Sunday, May 08, 2011

Kematian Bahasa (Analisa Komunikasi Antarbudaya)




Oleh: Leila Mona Ganiem
Dari buku:   Beda itu Berkah, 2010

"I used to think that anyone doing
something weird was weird.
Now I know that it is the people who call
others weird who are weird."
Paul McCartney






Hari itu ada acara reunian teman kuliah dulu.
Sambil makan, obrolan sana-sini kian seru. Tiba-tiba telepon Anto berdering.
Dengan badan agak dimiringkan dan menutup handphone dengan tangan,
omongan Anto masih bisa kami dengar.

Semua percakapan berbahasa Jawa.
Kasak-kusuk diantara kami, terkagum-kagum.
Sseorang boss seperti Anto masih bisa berbicara dalam bahasa Jawa dengan luwes.
 

Bahasan bergeser seputar bahasa.
”Yang luar biasa dari Anto, orang Jawa yang sudah lama tinggal di Jakarta
masih ngomong bahasa Jawa!” kata Mira.

Dari 22 orang yang hadir, 8 orang Jawa, tapi umumnya mereka mengerti bahasa Jawa
hanya dipermukaan saja.
Untuk bicara dengan undak usuk bahasa, saya agak ragu kalau mereka bisa.

Pasalnya dulu, pernah saya tanya arti suatu tulisan bertatakrama halus,
tak ada seorangpun yang bisa mengartikannya, kecuali Anto.

”Kenapa kita ngak bisa bahasa daerah?” kata Sam.
Diskusi makin hangat.

 

Sambil angkat siku ke meja dan menyangga tangannya, Ani berkomentar,
”Iya, ya, banyak orang menganggap bahasa daerah itu kuno. Cuma dipake oleh orang miskin dan tidak berpendidikan. Parahnya, ada yang berfikir, bahasa bisa menghalangi orang berhasil dalam hidup”

Lalu Sam bercerita ketika dia dibusway ngobrol dengan temannya berbahasa Jawa,
orang disebelahnya tertawa. ”Saya ngak tahu, alasan dia ketawa. Geli? aneh? lucu? mengejek? saya tidak tahu. Tapi saya berfikir, hmm... pantesan aja bahasa daerah kian punah".




”Aneh, emangnya kenapa sampai bisa bahasa menghalangi keberhasilan hidup?”
Yandi angkat bicara.
”Harusnya ngak, tapi ternyata kalau orang berbicara dengan logat tertentu,
atau kerap bicara dengan bahasa daerah tertentu, tingkat ’kekerenannya’ menurun” jawab Ani sambil menambahkan gaya menulis tanda petik dikata ’kekerenannya’.


"Bayangkan! Didunia ini ada 7000 bahasa.
700 nya ada di Indonesia! Dan, 70 bahasa atau sekitar 1% dari seluruh bahasa di dunia, ada di NTT.
Jadi Indonesia ini kaya.



 

 Tapi coba kita tanya, berapa bahasa yang kita ketahui?
umumnya menjawab kurang dari hitungan jari-jari satu tangan.
Dominannya satu atau dua bahasa saja.
 Dan kalau banyak dari kita berfikiran, bahwa bahasa daerah bisa menghalangi keberhasilan hidup kita, bakal banyak bahasa yang punah nih...” celetuk cerdas Ira yang dari tadi kelihatan sibuk dengan sms-nya.

”Iya, ya, benar juga” kata Sam, merenung seolah bicara dengan dirinya sendiri.




”Anggapan negatif pada bahasa daerah berakibat negatif.
Kita mungkin berkonstribusi dengan meniadakan bahasa daerah hingga anak kita hanya bisa berbahasa Indonesia.
Malah kita mendesak-desak anak untuk kursus bahasa Inggris agar mampu bersaing kedepan.
Bisa juga benar, tapi kan kita yang bikin bahasa daerah kita lumpuh,
dan ngak penting. Kalau anak kita ngak pakai bahasa itu, berarti anak dari anak kita juga nggak akan pakai bahasa itu ” kata Ira dengan wajah serius.

Reni menimpali. ”Wah, hebat nih, Ira jadi kritikus keren, gayanya udah kayak Pak Purnomo dosen Kewiraan kita dulu.....” Semuanya tertawa.

 


Anita, yang bersuku Sunda, ikut menambahkan bahasan seru ini,
”Sekedar perenungan, ya…. Kita lagi kumpul di Mekar Sari, Cileungsi,
tapi dari tadi jarang sekali kita dengar orang bicara bahasa Sunda.
Padahal ini wilayah Sunda.
Kalau kita ke Bandungpun, disekolah-sekolah, mall, bioskop, terminal, kompleks-kompleks perumahan, kantor, anak-anak kecilnya, orang dewasa, sudah makin jarang terdengar mereka menggunakan bahasa Sunda. Padahal kemungkinan besar, pastilah mayoritas mereka adalah etnis sunda.
Kalau dikota besarnya saja bahasa Sunda sudah mulai ditinggalkan penggunanya,
tidak lama lagi, orang kenal bahasa Sunda sebagai "bahasa gunung", begitu kata Anita.

 


Togar, yang duduk disudut sambil bersandar di dinding, urun rembug tentang bahasanya.
 ”Iya juga, ya, mungkin sekali bahasa Batak bisa punah.
Ini cuma masalah waktu saja. Ironisnya, yang bikin punah ya orang Batak juga.
Coba bayangkan, orang tua sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi.
Orang tua saya misalnya, sudah kurang fasih, paling mengerti kalau orang bicara.
Kalau orang tua saya cuma ngerti, apalagi saya…..?
jadi bahasa punah kalau rumah pemilik bahasa tidak lagi pakai bahasanya, toh?
 Tahu nggak, kalau orang bertanya pada anak saya,
Aha Margam? Ise Goarmu? Nggak ada yang bisa jawab.
Tapi kalau orang tanya “Kamu orang apa?” anak saya bilang dengan mantap
”’Orang Batak” hahaha.” Togarpun tertawa.

Saya baru sadar, tidak ada ’rasa’ dialek Batak diucapan Togar.

Orang akan menyangka dia orang Batak, setelah kenal namanya atau memperhatikan sosok tubuhnya. Untungnya rasa bangga sebagai orang Batak masih kuat pada Togar.
Jadi slogan, ”Proud to be Batak” memang sering didengung-dengungkan Togar.

 


hanya dia tidak bisa bahasa Batak, bahkan mengungkapkan rasa bangga sebagai orang Batakpun, dalam bahasa Inggris.

”Gar, jadi satu-satunya kalimat yang kamu bisa bilang dalam bahasa batak adalah
”saya tidak bisa bahasa Batak” kata Romi sambil tertawa mengejek Togar.

”Saya ingat, dulu, kalau liburan, pernah orang tua saya kirim saya ke Medan,
supaya bisa berbahasa Batak, katanya. Tapi pas di Medan,
 tulang saya bilang keanak-anak lain, “Pake bahasa Indonesia saja, biar Togar ngerti.”
 Jadi kapan saya ngertinya. Sekarang, isteri saya bilang, “Hare gini … anak anak diajari Bahasa Batak?”. Kata Togar berapi-api. Saya maklum, Niken, isteri Togar adalah orang Jawa.




Saya jadi ingat ketika kecil, ayah saya kerap bicara bahasa Arab
dengan teman-teman atau kerabatnya.
Tapi sampai kini, saya dan saudara-saudara menggunakan istilah bahasa Arab
hanya untuk bahan celetukan dan humor segar ketika kumpul dengan keluarga besar.
Tak ada satu kalimatpun yang berhasil dirangkai dengan manis.
 

Sayapun merasa sangat menyesal karena ketika berada di Pakistan lebih dari tiga tahun,
saya tidak bersungguh-sungguh belajar bahasa Urdu.
Waktu itu, saya dan teman-teman umumnya berkeyakinan,
bahwa bahasa Urdu tidak terlalu bermanfaat.

Dalam suatu tulisan seorang kritikus ekonomi politik, Jean Baudrillard, (1981) mengatakan
bahwa monopoli sebenarnya bukan pada alat teknis, melainkan pada ucapan.

Jurgen Habermas (1967) juga mengingatkan bahwa bahasa adalah alat dominasi dan kekuasaan. Bahasa yang tertumpah dalam pemikiran, cenderung diabaikan logikanya
dengan penggembosan bahasa itu sendiri oleh pemiliknya.
Banyak orang merasa lebih keren dan hebat dengan bahasa yang dimiliki orang lain,
daripada bahasanya sendiri.
 


Kematian bahasa juga dapat terjadi karena adanya modifikasi.
Termasuk saya yang kerap mencampur bahasa dalam keseharian.
Dosen bahasa Inggris saya dulu pernah bilang,
”Kalau bahasa Indonesianya tidak bagus, lalu bahasa Inggrisnya juga tidak bagus, maka kemungkinan penggunaannya akan bercampur.

Sebaliknya, orang yang fasih dalam bahasa Indonesia dan fasih ketika berbicara bahasa Inggris,
berarti kemampuan dua bahasa orang tersebut adalah sempurna”



Sesungguhnya, saya dan teman-teman diam-diam mengagumi pilihan sikap Anto.
Kemampuan bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan terutama bahasa Jawa
yang diucapkan Anto dengan luwes dan benar,
sesungguhnya menempatkan sendiri kualitas diri Anto.

Sama sekali diantara kami tidak ada yang merasa Anto ’kampungan’ atau ’udik’ dengan bahasanya.
Bahkan sosok yang mengagumkan.

Seorang muda yang maju, berwawasan luas, sukses, dan merakyat.
Menghargai budaya nenek moyang.
Memahami dan melestarikan identitasnya.

 Kami makin terkagum-kagum dengan ucapan Anto yang begitu rendah hati,
”Tahu ngak, bahasa daerah itu bisa memberi dasar yang kuat untuk kita bisa tumbuh dan menjelajahi dunia”

.... Oh Anto.....Indahnya dirimu...

No comments: