Sunday, May 08, 2011

Mohon Komentar bagi yang Telah Membaca "Beda itu Berkah"

Dear teman-teman,
Sebuah kehormatan bagi saya, bila Anda telah berkenan membaca buku "Beda itu Berkah"
Semoga Anda Menikmati Perjalanan Antarbudaya...

Ada dua kesungguhan yang saya ingin suarakan melalui tulisan itu
Pertama, mengajak untuk kita Bangga Menjadi Orang Indonesia
Kedua, mengajak untuk menjadi Manusia Antarbudaya... manusia yang bisa berkomunikasi dengan orang berbeda budaya.

Bagi saya, tulisan itu refleksi pengalaman batin dalam memaknai perbedaan.
Sebuah kejujuran yang dirangkai dalam bentuk lembaran.

Keterbukaan yang saya hadirkan melalui buku itu,
membuat sebagian yang ada dibenak saya mudah dilihat.
Perlu kesiapan hati untuk menerima konsekuensi suatu tindakan.

Pastinya ada pemaknaan beragam.
Ada yang berkenan, belajar dari kisah-kisah yang ada, fun, menikmati, atau bahkan sebaliknya, melihat banyak kekurangan yang mungkin sekali saya tidak sadari.

Sungguh, apapun itu, adalah hadiah bagi saya...

Pelajaran yang sangat berharga untuk mengukur sejauh mana perjalanan diri. Lantas perlu pembenahan seperti apa. Lalu berkarya seperti apa lagi...


Karena itu, melalui forum ini, izinkanlah saya memohon masukan, kritik, ungkapan, atau saran dari teman-teman.

Apapun itu, dengan tulus saya ucapkan. Terima kasih Sekali.

Salam hangat
Leila Mona Ganiem

Sebagian komentar-komentar ini dari Facebook:

Dedy El:
"dapat bukunya di Gramedia, yang pasti saya baca sekali 'jalan', karena sebagian besar "kisah2 perbedaan" yg dituturkan (penulis) adalah baru dan menarik sehingga membuat penasaran untuk segera menuntaskannya. Sekarang buku ini menjadi koleksi keluarga. Isteri saya juga menyukainya dan sudah selesai membacanya. btw, kok kurang tebal ya, hehe... Saya menunggu karya selanjutnya."
29 January 2010 at 20:14

Gusti Intan Sari:
"Tgg coment dr dirikw ya, yg jelas gw bgt nih buku,hehe..,btw lg dibaca niy blm kelar gantian ama the lost symbol dan brown,hehe...,oiya lupa CONGRATULATION yah atas terbitnya buku kak ella"
30 January 2010 at 05:24

Nadia Basir:
"waw.. buku pertama ya? menarik sekali judulnya.
aku belum baca tapi bakal pastinya. semoga sukses ya kak..
bangga deh sama dirimu :)"
30 January 2010 at 07:13

Anthon Kurniawan:
"buku i2 msh blm prnah ku baca.tp klo lihat judulnya pasti menarik tuk d telaah.selamat ats edisi perdananya mbak"
30 January 2010 at 11:08

Nina Ghaniem:
"
udah aku baca kak!! bagus, menarik, gaya bahasa nya enak, buat kita pengen baca sampai tuntas.. tapi ya itu tadi.. kurang tebel kayaknya.. , abis asyik bacanya.!! Ditunggu buku selanjutnya.." 30 January 2010 at 16:32

Nuha Noha Hlf:
"Seperti judulnya, buku ini InsyaAllah akan membawa berkah di kehidupan setiap pembacanya...berbagai kisah nyata dan berbagai kebudayaan yang dikemas dalam sebuah buku, yang penuh makna,dengan bahasa mudah dimengerti, ditambah dgn bumbu hum...or, sehingga tidak membosankan untuk dibaca, pesan dari buku ini pun sampai kepada pembacanya... ak pny 1 abah pny 1 jd gak berebutan bacanya... hehehehe... Dituggu Beda Itu Berkah 2.. :)"
30 January 2010 at 19:04

kalo ak sebenernya kurang suka sama warna coverya, kontra dgn pribahasa "dont judge the book from the cover"..hehehhe.. tapi buat ak tampilan luar juga penting supaya bisa mendukung isi buku yg sudah bagus.. kalo isi udh 99% sempurna.. :D30 January 2010 at 20:47

Hari Baron:
"
Catatan Beda itu Berkah :
1. Buku yang bagus cocok untuk hadiah/soevenir.
2. Karenanya mungkin perlu perbaikan untuk cetakan selanjutnya seperti hal 38, KUA itu mbak bukan kantor catatan sipil. Kemudian di hal 44, alenia ke 2 disitu disampaik...an tidak ada yg bisa bicara Jawa kecuali Anto. Namun di alenia ke 3, Sam bercerita dia ditertawakan ketika ngomong Jawa dengan temannya di Busway.
3. Tujuan buku ini mengatakan bahwa perbedaan selalu ada, dimanakan kita berada. Karena itu judul bukunya Beda itu Berkah. Namun kenapa hal 93 mbak menyarankan memilih pasangan yg sesuku saja...lebih aman.
4. Kata-kata mutiaranya kenapa ngak ada dari tokoh nasional/internasional dari Indonesia. Biar beda ya mbak.
4. Kenapa cerita tentang keluguan orang Aceh & orang Madura yg selama ini cendrung menjadi "candaan" tidak mbak masukkan.
5. Aku setiap minggu selalu beli buku, walaupun belum tentu langsung kubaca. namun kemarin sepulang kerja aku beli buku ini, langsung kubaca gantian sama istri dan selesainya esok pagi. sangat cepat. seperti aku baca novel Jhon Grisham. tapi buku mbak ini sangat menarik dan enak dibaca.
"
03 February 2010 at 13:41

Novida Irawan:
"
Bu Mona....Isi Bukunya menarik dan banyak sekali cerita-cerita budaya di sekitar kita yg secara tidak sadar sebenarnya hadir ditengah-tengah kehidupan kita....dan memberikan angin segar bagi saya tentang budaya... Punten secara pribadi saya kurang sreg sama covernya..."02 March 2010 at 07:52


Kematian Bahasa (Analisa Komunikasi Antarbudaya)




Oleh: Leila Mona Ganiem
Dari buku:   Beda itu Berkah, 2010

"I used to think that anyone doing
something weird was weird.
Now I know that it is the people who call
others weird who are weird."
Paul McCartney






Hari itu ada acara reunian teman kuliah dulu.
Sambil makan, obrolan sana-sini kian seru. Tiba-tiba telepon Anto berdering.
Dengan badan agak dimiringkan dan menutup handphone dengan tangan,
omongan Anto masih bisa kami dengar.

Semua percakapan berbahasa Jawa.
Kasak-kusuk diantara kami, terkagum-kagum.
Sseorang boss seperti Anto masih bisa berbicara dalam bahasa Jawa dengan luwes.
 

Bahasan bergeser seputar bahasa.
”Yang luar biasa dari Anto, orang Jawa yang sudah lama tinggal di Jakarta
masih ngomong bahasa Jawa!” kata Mira.

Dari 22 orang yang hadir, 8 orang Jawa, tapi umumnya mereka mengerti bahasa Jawa
hanya dipermukaan saja.
Untuk bicara dengan undak usuk bahasa, saya agak ragu kalau mereka bisa.

Pasalnya dulu, pernah saya tanya arti suatu tulisan bertatakrama halus,
tak ada seorangpun yang bisa mengartikannya, kecuali Anto.

”Kenapa kita ngak bisa bahasa daerah?” kata Sam.
Diskusi makin hangat.

 

Sambil angkat siku ke meja dan menyangga tangannya, Ani berkomentar,
”Iya, ya, banyak orang menganggap bahasa daerah itu kuno. Cuma dipake oleh orang miskin dan tidak berpendidikan. Parahnya, ada yang berfikir, bahasa bisa menghalangi orang berhasil dalam hidup”

Lalu Sam bercerita ketika dia dibusway ngobrol dengan temannya berbahasa Jawa,
orang disebelahnya tertawa. ”Saya ngak tahu, alasan dia ketawa. Geli? aneh? lucu? mengejek? saya tidak tahu. Tapi saya berfikir, hmm... pantesan aja bahasa daerah kian punah".




”Aneh, emangnya kenapa sampai bisa bahasa menghalangi keberhasilan hidup?”
Yandi angkat bicara.
”Harusnya ngak, tapi ternyata kalau orang berbicara dengan logat tertentu,
atau kerap bicara dengan bahasa daerah tertentu, tingkat ’kekerenannya’ menurun” jawab Ani sambil menambahkan gaya menulis tanda petik dikata ’kekerenannya’.


"Bayangkan! Didunia ini ada 7000 bahasa.
700 nya ada di Indonesia! Dan, 70 bahasa atau sekitar 1% dari seluruh bahasa di dunia, ada di NTT.
Jadi Indonesia ini kaya.



 

 Tapi coba kita tanya, berapa bahasa yang kita ketahui?
umumnya menjawab kurang dari hitungan jari-jari satu tangan.
Dominannya satu atau dua bahasa saja.
 Dan kalau banyak dari kita berfikiran, bahwa bahasa daerah bisa menghalangi keberhasilan hidup kita, bakal banyak bahasa yang punah nih...” celetuk cerdas Ira yang dari tadi kelihatan sibuk dengan sms-nya.

”Iya, ya, benar juga” kata Sam, merenung seolah bicara dengan dirinya sendiri.




”Anggapan negatif pada bahasa daerah berakibat negatif.
Kita mungkin berkonstribusi dengan meniadakan bahasa daerah hingga anak kita hanya bisa berbahasa Indonesia.
Malah kita mendesak-desak anak untuk kursus bahasa Inggris agar mampu bersaing kedepan.
Bisa juga benar, tapi kan kita yang bikin bahasa daerah kita lumpuh,
dan ngak penting. Kalau anak kita ngak pakai bahasa itu, berarti anak dari anak kita juga nggak akan pakai bahasa itu ” kata Ira dengan wajah serius.

Reni menimpali. ”Wah, hebat nih, Ira jadi kritikus keren, gayanya udah kayak Pak Purnomo dosen Kewiraan kita dulu.....” Semuanya tertawa.

 


Anita, yang bersuku Sunda, ikut menambahkan bahasan seru ini,
”Sekedar perenungan, ya…. Kita lagi kumpul di Mekar Sari, Cileungsi,
tapi dari tadi jarang sekali kita dengar orang bicara bahasa Sunda.
Padahal ini wilayah Sunda.
Kalau kita ke Bandungpun, disekolah-sekolah, mall, bioskop, terminal, kompleks-kompleks perumahan, kantor, anak-anak kecilnya, orang dewasa, sudah makin jarang terdengar mereka menggunakan bahasa Sunda. Padahal kemungkinan besar, pastilah mayoritas mereka adalah etnis sunda.
Kalau dikota besarnya saja bahasa Sunda sudah mulai ditinggalkan penggunanya,
tidak lama lagi, orang kenal bahasa Sunda sebagai "bahasa gunung", begitu kata Anita.

 


Togar, yang duduk disudut sambil bersandar di dinding, urun rembug tentang bahasanya.
 ”Iya juga, ya, mungkin sekali bahasa Batak bisa punah.
Ini cuma masalah waktu saja. Ironisnya, yang bikin punah ya orang Batak juga.
Coba bayangkan, orang tua sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi.
Orang tua saya misalnya, sudah kurang fasih, paling mengerti kalau orang bicara.
Kalau orang tua saya cuma ngerti, apalagi saya…..?
jadi bahasa punah kalau rumah pemilik bahasa tidak lagi pakai bahasanya, toh?
 Tahu nggak, kalau orang bertanya pada anak saya,
Aha Margam? Ise Goarmu? Nggak ada yang bisa jawab.
Tapi kalau orang tanya “Kamu orang apa?” anak saya bilang dengan mantap
”’Orang Batak” hahaha.” Togarpun tertawa.

Saya baru sadar, tidak ada ’rasa’ dialek Batak diucapan Togar.

Orang akan menyangka dia orang Batak, setelah kenal namanya atau memperhatikan sosok tubuhnya. Untungnya rasa bangga sebagai orang Batak masih kuat pada Togar.
Jadi slogan, ”Proud to be Batak” memang sering didengung-dengungkan Togar.

 


hanya dia tidak bisa bahasa Batak, bahkan mengungkapkan rasa bangga sebagai orang Batakpun, dalam bahasa Inggris.

”Gar, jadi satu-satunya kalimat yang kamu bisa bilang dalam bahasa batak adalah
”saya tidak bisa bahasa Batak” kata Romi sambil tertawa mengejek Togar.

”Saya ingat, dulu, kalau liburan, pernah orang tua saya kirim saya ke Medan,
supaya bisa berbahasa Batak, katanya. Tapi pas di Medan,
 tulang saya bilang keanak-anak lain, “Pake bahasa Indonesia saja, biar Togar ngerti.”
 Jadi kapan saya ngertinya. Sekarang, isteri saya bilang, “Hare gini … anak anak diajari Bahasa Batak?”. Kata Togar berapi-api. Saya maklum, Niken, isteri Togar adalah orang Jawa.




Saya jadi ingat ketika kecil, ayah saya kerap bicara bahasa Arab
dengan teman-teman atau kerabatnya.
Tapi sampai kini, saya dan saudara-saudara menggunakan istilah bahasa Arab
hanya untuk bahan celetukan dan humor segar ketika kumpul dengan keluarga besar.
Tak ada satu kalimatpun yang berhasil dirangkai dengan manis.
 

Sayapun merasa sangat menyesal karena ketika berada di Pakistan lebih dari tiga tahun,
saya tidak bersungguh-sungguh belajar bahasa Urdu.
Waktu itu, saya dan teman-teman umumnya berkeyakinan,
bahwa bahasa Urdu tidak terlalu bermanfaat.

Dalam suatu tulisan seorang kritikus ekonomi politik, Jean Baudrillard, (1981) mengatakan
bahwa monopoli sebenarnya bukan pada alat teknis, melainkan pada ucapan.

Jurgen Habermas (1967) juga mengingatkan bahwa bahasa adalah alat dominasi dan kekuasaan. Bahasa yang tertumpah dalam pemikiran, cenderung diabaikan logikanya
dengan penggembosan bahasa itu sendiri oleh pemiliknya.
Banyak orang merasa lebih keren dan hebat dengan bahasa yang dimiliki orang lain,
daripada bahasanya sendiri.
 


Kematian bahasa juga dapat terjadi karena adanya modifikasi.
Termasuk saya yang kerap mencampur bahasa dalam keseharian.
Dosen bahasa Inggris saya dulu pernah bilang,
”Kalau bahasa Indonesianya tidak bagus, lalu bahasa Inggrisnya juga tidak bagus, maka kemungkinan penggunaannya akan bercampur.

Sebaliknya, orang yang fasih dalam bahasa Indonesia dan fasih ketika berbicara bahasa Inggris,
berarti kemampuan dua bahasa orang tersebut adalah sempurna”



Sesungguhnya, saya dan teman-teman diam-diam mengagumi pilihan sikap Anto.
Kemampuan bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan terutama bahasa Jawa
yang diucapkan Anto dengan luwes dan benar,
sesungguhnya menempatkan sendiri kualitas diri Anto.

Sama sekali diantara kami tidak ada yang merasa Anto ’kampungan’ atau ’udik’ dengan bahasanya.
Bahkan sosok yang mengagumkan.

Seorang muda yang maju, berwawasan luas, sukses, dan merakyat.
Menghargai budaya nenek moyang.
Memahami dan melestarikan identitasnya.

 Kami makin terkagum-kagum dengan ucapan Anto yang begitu rendah hati,
”Tahu ngak, bahasa daerah itu bisa memberi dasar yang kuat untuk kita bisa tumbuh dan menjelajahi dunia”

.... Oh Anto.....Indahnya dirimu...

Hah 400 Ribu....? (True Story)

Oleh: Leila Mona Ganiem

 

 
Domba anak saya, bernama Snow White (SW).
Domba itu hadiah oleh Kel Ali Badjerei, sahabat keluarga.

Karena dianggap binatang piaraan, (pet), dia dipanggil dengan gelar 'Mbak SW".
Selama tujuh bulan SW menikmati fasilitas susu Dancow, susu sapi literan atau susu Ultra.


Hitung-hitung biaya buat SW sekitar 750 ribu perbulan, terutama 6 bulan pertama.



http://bundamahes.files.wordpress.com/2010/06/susu-uht.jpg

Sebidang tanah kecil didekat dapur, berperan kebun, dirubah fungsinya menjadi kamar SW.

Hampir seluruh makanan keluarga juga disantapnya.
Sisa sayur lodeh, ayam, pisang, kulitnya, daging, mie, kerupuk habis dilalap SW.


  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBLZco56oyh6bGBSSpZs5IsBXGMDe-65CIHF5p0AGnBImuBmrAG_TJi_nsAa7r4ge-xeK2_pMYl-EZ6CzEmc-464pcz_zjPKY4b3KPV7BY9ICUoCkQf1lgQKlWSkCxtUzG25PcDQ/s400/8.jpg

Kami bertanggung jawab merubah fitrahnya dari herbivora menjadi omnivora.


Proses menikmati menu juga berbeda dari hewan sejenisnya.
Hampir semua makanan disantap dengan proses 'dipersilahkan'.
Maunya makanan disimpan dipiring atau dimangkuk.
Bila menu sudah jatuh kelantai, SW merasa jijik memungutnya.

Hingga usia setahun, Mbak SW masih minum menggunakan dot.

 
http://anjingdijual.com/upload/img/2012/09/21/21092012103434-4440.jpg


Sekeluarga bergiliran bertugas memegangi botolnya.
Tanpa dot, SW akan mengembik berkepanjangan.

Meski haus SW tetap tak berkenan meminum air dari ember.

Jelas, manusia memiliki keterbatasan mengajarkan aspek sosial individu lain.
Kasihan, dia tak punya figur yang mengajari 'menjadi domba'


SW dimandikan sebulan dua kali, kadang seminggu sekali.

http://dc223.4shared.com/img/EOzoESjgce/143f7ae1e60/ShaunTheSheepS01E02_Bathtime.avi


SW juga menerima kemewahan berkeliling kampung.
Ditemani jalan-jalan oleh anak-anak saya, bak binatang piaraan.

Kadang tanpa sepengetahuan saya, Mbak SW dibawa masuk kekamar tidur.

http://gamescatalyst.com/wp-content/uploads/2012/04/Shaun-the-Sheep.jpg
 http://gamescatalyst.com/wp-content/uploads/2012/04/Shaun-the-Sheep.jpg

Mencari jodoh buat Mbak SW juga tidak mudah.
Dia pilih-pilih.

 http://images.shaunthesheep.com/user_uploads/creations/creation_700_10832.jpg


Dulu sempat ada pasangan SW, bernilai 1,1 juta (beratnya lebih kecil dari Mbak SW).
Harga yang murah itu, karena persahabatan dengan siempunya hewan.

Perkawinan berlangsung dalam satu bulan saja lantaran pasangan
segera dihabisi untuk persembahan suci bulan Dzulhijah.


 
 http://blog.rajasulap.com/wp-content/uploads/2012/10/shaun_the_sheep_idul_adha1.jpg





Berat Mbak SW kira-kira lebih dari 35 kg.
Mungkin 37-38 kilo. Umurnya kini 1,5 tahun.


 
 http://pixabay.com/static/uploads/photo/2012/11/05/04/14/alpaca-64137_640.jpg

 
Dua minggu lalu SW dihadiahkan pada Mas To, staf di rumah kami.
Dia memiliki kapasitas untuk mengurus domba cantik itu.
Pertimbangannya adalah karena selama SW sudah berkenan merumput,
Mas To inilah yang menyelesaikan masalah sayur-mayur itu.



Proses bujuk rayu cukup panjang untuk membuat Mbak SW dizinkan oleh anak saya
untuk berpindah kepemilikan.

Ada negosiasi yang berkonsekuensi cukup berharga pada saya sebagai ibunya.
Salah satu alasan yang saya sampaikan adalah  karena kami tidak akan tega menggulainya.
Sementara pengurusan SW sudah kian sulit.


http://inastya.files.wordpress.com/2007/11/sambal-goreng-iga-kambing.jpg


Kami juga berfikir... hitung-hitung keberadaan Mbak SW buat Mas To sebagai tambahan peluang bisnis baginya jika domba cantik itu beranak cucu.

Kemarin  Mas To  melapor, Mbak SW sudah dijual.
Harganya 400 ribu!

Aku menjerit, "Hah... 400 ribuuu?
Terkejut, marah, terharu.
"Mengapa pembeli tega menekan harga tanpa berperikebinatangaan pada Pet mahal itu!" renung saya.

Anak-anak belum dikabari.
Mungkin mereka akan menangis, tapi dengan alasan berbeda dengan ibunya.

Friday, January 01, 2010

Reaksi yang Membuat Perbedaan




Oleh: Leila Mona Ganiem




 Sebuah video menarik yang beberapa waktu lalu dikirim sahabat saya, Ken, begitu menginspirasi.
Video itu karya Stephen Covey, 
Judulnya 90-10 Principle. 
Sebuah stimulus yang menggiurkan adalah adanya catatan seperti ini:
Konsep ini akan merubah hidup Anda, 
(atau sekurang-kurangnya cara Anda bereaksi pada situasi).

Prinsip 90-10 adalah…


 




10 % dalam hidup adalah apa yang terjadi pada diri kita.
Namun… 90% lainnya dari hidup kita, diputuskan atas bagaimana kita bereaksi.

Artinya...
Kita benar-benar tidak punya kontrol atas yang 10% yang terjadi pada kita
Kita tidak dapat menghindari adanya kecelakaan, kesewenangan orang lain memotong jalan kita, pesawat terlambat, hujan, gempa, yang membuat rencana kita menjadi kacau.
Kita tidak punya kontrol atas hal itu!







Sementara yang 90%, berbeda.
Kita menentukan perjalanan selanjutnya, melalui reaksi kita!
Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, namun kita dapat mengontrol reaksi kita
Kita tidak dapat mengontrol orang lain untuk tidak membodohi kita, 
Namun kita dapat mengontrol reaksi kita.


Stephen lalu memberi contoh. 




 

Bayangkan situasi ini....
Anda seorang ayah.
Ketika sedang sarapan, seorang anak menyenggol cangkir kopi dan jatuh ke jas kerja Anda
Anda tidak memiliki kontrol atas apa yang terjadi.
Namun apa yang terjadi selanjutnya, ditentukan oleh bagaimana Anda bereaksi.

Anda bisa memarahi anak Anda, lalu dia menangis





 



Kemudian Anda mengomeli isteri Anda
Mengkritiknya karena tidak becus meletakkan cangkir disisi meja. 
Ada keributan.

Anda keatas, ganti baju. 
Ketika turun, anak Anda masih menangis. 
Sarapan belum selesai, jemputan sekolah yang telah datang, 
Karena  sang supir, tidak mau menunggu, akhirnya ditinggal.

Istri Anda perlu segera kekantor, 
Andalah yang harus mengantar anak.



 

Karena khawatir terlambat, Anda memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi 
diatas rata-rata. Polisi menghentikan dan menilang!

Setiba di sekolah, anak Anda meninggalkan mobil dengan cemberut.
Berlari kegerbang sekolah tanpa pamit.

Setiba dikantor, Anda menyadari kalau tas kerja Anda tertinggal
Hari itu sangat menyebalkan !
Selanjutnya makin buruk dan memburuk. 

Rasanya ingin segera kembali ke rumah.
Sepulang kerumah, ada jarak terasa pada hubungan dengan isteri dan anaknya.




Mengapa?
Karena kopi?
Karena anak
Karena polisi?
Atau karena reaksinya sendiri?



Bayangkan reaksi berbeda.

Kopi terciprat ke baju.
Anak mulai akan menangis
Lalu Anda bilang
”Gak apa-apa, sayang... lain kali hati-hati ya...”


Anda keatas untuk ganti baju
Melihat ke  jendela ketika ada mobil jemputan,
Lalu melambaikan tangan ke anak yang akan kesekolah

Datang kekantor lebih cepat 5 menit, 
Bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan.



Pandangan Stephen mencerahkan.  
Saya belajar banyak dari ilustrasi tadi.
Terutama bagaimana bereaksi pada situasi yang terjadi. 

Salah satu makna yang saya peroleh adalah

”Berpikir positif”.


 

Thursday, December 24, 2009

Merevitalisasi Pilihan Media di Masyarakat Individualis dan Kolektifis (Komunikasi Antarbudaya)



 



Merevitalisasi Pilihan Media
di Masyarakat Individualis dan Kolektifis

oleh: Leila Mona Ganiem

Disampaikan dalam Konferensi Internasional Antropologi, 2008
Tema:  Mass Media and Revitalizing of Traditional Media in the Post Capitalist Era)









Jaman diawal sejarah manusia, kehidupan masih sangat kolektif.
Unit kesatuannya adalah grup seperti keluarga, klan dan suku.
Bila suplai makanan yang ada di hutan, pegunungan atau gurun, habis, orang pindah kedaerah lain.
Berburu, berkumpul dan saling berbagi sumber daya dengan suku adalah kegiatan mereka.

Menurut Uichol Kim (1994),
kepindahan suatu suku ketempat lain membutuhkan keahlian tertentu untuk beradaptasi.
Terbatasnya jumlah makanan, membuat mereka perlu tegas, otonom, berorientasi pada perolehan dan mengandalkan kemampuan diri.


Mereka berangsur individualis.

 


Disisi lain, komunitas yang menetap (mereka memiliki cukup makanan dari bertani dan beternak),
cenderung saling membantu, rela, patuh, bertanggung jawab satu sama lain dan konservatif.

Nilai-nilai kolektifis tersebut dikembangkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Namun demikian, tidak dapat dihindari,
perubahan di Eropa Barat sejak abad ke enam belas berubah secara drastis.
Beragam faktor seperti perdagangan internasional, kemunculan negara, adanya kelas pedagang, perkembangan yang cepat pada ilmu pengetahuan dan teknologi, meningkatnya efisiensi pertanian, industrialisasi, urbanisasi dan kemunculan kapitalisme, membuat manusia makin memiliki kontrol pada lingkungan.


 


Gaya hidup dilingkungan industri menjadi berbeda dengan dilingkungan pertanian.
Hubungan dilingkungan pertanian masih berdasarkan kerjasama kolektif dan kepercayaan.
Mereka hidup dan bekerja bersama-sama.
Dilingkungan industri, kumpulannya adalah orang yang saling asing satu sama lain.
Hubungannya tidak panjang, melainkan berdasarkan kepentingan.
Supply and demand. (Tonnies, 1887/1957; Uichom Kim, 1994).

Ilmuwan yang cukup aktif dalam riset mengenai budaya individualis dan kolektifis
pada berbagai negara adalah Hofstede.
Awalnya riset Hofstede kuat dalam kerangka komunikasi organisasi (IBM).
Risetnya untuk mengetahui budaya organisasi IBM yang tampaknya berbeda antara negara satu dengan negara lain. Dia melakukan riset pada 50 negara, pada tahun 1980.
Banyak ilmuwan lain yang menggunakan alat ukur Hofstede mengkonfirmasi dimensi budaya yang dikembangkan oleh Hofstede ini.
Tahun 2003, Hofstede (2005) mengulang risetnya di 74 negara dan hasilnya cenderung sama.
Hal ini menunjukkan bahwa dimensi individualis dan kolektifis masih cukup valid dan relatif sejalan dengan masyarakat di negara-negara yang diteliti.

Menurut Hofstede, dalam budaya yang berorientasi pada keindividualisan, diri menjadi unit sentral dari masyarakat.
Konsekuensinya, hak individual, berkaitan dengan diri sendiri dan keluarga inti.
Otonomi diri dan kemampuan meraih sesuatu menjadi penting.
Pada budaya individualis, individu dipercaya sebagai akhir dari seseorang.
Orang Individualis cenderung memperhatikan pada diri sendiri
dibandingkan pada masyarakat dimana orang tersebut berada.

 


Keluarga individualis biasanya terdiri dari ibu, ayah, kakak, adik saja.
Keluarga lainnya jarang terlihat.
Anak dari keluarga seperti ini, ketika tumbuh, segera belajar untuk melihat dirinya sebagai ‘saya’.
Tujuan pendidikan adalah untuk membuat anak menjadi mandiri atau berdiri di atas kakinya sendiri.
Anak diharapkan meninggalkan rumah orang tuanya segera setelah mereka mampu.


 


Pada budaya kolektifis, kelompok merupakan unit sentral dari masyarakat. Mereka terikat secara tujuan, keperluan dan nasib individu. Dengan demikian, tugas dan kewajiban pada kelompok, saling ketergantungan pada individu lain dalam kelompok dan pemenuhan peran sosial menjadi penting.

Di budaya kolektifis, ‘keluarga’  terdiri dari sejumlah orang yang tinggal bersama.
Bukan hanya orang tua dan anak-anaknya, namun juga nenek kakek, paman, bibi, pembantu dan saudara lainnya.
Anak diajak belajar untuk berfikir bahwa mereka adalah bagian dari kelompok ‘kita’.
Hubungan bukan fakultatif atau sukarela melainkan ada secara alami.
Antara orang dengan kelompoknya ada ketergantungan mutual yang berkembang
pada tataran praktis dan psikologis.

Pada kelompok kolektifis, pendapat pribadi tidak ada.
Hal  yang mendapat tempat adalah pendapat kelompok.
Bila ada isu baru yang muncul dan belum ada pendapat kelompok yang sudah terbina,
biasanya diadakan konferensi sebelum pendapat diberikan.
Keloyalan pada kelompok merupakan elemen penting bagi kelompok kolektifis.
Acara keluarga seperti pengajian, sunatan, perkawinan, pemakaman dll adalah penting dan seharusnya tidak dilewatkan. Media yang menyertakan kegiatan mengumpul merupakan hal yang penting.

Negara seperti Amerika, Australia, Inggris, Kanada, Hungaria, Belanda, Selandia Baru, Italia, Denmark, Perancis, Swedia, Norwegia, Jerman, dan beberapa negara lainnya cenderung individualis. Negara seperti Guatemala, Ekuador, Venezuela, Pakistan, Indonesia, Peru, Taiwan, Korea, Afrika Barat, Vietnam, Thailand, Singapura, China, dan beberapa negara lainnya cenderung kolektifis.


Media Tradisional

Menurut Coseteng dan Nemenzo (Jahi, 1988), media tradisional adalah bentuk-bentuk verbal, gerakan, lisan dan visual yang dikenal atau diakrabi rakyat, diterima oleh mereka, dan diperdengarkan atau dipertunjukkan oleh dan/atau untuk mereka.

Tujuannya adalah untuk menghibur, menjelaskan, mengajar, dan mendidik.
Media rakyat dapat tampil dalam bentuk nyayian rakyat, tarian rakyat, musik instrumental rakyat, drama rakyat, pidato rakyat- yaitu semua kesenian rakyat apakah berupa produk sastra, visual ataupun pertunjukkan- yang diteruskan dari generasi ke generasi (Clavel dalam Jahi, 1988).

Dalam tulisan ini, saya menganalisa adanya perbedaan antara media yang cenderung muncul di negara individualis dan kolektifis.

Media tradisional yang juga dikenal juga sebagai media rakyat atau kerap juga disebut sebagai folklor. Bentuk-bentuk folklor tersebut antara lain: cerita prosa rakyat (mite, legenda, dongeng); ungkapan rakyat (peribahasa, pemeo, pepatah); puisi rakyat; nyayian rakyat; teater rakyat; gerak isyarat (memicingkan mata tanda cinta); alat pengingat (mengirim sisrih berarti meminang); dan alat bunyi-bunyian (kentongan, gong, bedug dan lain-lain).

Dari aktualitasinya, ada seni tradisional seperti wayang purwa, wayang golek, ludruk, kethoprak, dan sebagainya.

Media tradisional yang ada tampaknya memiliki kebedaan bentuk antara negara inidivudualis dan kolektifis. Dinegara kolektifis, media tradisionalnya cenderung komunal. Misalnya tari Kecak dari Bali, tari Saman dari Aceh, penarinya banyak dan mengikuti irama secara kolektif. Mereka menonton bersama terutama dalam konteks pemujaan atau kegiatan eksklusif internal dalam komunitasnya.

Di negara individualis, media tradisionalnya cenderung Individual. Misalnya dansa.
Pedansa yang merasa mampu atau berminat berdansa, akan masuk ke medan dansa dan mengajak pasangannya.
 


Sementara dalam suatu tarian dibudaya kolektifis, meski mereka tidak harus selalu berlatih secara bersama dalam suatu waktu tertentu (umumnya berlatih bersama),
namun ada aturan gerak yang disepakati sebagai arahan untuk melaksanakan tarian tadi.
Memang tidak dapat dihindari bahwa tari-tarian rakyat di negara Individualis banyak juga yang komunal, karena seperti dijelaskan diatas, masyarakat umumnya hidup dalam tatanan kolektifis.

 


Berkaitan dengan penggunaan media pada negara Individualis, penggunaan media dapat mengarah pada aktifitas
yang mendukung kenyamanan pribadi dan keotonomian diri.
Kebebasan berekspresi dan beropini umumnya dihargai dan dikembangkan.
Kemunculan media massa seperti Media cetak, radio, televisi, film, internet umumnya berawal dari negara individualis.

Surat kabar pertama kali dibuat di Amerika Serikat, dengan nama “Public Occurrenses Both Foreign and Domestick” di tahun 1690. Saat ini ada sekitar 60.000 surat kabar didunia dan sepertiganya ada di Amerika (Heritage Speakers Series, 1998).
 Fisikawan Jerman Heinrich Hertz, tahun 1888 pertama kali mengirim dan menerima gelombang radio pertama. Film dibuat pertama kali di tahun 1888 oleh Thomas Edison di Amerika. Penemu tube iconoscope yang merupakan mesin dari televisi adalah Zworykin, 1923. Zworykin adalah seorang Rusia, namun televisi selanjutnya makin berkembang di Inggris (1935) dan Amerika (1939). Komputer ditemukan oleh Charles Babbage tahun 1822. Babbage adalah seorang profesor matematika dari Inggris. (Straubhaar, LaRose, 2000).

Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi banyak pergeseran pada masyarakat kolektifis terutama diperkotaan, menjadi kian individualis.
Alasannya, menurut Goodwin, (1999, h. 115)

pertama, tren modernisasi telah merubah struktur tradisi yang berpola hubungan sosial berdasarkan respek pada yang telah tua, berangsur menurun.
Hal ini terjadi karena perkembangan faham sekaligus penolakan atas konservatisme
dan gaya autoritarian yang diterapkan saat masa asuh seseorang.

Alasan kedua, penyebaran gaya pendidikan Barat yang mendorong anak muda menghabiskan pendapatannya sendiri dan pada keluarga utamanya saja, kian diterima dan diterapkan terutama pada generasi muda.

Ketiga, penyebaran orientasi pasar menyebabkan perubahan pada hubungan keluarga besar (extended family) menjadi hubungan baru yang mengacu pada keuntungan ekonomis. Makin pentingnya hubungan keluarga, makin mengecilnya keluarga itu sendiri.

Pendapat lain yang mengkonfirmasi adanya pergeseran pada masyarakat kolektifis menjadi makin individualis dinyatakan oleh Camilleri, Malevska-Peyre, 1997, h.43-54).
Menurutnya, pertama, peran sosial semakin terbuka pada variasi individual.

Kedua, individual diberi kesempatan luas untuk secara mandiri memilih kelompok yang mereka ingin bergabung, dibandingkan dipilihkan untuk bergabung dengan mereka.

Beberapa riset mengenai perubahan itu dapat dilihat dari riset terhadap keluarga China (Goodwin, 1999), keluarga India (Sinha, Tripathy, 1994), Turki (Kagitcibasi, 1994), Georgia (Lia Tsuladze, 2000).

Dengan perubahan pada budaya masyarakat, pilihan media tradisional juga tampaknya makin berubah. Saat ini misalnya, banyak anak-anak sekolah atau mahasiswa tidak banyak yang memilih tarian atau wayang sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Mereka bahkan tidak paham apa kehebatan tokoh Arjuna, Semar atau tokoh lainnya. Mereka juga memilih menonton film atau musik dan penyanyi favoritnya dibandingkan Ludruk. Sebuah riset menyimpulkan bahwa ketika media komputer memasuki rumah, pola konsumsi media massa cenderung berubah. Studi oleh Miller & Clemente (1997) menyimpulkan bahwa sepertiga pengguna internet menghabiskan lebih sedikit waktu untuk menonton televisi daripada yang mereka lakukan sebelumnya

Mengapa Media Tradisional Penting?
Media membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari. Hal itu terjadi secara perlahan namun cukup efektif. Menurut William Boscon (Adi Prakosa, 2008) mengemukakan fungsi-fungsi pokok folklor sebagai media tradisional adalah sebagai berikut:

1. Sebagai sistem proyeksi. Folklor menjadi proyeksi angan-angan atau impian rakyat jelata, atau sebagai alat pemuasan impian (wish fulfilment) masyarakat yang termanifestasikan dalam bentuk stereotipe dongeng. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini hanya rekaan tentang angan-angan seorang gadis desa yang jujur, lugu, menerima apa adanya meskipun diperlakukan buruk oleh saudara dan ibu tirinya, namun pada akhirnya berhasil menikah dengan seorang raja, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.

2. Sebagai penguat adat. Cerita Nyi Roro Kidul di daerah Yogyakarta dapat menguatkan adat (bahkan kekuasaan) raja Mataram. Seseorang harus dihormati karena mempunyai kekuatan luar biasa yang ditunjukkan dari kemapuannya memperistri ”makhluk halus”. Rakyat tidak boleh menentang raja, sebaliknya rasa hormat rakyat pada pemimpinnya harus dipelihara. Cerita ini masih diyakini masyarakat, terlihat ketika masyarakat terlibat upacara labuhan (sesaji kepada makhluk halus) di Pantai Parang Kusumo.

3. Sebagai alat pendidik. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.

4. Sebagai alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi. Cerita ”katak yang congkak” dapat dimaknai sebai alat pemaksa dan pengendalian sosial terhadap norma dan nilai masyarakat. Cerita ini menyindir kepada orang yang banyak bicara namun sedikit kerja.

Jadi media memang berfungsi banyak, sebagai alat untuk meningkatkan kepercayaan diri atau menurunkan kepercayaan diri. Selain itu sebagai transfer budaya dan sosialisasi serta pendidikan yang memiliki nilai hiburan, serta fungsi-fungsi lainnya. Media memang cukup ampuh membuat orang merasa senang akan diri mereka, merasa cukup, atau merasa rendah dari yang lain .

Apa yang perlu dilakukan untuk merevitalisasi:
Apa yang perlu kita lakukan untuk merevitalisasi penggunaan media tradisional ditengah desakan kuat modernitas? Segala upaya yang diambil sebaiknya memahami pola hidup atau budaya masyarakat yang ada saat ini. Seperti yang dijelaskan diatas, masyarakat budaya kolektifis kini, terutama di perkotaan, menjadi kian individualis.

Pada tulisan ini, saya akan memfokuskan pada konteks Indonesia. Sesungguhnya telah ada upaya-upaya individu yang memiliki kepekaan sosial terhadap masalah ini. Salah satunya seorang guru bernama Parman (Republika Online, 16 Juli 2004) mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dengan wayang, kepada anak didiknya di SLTP Negeri 3 Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah dengan wayang. Model pembelajaran ini dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa secara signifikan terutama berkaitan dengan pelajaran budi pekerti, kepahlawanan, patriotik, persaudaraan, dan lain-lain nilai kemanusiaan. Selain itu juga sekaligus mengajarkan kecintaan akan budaya tanah air.

Contoh baik lain yang dilakukan secara kolektif oleh institusional adalah kegiatan yang digagas Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Yogyakarta. Media tradisional terdiri dari berbagai macam kesenian tradisional yang juga berasal dari suatu wilayah di Indonesia. Forum ini secara aktif mendorong untuk menghidupkan dan membentuk kembali media tradisional yang berdasarkan kekayaan seni tradisional di masing-masing daerah. (Kompas, 16 Mei 2006).

Selain dari gagasan diatas, ada beberapa upaya aktif lain yang dapat kita dilakukan untuk merevitalisasi media tradisional ini.

Pertama, seiring dengan makin maraknya media massa yang hadir dalam konteks individualis, seperti internet, maka sebaiknya ada sinergi kolektif yang kita lakukan dengan memanfaatkan media tersebut. Jika kesenian tradisional seperti wayang, tarian dll dimasukkan di internet, diharapkan akses untuk melihat kesenian Indonesia makin terbuka bagi orang Indonesia maupun lainnya. Pemanfaatan media lainnya televisi, film, radio dll, juga perlu dioptimalkan untuk menjangkau masyarakat yang kian individualis.

Kedua, kegiatan seperti Forum untuk mensosialisasikan media tradisional sebaiknya dioptimalkan ditiap daerah. Tugas forum ini adalah untuk menghidupkan kembali media tradisional yang dulu jaya, serta mengembangkannya.

Ketiga, Pemerintah, tokoh masyarakat, dan industri, diharapkan dapat secara aktif mengajak masyarakat untuk melestarikan media tradisional. Seperi Batik. Himbauan pemerintah, kerjasama desainer, industri batik dan media, membuat orang Indonesia makin bangga dan senang mengenakan batik Contoh lain yang dapat mewakili adalah pada negara New Zealand. Penduduk asli negara itu adalah orang Maori. Jumlahnya sekitar 25% saja dari seluruh masyarakat. 75% lainnya berasal dari negara Eropa yang migrasi sejak dulu. Ketika ada pertandingan sepak bola, team sepakbola New Zealand (dominan dari orang migrasi Eropa) menampilkan tarian suku Maori. Dengan demikian publik luas dapat melihat kekhasan asli lokal, meskipun kelompok minoritas dari jumlahnya.

Berkaitan dengan ajakan tadi, aktifitas yang mungkin dapat dimanfaatkan adalah dengan memanfaatkan momen berkumpul seperti acara perkawinan, sunatan, lomba, pertandingan atau kegiatan kumpul lainnya dengan menampilkan kesenian tradisional kita. Selain memperluas kesempatan tenaga kerja, program tersebut juga dapat meningkatkan minat dan kebanggaan pada budaya sendiri. Industri dan media juga perlu diajak kerjasama secara serius untuk memanfaatkan marketing atau advertisingnya menggunakan budaya lokal.

Keempat, Pemain pada budaya tradisional juga perlu mengembangkan diri, Penyesuaian pada keinginan masyarakat sebaiknya dioptimalkan. Seperti Batik tadi, variasi model pakaian batik, tidak hanya dikenakan dengan model asli seperti untuk kebaya, atau pakaian informal perkawinan/acara khusus. Dengan demikian, kebanggaan dan kebebasan berekspresi individu dapat disalurkan. Pada konteks ini, misalnya penari dapat menampilkan diri dengan cara menarik dan dapat berpindah peran dengan baik misalnya ketika menjadi penari dan profesi atau aktifitas lainnya. Dengan demikian tidak ada kesan, penari tradisional pastinya akan berbatik dan berkonde saja, tidak dapat tampil dalam kehidupan modern.

Diharapkan dengan upaya-upaya diatas, dan kerjasama kolektif antara pemerintah, industri, akademisi dan masyarakat, revitalisasi media tradisional dapat dioptimalkan di negara tercinta ini.


Daftar Pustaka
Hoecklin, Lisa. (1995). Managing Cultural Differences: Strategies for Competitive Advantage. Addison-Wesley Publishing Company.
Hofstede, Geert, Gert Jan Hofstede. (2005). Cultures and Organizations: Software of the Mind. New York: McGraw-Hill.
Holliday, Adrian., Hyde, Martin., Kullman, John. (2004). Intercultural Communication: an Advanced Resource Book. London: Routledge.
Kim Uichol; Triandis, Harry; Kagitcibasi, Cigdem; Choi, Chin-Sang; Yoon, Gene, (1994) Individualism and Collectivism, Sage, USA
Kaplan, David., & Manners, A. Robert. (2002). The Theory of Culture. Terjemahan. Pustaka Pelajar Offset.
Neuliep, W. James. (2006). Intercultural Communication: A Contextual Approach. California: Sage Publications
Gudykunst, William B., & Kim, Young Yun. (1997). Communicating with Strangers. Third edition. New York: McGraw-Hill.
Holliday, Adrian., Hyde, Martin., Kullman, John. (2004). Intercultural Communication: an Advanced Resource Book. London: Routledge.
Straubhaar & La Rose (2000). Media Now: Communications Media in the Information Age, Second edition, Wadsworth, a division of Thomson Learning
Kesenian Rakyat Digagas Forum Komunikasi Media Tradisional, Kompas, 16 Mei 2006.
http://www.rocw.raifoundation.org/masscommunication/BAMC/Developmentsupportcommunication/lecture-notes/lecture-17.pdf.
Artikel dari Kim Allen Bozark, MEDIA AND CULTURE: Media and Culture as Manifest in Male Individualism
Adi Prakosa, Media Tradisional, (2008), Blog
Lia Tsuladze (2003), Individualist Trends in Collectivist Societies. Tbilisi State University, Georgia

Kagitcibasi C. (1994). A critical Appraisal of Individualism and Collectivism –
Toward a New Formulation. Individualism & Collectivism. London: SAGE Publications.

Triandis H. C. (1995). Individualism and Collectivism. Oxford: Oxford University
Press.
Mengajarkan PPKn Melalui Cerita Wayang, Republika Online, 16 Juli 2004,

Bagi Pahlawan Kesehatan