisan orang Jakarta.
”Semoga makin banyak sapaan bersahabat seperti itu,” katanya.

 

Saya mendengar dengan sedikit menganalisa.
Mungkin karena banyak versi budaya yang saya cerna.
Memang, ketika mendengar tetangga atau teman, orang Indonesia, berkata, ”Mau kemana?” saya segera menarik pesan ’orang ini ramah dan sopan’.
Tapi jika saya ditanya oleh pramuniaga atau petugas pom bensin seperti yang dihadapi Soni,
reaksi saya akan seperti ini ’kenapa tanya-tanya, urusan saya dong’.

Soni memang memiliki toleransi tinggi pada versi ’Mau kemana, Pak?’. Bahkan sebuah kerinduan yang sangat tinggi agar sapaan itu bertebaran dimana-mana.



Jadi, gaya sapaan bervariasi didunia ini.
Untuk bijaknya, sebaiknya kita tahu yang mana yang tepat untuk situasi yang berbeda.
Kita mungkin sekarang terbiasa mendengar ungkapan ’selamat pagi’ atau ’selamat malam’.
Sesungguhnya itu adalah adaptasi budaya asing yang disosialisasikan mulai dari kantor-kantor,
sinetron atau pidato.

Sementara bagi orang Indonesia, sapaan ‘mau kemana?’ atau ’lagi ngapain?’
lebih dekat dalam menjalin kekerabatan hubungan.

Pergeseran itu terasa. 

Itulah artinya bahwa yang tetap didunia ini adalah perubahan.
Namun, barangkali kita masih bisa mendapatkan banyak orang diperumahan-perumahan merasa sangat kaku, aneh, atau agak kelu, jika perlu saling menyapa tetangga mereka
dengan ungkapan, ’selamat pagi’.


Bagi Pahlawan Kesehatan